Penguatan UKBI (Uji Kemahiran Bahasa Indonesia) untuk Menjemput Bahasa Indonesia pada Tingkat Internasional

Setidaknya untuk mendapatkan akses belajar ke luar negeri seseorang harus menyertakan lampiran hasil Test of English as a Foreign Language (TOEFL). Bagi yang belum memiliki hasil (baca: sertifikat) TOEFL, disarankan mengikuti bimbingan. Sederhananya, TOEFL diperlukan untuk mendaftar masuk ke universitas-universitas yang tidak mewakili bahasa ibunya atau bahasa nasional di negaranya. Tetapi belakangan, TOEFL tidak hanya digunakan di dunia akademik. Satu empat perusahaan kiwari ini mulai mempertimbangkan TOEFL sebagai kriteria calon pekerja agar mudah dipinang perusahaan terkait.

 Adalah bahasa Inggris yang menjadi parameter bahasa dalam TOEFL. Dalam hal inilah dapat dilihat kekuatan bahasa Inggris begitu kuat. Jika merujuk bahasa resmi PBB atau yang biasa disebut bahasa resmi internasional, sebenarnya terdapat enam bahasa, antara lain: Prancis, Spanyol, Rusia, Mandarin, Arab, dan Inggris. Tetapi sayangnya, bahasa Inggris satu-satunya yang menjadi acuan dalam TOEFL. Tentu banyaknya faktor menjadikan bahasa Inggris sebagai hulu dan hilir TOEFL, seperti bahasa Inggris adalah bangsa perdagangan dulunya atau pada dasarnya TOEFL diperuntukan untuk dunia akademik di Amerika Serikat dan negara lainnya yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi.

 Lantas, mungkinkah suatu waktu, lima dari keenam bahasa itu menghancurkan monopoli bahasa Inggris dalam lampiran TOEFL? Jika dikatakan mungkin, sepatutnya bahasa Indonesia menjadi satu dari segelintir bahasa yang patut dipertimbangkan.

 Tiga tahun belakangan, nafas bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional nyiur terdengar rindang. Semangat gerilya bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional mula-mula dimulai dari kelas ASEAN, negara-negara Asia Tenggara. Kemudian mewabah kelas Asia dan akhirnya sampai di PBB. Terdengar mudah tampaknya. Apa pilar yang meyakinkan?

 Seperti celetuk Dadang Sunendar, setidaknya penutur bahasa Indonesia lebih dari 30 juta. Penutur-penutur itu menyebar di berbagai negara. Lalu, program BIPA sudah dijalakan ke 29 negara dan konon bahasa Indonesia mudah dipelajari. Namun sebetulnya, ketiga faktor tersebut tidaklah ujug-ujug bisa disahihkan sebagai pilar.

 Angka penutur yang katanya lebih dari 30 juta sebetulnya bukanlah angka yang cukup besar. Di kiwari ini saja, jumlah penduduk Indonesia lebih 270 juta jiwa. Secara kalkulasi, penutur bahasa Indonesia tak sampai 15 persen. Penutur-penutur ini tentunya semakin bertambah dan demikian pula dengan populasi. Di samping, 30 juta tersebut, penutur bahasa Indonesia di luar Indonesia terbilang relatif sedikit; kebahasaan yang terkadung memiliki aksen yang berbeda dan lebih condong kepada bahasa Melayu, sehingga keaslian bahasa Indonesia menjadi landai.

 Kemudian lenguh BIPA agaknya mulai babak bundas nasibnya; di Murdoch University, mahasiswa yang mendaftar program bahasa Indonesia kurang dari 10 rentang tiga tahun ini. Padahal semenjak tahun 1975, Murdoch University kental akan program Bahasa Indonesia. Sebelumnya, La Trobe University juga menutup program tersebut.

 Kendati, dilema tersebut tak ujug-ujug menyebabkan bahasa Indonesia tak mampu nampang di kancah internasional. Setidaknya, bila kemerosotan mulai dirasakan, kita bisa menerapkan skala nasional dengan siklus yang sama diterapkan perusahaan kiwari ini.

