Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Pengaruh Ibrahim al Kurani Terhadap Islam di Indonesia

Hamdani Mubarok 3 min read 36 views

Ibrahim al Kurani memang tidak pernah secara langsung datang dan menetap di Indonesia, meski begitu, bukan berarti al Kurani tidak memiliki pengaruh terhadap praktik keislaman di Indonesia.

Pengaruh al Kurani terhadap Islam di Indonesia setidaknya bisa dilacak dari dua hal. Pertama, dari santri-santri al Kurani yang berasal dari Indonesia. Hal ini bisa dilacak dari sanad keilmuan yang mencantum nama al Kurani dalam mata rantai keilmuan ulama-ulama Nusantara. Kedua, dari kitab karya al Kurani yang dikarang khusus untuk umat Islam di Indonesia, atau yang diajarkan di Indonesia.

Pertama, dilihat dari santri-santri al Kurani yang berasal, maupun berkiprah di Indonesia. Saya yakin, al Kurani memiliki banyak santri yang berkiprah di Indonesia. meskipun kemudian yang terdokumentasikan oleh sejarah hanya beberapa. Terutama mereka yang memiliki pengaruh besar di Indonesia (nusantara).

Sanad keilmuan santri-santri yang bersambung sampai Ibrahim al Kurani dapat dilihat dalam kitab al Umam li Iqadz al Himam. Kitab ini memotret genealogi keilmuan ulama-ulama Nusantara yang bersambung sampai Ibrahim al Kurani. Dalam kitab ini misalnya, disebutkan bahwa, genealogi keilmuan al Kurani bersambung pada Abu Zakariya al Anshori dan Ibn Hajar al Asqalani. Dua ulama yang sering dipakai rujukan oleh kiai-kiai pesantren. Karenanya, bukan hal yang salah jika disimpulkan bahwa karya-karya Abu Zakariya al Anshori dan Ibn Hajar al Asqolani sampai ke Indonesia melalui Ibrahim al Kurani. Meski juga tetap harus dicatat, al Kurani mungkin bukan satu-satunya.

Contoh sederhana dari mata rantai keilmuan orang-orang pesantren yang bersambung sampai pada al Kurani adalah sanad keilmuan Hadratusy Syaikh KH hasyim Asy’ari. KH Hasyim Asy’ari pernah berguru pada Kiai Mahfudz Termas. Kiai Mahfudz sendiri, dalam kitab Kifayat al Mustafid beberapa kali menyebut nama al Kurani. Pertemuan sanad keilmuan Kiai Mahfudz dengan al Kurani misalnya ada pada sanad Ihya’ Ulumuddin, Minhajul Abidin dan beberapa kitab karya al Ghazali lainnya. Kiai Mahfudz mempelajari kitab-kitab tersebut dari Sayyid Abu Bakar Syatho, dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan hingga bersambung pada Syaikh Muhammad bin Salim al Hanafi. Dari al Hanafi inilah mata rantai Syeikh Mahfudz bersambung pada Ibrahim al Kurani. Dari sinilah kemudian dapat disimpulkan bahwa al Kurani adalah ulama yang berjasa dalam mentransmisikan ilmu-ilmu yang sekarang khas dipelajari di dunia pesantren.

Silahkan baca juga   Gadget dan Kesehatan Mental

Dari sisi lain penjuru Nusantara, ada nama Abdur Rauf as Singkili yang juga memiliki keterkaitan ilmu dengan al Kurani. As Sinkili adalah ulama sunni yang berhasil merebut pengaruh di masyarakat pada zaman itu. As Sinkili berhasil menggeser posisi paham panteisme yang saat itu tersebar di kesultanan Aceh. Sebelum kedatangan as Singkili, masyarakat Muslim di wilayah kesultanan Aceh banyak yang menganut paham panteisme. Hal ini terutama dipengaruhi oleh Hamzah al Fansuri.

Al Fansuri datang sebelum kedatangan as Singkili. Sebenarnya setelah Era al Fansuri, muncul ulama penentang paham panteisme. Dia adalah Nurruddin ar Raniri. Tapi paham yang dibawa oleh ar Raniri tergeser oleh paham panteisme ala Hamzah Fansuri yang kembali digelorakan oleh Syamsuddin al Sumatrani.

Mengenai bagaimana detail paham keagamaan al Kurani yang berkaitan dengan paham panteisme dapat kita lacak dari karyanya yang berjudul Ithaf adz Dzaki ila Ruh an Nabi. Tolak ukur kedua yang bisa dipakai jika ingin melihat pengaruh al Kurani terhadap Islam di Nusantara. Kitab Ithaf, menurut Ginanjar Sya’ban, merupakan Syarah dari kitab yang dikarang oleh Muhammad al Burhanpuri, Tuhfah al Mursalah fi Haqiqat asy Syari’ah al Muhammadiyah, atau yang lebih dikenal dengan nama Tuhfah Mursalah ila Ruuh Nabi.

