Penerapan Prinsip Dikotomi STOA: Solusi Hidup Lebih Damai dan Tenang

Pernah gak bisa buat gak mikirin pendapat orang lain? Aku pernah. Mau posting wajah masih mikir-mikir, takut kalau mereka bilang “sok cantik, pasang muka mulu di story”, mau posting kata-kata motivasi takut di bilang sok bijak, mau posting kata-kata puitis takut di bilang sok puitis, mau posting kata-kata sedih takut di bilang si paling menderita, dan lain sebagainya.

Akhirnya seseorang datang dan bilang: “Kamu mau posting apa aja ya terserahmu, kalau mereka gak suka ya biar mereka nge-skip. Gak usah pikirin pendapat buruk mereka tentangmu selagi dalam postinganmu tidak ada unsur menyakiti siapapun” katanya.

Dan barusan aku tahu, ternyata nasihat tadi termasuk dalam prinsip Dikotomi Kendali dalam ajaran filsuf Yunani, yaitu Stoisisme. Stoisisme merupakan sebuah filosofi yang berkaitan dengan kebahagiaan hidup dan bagaimana menghindari pikiran-pikiran stres dan jenuh. Ilmu yang satu ini mengajarkan kepada kita tentang bagaimana kebahagiaan seseorang itu bersumber dari hal-hal yang bisa kita kendalikan. Jadi untuk meraih kebahagiaan yang dimaksud, kita perlu memfokuskan diri kepada apapun yang bisa kita kendalikan.

Jadi, menurut ajaran dalam filosofi stoa, hal-hal yang terjadi dalam hidup kita itu terbagi menjadi dua dimensi, yaitu dimensi internal dan dimensi eksternal. Dimensi internal adalah hal-hal yang bisa kita kendalikan dan dimensi eksternal adalah hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Emang apa saja sih yang termasuk dimensi internal dan dimensi eksternal?

Contoh dimensi internal antara lain: persepsi kita, tujuan kita, keinginan kita dan pikiran kita. Sedangkan contoh dari dimensi eksternal adalah opini orang lain, kekayaan kita, reputasi kita, tindakan orang lain, kesehatan kita.

What? Emang kekayaan termasuk hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan? Bukankah kekayaan datang dari kerja keras dan ide-ide brilian kita?

Oke, dalam hal ini kita perlu memahami apa makna ‘kendali’. Jadi, makna kendali di sini bukan hanya kemampuan kita ‘memperoleh’ tetapi juga kemampuan kita untuk ‘mempertahankan’. Kita bisa mendapatkan kekayaan dengan usaha-usaha kita, tapi apakah kita bisa terus mempertahankan agar kekayaan selalu menempel dalam kehidupan kita? Tidak bisa. Kekayaan bisa saja hilang dari hidup kita.

Jadi, dalam hidup, janganlah kita menggantungkan kebahagian atas apa yang ada di luar kendali kita. Kalau kita terus-terusan menggantungkan kebahagiaan kita atas sesuatu yang bukan di bawah kendali kita, bukankah kalau suatu saat nanti sesuatu itu lenyap kita akan merasa jatuh dan sedih yang mendalam?

Filsuf stoa mengambil pendekatan yang sangat logis, “ngapain lo bahagia di atas sesuatu yang bisa hilang?”

Dengan menerapkan prinsip Dikotomi Stoa jika suatu saat nanti reputasi, kekayaan, teman, pekerjaan tidak lagi membersamai kita, kita akan tetap bahagia.

***

Jadi, Konsep dikotomi kendali sederhananya mengajarkan kepada kita untuk tak ambil pusing atas sesuatu yang ada di luar kendali kita. Opini orang lain salah satu contoh kecilnya. Kita tidak perlu memperhatikan opini orang lain atas kita. Mengapa demikian? Karena opini orang lain bukan hal yang ada di bawah kendali kita.

Lalu, haruskah kita cuek bebek terhadap diri kita?

No, sebisa mungkin kita harus menampilkan atau melakukan apa yang terbaik. Kita harus fokus kepada apa yang bisa kita kendalikan. Kita tidak perlu menghiraukan tanggapan negatif ketika kita sudah melakukan yang terbaik dan dalam perbuatan kita tidak ada unsur menyakiti siapapun.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Dina Surya Mega 1 Article
Seorang Mahasiswi yang ingin memperdalam dunia kepenulisan

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.