PENGUATAN UKBI

 Seperti TOEFL, UKBI juga berfokus membidani kebahasaan, tepatnya UKBI berpusat kepada bahasa Indonesia. Merunut panduan UKBI dalam laman Kemendikbud, UKBI merupakan sarana uji kemahiran seseorang berbahasa Indonesia lisan dan tulis. UKBI terbagi lima seksi: seksi pertama mendengarkan, seksi kedua merespons kaidah, seksi ketiga membaca (dalam bentuk soal pilihan ganda), seksi keempat menulis (dalam bentuk presentasi tulis) dan seksi kelima berbicara (dalam bentuk presentasi lisan). Kelima seksi tersebut pada akhirnya menuju seberapa palung pemahaman seseorang dalam penerapan kaidah berbahasa Indonesia.

 Sayangnya, peserta UKBI tidak terkonsep secara faktual. Siapa saja, baik dia berkebangsaan Indonesia ataupun asing, boleh menjadi peserta UKBI. Kelonggaran inilah yang semestinya dimanfaatkan. Setidaknya UKBI, sedini mungkin mulai dibiakkan seperti TOEFL. Dalam hal ini, mula-mula melangkah dengan konsep perusahaan; pada awalnya perusahaan-perusahaan negara diultimatum mulai menyeimbangkan UKBI dengan TOEFL. Sederhananya, setiap calon pekerja diharuskan memiliki lampiran hasil UKBI. Ataupun para perusahaan menyediakan tes UKBI dalam penyaringan calon pekerja, yang nantinya disetarakan sebagai poin penilaian.

 Di samping itu, penguatan UKBI juga dilakukan di universitas-universitas, khususnya universitas yang memiliki jurusan bahasa Indonesia, meski kita tahu jenis ujian masuk universitas melakukan seksi ketiga membaca UKBI, namun nyatanya soal-soal tersebut sering dianggap tak begitu berpengaruh lantaran alokasi waktu dan penggabungan jenis mata pelajaran lainnya.

 Juga selama ini UKBI sesuatu yang asing bagi mahasiswa non-bahasa Indonesia. Demontrasi bahasa Indonesia di kalangan sekolah sebagai pelajaran yang mengudang malas bergerak; polarisasi pengajaran bahasa Indonesia datang, diam, duduk, dengar, ketuntasan mata pelajaran menyebabkan UKBI terasa jauh. Bahkan satu empat mahasiswa bahasa Indonesia juga tak mengenal UKBI. Dalam tingkat universitas, UKBI juga diberikan kepada pengajar.

 Jika kedua elemen tersebut bisa ditertibkan, kemungkinan besar di kemudian hari, para siswa boleh mendapatkan beban moril yang serupa. Sehingga berita-berita semacam bahasa Indonesia menjadi momok paling menakutkan dalam Ujian Nasional pada 2019 lalu tidak terulang kembali. Dan gejala penelian Anita Lie (Kompas, 5/03/2019), hampir separuh sampel guru bahasa Indonesia tak bisa menulis 3 paragraf esai. Bahkan, masih ada guru yang tak mengerti apa itu “paragraf”, dapat terselesaikan.

 Memang penerapan UKBI terkesan memaksakan. Stigmasi “repot-repot dengan bahasa nasional” semakin mengerucut. Tetapi ketika ketidaksenangan akan penerapan UKBI tersebut berkumandang, kita patut mempertanyakan kepada diri sendiri mengapa kita merasa jemawa namun jengah diuji? Kita rela berpusing diri akibat tak memiliki lembaran hasil TOEFL sewaktu melamar, namun santai saja ketika UKBI begitu ramah, tak memerlukan biaya untuk mengikuti programnya.

 Maka, terbuka peluang yang besar bahasa Indonesia sebagai bahasa internasional bila ketuntasan bahasa Indonesia di tingkat nasional teratasi. Begitulah seharusnya langkah-langkah yang sehat, memonopoli regional-regional, kemudian memasuki ranah nasional, dan akhirnya bermain global.

 

-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Nanda Herlia 1 Article
Lahir pada 19 September 1997. Mahasiswa Akuntansi, Universitas Pamulang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.