Keseriusan al Kurani dalam mensyarahi kitab karangan al Burhanpuri ini didorong oleh cerita dari santri-santrinya yang berasal dari Nusantara. Mereka banyak yang mengeluhkan pahan Panteisme yang berkembang di Nusantara kala itu. Paham panteisme yang muncul waktu itu, disebabkan oleh pemahaman yang kurang tepat masyarakat akan kitab karya al Burhanpuri. Karena itulah al Kurani kemudian mengarang Syarah dari kitab al Burhanpuri ini. Maka dari itu, tidak heran jika kitab Ithaf ini disebut sebagai kitab yang dikarang khusus untuk umat Islam di Nusantara.

Silahkan baca juga   Mari Bangun Optimisme dalam Menghadapi Pandemi Covid-19

Dalam laporan yang diberikan oleh Ginanjar Sya’ban disebutkan bahwa, murid yang saat itu mengadu pada al Kurani tentang masalah panteisme adalah Abdur Rauf as Singkili, sewaktu as Singkili berguru pada al Kuarni di Madinah. Hal ini mudah diterima oleh akal mengingat pada zaman As Singkili sedang berlangsung “perang ideologi” antara paham wahdatul wujud yang dimotori oleh Hamzah al Fansuri dan paham tasawwuf sunni yang coba didakwahkan as Singkili.

Kitab lain yang pernah dikarang oleh al Kurani adalah Kasyf al Muntazhir li ma Yarahu al Muhtadhir. Kitab ini merupakan komentar al Kurani atas tradisi kematian yang ada di Nusantara. Tapi yang perlu dicatat, tradisi kematian yang dimaksud disini bukanlah tradisi tahlilan seperti yang biasa kita saksikan. Tradisi kematian yang dimaksud oleh kitab ini adalah sebuah proses ritual menjemput mati yang biasa dilakukan oleh orang-orang di Nusantara masa itu.

Waktu itu, terjadi di sekelompok umat Islam di Nusantara sebuah ritual aneh yang berhubungan dengan kematian. Disebutkan, jika seseorang sedang sakit parah menjelang wafat, hendaklah memegang kepalanya. Saat itu akan muncul warna-warna tertentu yang dianggap menjadi lambang-lambang tertentu. Dari situlah kemudian orang yang hendak sakaratul maut tadi melafazkan zikir tertentu sesuai dengan warna yang ia lihat. Kasus aneh ini kemudian diajukan oleh as Sinkili yang saat itu sedang berguru pada al Kurani. Sebagai respon, al Kurani pun mengarang kitab Kasyf al Muntazhir.

Sebenarnya masih ada lagi karya al Kurani yang berhubungan dengan dunia Islam di Nusantara. al Jawabat al Gharawiyyah lil Masail al Jawiyah al Juhriyyah. Dari judulnya sudah kelihatan bahwa kitab ini merupakan respon al Kurani setelah mendapat beberapa pertanyaan dari santri-santrinya yang berasal dari Johor, Malaysia. Saat itu, semua wilayah Nusantara identik disebut dengan istilah al Jawi. Maka tidak heran jika Johor juga masuk dalam kategori al Jawi dalam bahasa al Kurani.

Silahkan baca juga   Refleksi : Menyelami Lailatulqadar

Terdapat beberapa pertanyaan yang diajukan oleh santri-santri al Kurani saat itu. Diantaranya adalah, keimanan seorang mukmin itu bersifat qadim atau hadits? Bagaimanakah status keimanan orang yang menganut paham panteisme? Apakah boleh melaksanakan salat Jumat di luar batas teritori sebuah baldah (negeri)? Bagaimana hukum lelaki yang pada saat pernikahannya memakai makhkota yang berbalut emas atau perak?

Sebagai catatan, kitab yang disebut terakhir sebenarnya kurang pas untuk disebut berpengaruh pada umat Islam di Nusantara (baca: Indonesia), namun, melihat lingkar pergaulan santri-santri Haramayn saat itu, bukan sangat tidak mungkin persoalan-persoalan yang dijawab al Kurani dalam kitab ini merupakan persoalan yang dilahirkan dari perdebatan antar santri-santri yang berasal dari Nusantara, termasuk di dalamnya Indonesia.

Wallahu a’lam.

Hamdani Mubarok
Hamdani Mubarok Alumni MI Bahrul Ulum Jombang sekaligus kader pondok bukan Pesantren Islam_keadaan, Yogyakarta.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.