Peran Dakwah Santri di Era Digital

Sentuhan jari pada smartphone mampu membawa kita ke arah mana saja yang hendak dituju, tidak peduli positif ataupun negatif. Berselancar di dunia maya membuka mata kita akan keragaman manusia dengan segala karakter dan sifat yang dimiliki. Hampir semua orang mempunyai hobi baru, berlama-lama dengan smartphone yang lebih bisa memberikan apa saja yang mereka mau.

Disadari ataupun tidak, dunia maya telah diisi dengan berbagai aksi dan reaksi yang seringkali membuat kita mengernyitkan dahi. Entah itu tentang konflik sederhana yang dibesarkan ataupun sebaliknya, juga ujaran kebencian, bullying, dan segala hal yang memancing emosi untuk saling memusuhi.

Manusia semakin mudah menunjukkan eksistensi diri melalui berbagai platform. Kemudahan yang ditawarkan membuat semua orang berkesempatan menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia yang pantas untuk dikenal bahkan viral. Mereka membuat konten-konten yang terkadang kurang berfaedah, unfaedah, atau bahkan tidak pantas.

Kita memang tidak bisa menjernihkan sungai (dunia maya), namun kita bisa ikut andil mengalirinya dengan air yang jernih dan menyejukkan. Sudah saatnya kita sebagai santri mengambil peran untuk turut serta menebar kebaikan dan perdamaian di era digital ini.

Berdakwah memang bukan hal yang mudah, jalan terjal yang ditempuh membutuhkan kekuatan, kesabaran, dan keistiqomahan. Maka kita sebagai santri harus senantiasa menempa diri dengan latihan-latihan agar bisa menjadi pendakwah yang solutif dan bermental baja terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Tidak hanya itu, berdakwah di zaman sekarang membutuhkan fresh outside dan fresh inside. Apakah itu?

Fresh outside

Fresh=segar dan outside=luar. Sebagai pendakwah seseorang harus mempunyai tampilan yang baik. Tampilan ini mengarah pada dua hal. Yang pertama penampilan fisik. Bagaimana caranya agar pendakwah bisa menarik perhatian audiens? maka ia harus berpenampilan yang menarik, minimal ia tidak merisaukan orang-orang yang melihatnya. Kedua adalah bagaimana perilaku kita, hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari sebisa mungkin mencerminkan apa yang kita ucapkan, apa yang kita tulis dan apa yang kita bagikan.

Fresh inside

Fresh=segar dan inside = dalam. Sebagai pendakwah seseorang harus berusaha mempunyai hati yang jernih. Meminimalisir apa-apa yang membuat hatinya mudah terkotori. Pesan ustadz Aan yang masih terngiang sampai sekarang adalah beliau menyebutkan ayat :

كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالا  تفعلون

Ayat tersebut mengingatkan kepada kita bahwa apa yang kita ucapkan harus sesuai dengan apa yang kita lakukan.

أقول ما أفعل…

Berdakwah haruslah dilakukan dengan cinta, karena Allah menciptakan manusia dengan segenap cinta tulus yang diberikan. Jika kita menyampaikan sesuatu dengan cinta, maka audiens akan menerima dengan segenap cinta pula.

Berdakwah di zaman sekarang membutuhkan banyak keahlian dan keterampilan. Seorang pendakwah harus mempunyai daya fikir kritis dengan mengetahui akar permasalahan yang terjadi sebaik-baiknya hingga mampu memberikan solusi kepada masyarakat. Pendakwah juga harus mempunyai keterampilan komunikasi yang baik, agar tidak terjadi miskomunikasi dengan pendengar. Selanjutnya pendakwah dapat berkolaborasi dengan banyak kawan agar mampu menghasilkan content atau karya yang maksimal baik dari segi isi maupun tampilan.

Dunia sekarang ditentukan oleh 3 hal, anak muda, perempuan, dan netizen. Dan kunci terpenting untuk kesemuanya adalah kreatifitas.

Mari menjadi bagian dari penebar perdamaian melalui konten yang menarik dan menyejukkan.

 

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Siti Maisaroh 2 Articles
Siti Maisaroh, lahir di kota soto pada tahun 1996. Seorang freelancer yang sedang berkonsentrasi di bidang Pendidikan Bahasa Arab.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.