Peran keluarga sebagai support sistem penyintas kekerasan seksual

Tema tentang kekerasan seksual masih asing di telinga saya, pasalnya masih jarang edukasi yang diberikan kepada siswa ataupun mahasiswa tentang hal tersebut.

Sharing time yang diadakan oleh Indonesia Content Creator, bekerjasama dengan mubadalah. Id dan Bonnels pada tanggal 11 Januari tahun lalu, membuka mata saya, betapa banyak ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita, apalagi ketidakadilan yang menimpa perempuan, di antaranya :

Marginalisasi

Proses perlakuan peminggiran seseorang karena perbedaan jenis kelamin masih sering terjadi. Kurangnya pemahaman seksualitas khususnya sistem reproduksi kerap menjadi sasaran. Misalnya (1) seorang buruh pabrik yang sedang hamil atau melahirkan meminta izin libur, ia diancam dipotong gaji atau dikeluarkan. (2) perempuan lebih cocok berjabatan rendah dan tidak terlalu tinggi karena dianggap merendahkan laki-laki. Padahal yang salah adalah kuatnya budaya patriarki.

 Subordinasi

Seseorang berhak meraih kesempatan yang sama dalam politik, ekonomi, pendidikan dan karier. Memprioritaskan jabatan untuk laki-laki daripada perempuan merupakan salah satu bentuk ketidakadilan. Kemampuan kecerdasan bekerja tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan kesanggupan seseorang dalam memikul tanggungjawab.

Kekerasan

Seseorang yang diperlakukan dengan kasar bukan dianggap sebagai subjek, tetapi objek yang wajar dijadikan pelampiasan. Banyak sekali kasus yang mencatat perempuan sebagai objek dari kekerasan. Hal ini terjadi sebab masih melekatnya anggapan kuasa atau superioritas laki-laki terhadap perempuan.

Sudah demikian, jika korban melapor sering kali mendapatkan victim blaming atau mendapatkan respon negatif dari pihak berwajib, tenaga medis, bahkan keluarga, teman, serta orang-orang yang korban kenal.

Stereotip

Banyak label yang melekat dalam diri kita sebab kontruksi sosial yang ada di masyarakat, seperti perempuan bekerja pada ranah domestik sedangkan laki-laki dalam ranah publik. Anak laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis sedangkan perempuan dianggap wajar.

Beban ganda yang dipaksakan

Hal ini sering terjadi dalam rumah tangga, dimana seorang istri harus bekerja dan juga mengurus domestik tanpa dibantu siapapun. Pembagian kerja tanpa kesepakatan seperti ini sering dialamatkan kepada perempuan sebagai korbannya. Harusnya suami dan istri saling membantu, bukan hanya bekerja dan bersantai sedangkan istrinya bekerja dan mengurus domestik sendirian.

Dari lima ketidakadilan tersebut, sharing kemarin fokus pada ketidakadilan nomer tiga, yaitu kekerasan. Kekerasan banyak sekali bentuknya, kekerasan verbal, psikologis, fisik bahkan seksual. Di dalam Islam kita mengenal kaidah الضرر يزال (Bahaya itu harus dihilangkan). Kekerasan seksual merupakan bahaya dan harus dihilangkan.

Kekerasan seksual dapat terjadi kapan saja, di mana saja, dan terhadap siapa saja. Di rumah, di jalan, transportasi publik, tempat kerja, institusi, pendidikan, bahkan ditempat yang seharusnya menjadi area aman bagi korban. Pelaku kekerasan seksual bisa jadi adalah orang terdekat korban, orang tidak dikenal, bahkan orang yang semestinya mempunyai tugas melindungi korban.

Saat kekerasan seksual terjadi pada seseorang, seringkali korban hanya bungkam seribu bahasa. Ia tidak mau menceritakan kepada orang terdekat, karena kebanyakan justru korban disalahkan dan ketidakadilan berpihak kepadanya. Korban justru dihujat, di bully, dikatakan amoral dan sebagainya. Parahnya, jika korban sampai hamil, ia harus menikah dengan pelaku kekerasan tersebut. Apa jadinya jika pelaku dan korban menikah? Bukankah setiap hari ia justru akan menerima kekerasan?.

Jika melapor kepada pihak berwajib terkadang yang terjadi adalah justru korban mendapatkan victim blaming. Apa itu victim blaming? Suatu keadaan di mana korban kejahatan dianggap bertanggungjawab atas kejadian yang dialaminya, baik secara sebagian atau keseluruhan. Victim blaming bisa datang dari sikap serta respon negatif dari pihak berwajib, medis, tenaga kesehatan mental, dan bahkan keluarga, teman, serta orang-orang yang korban kenal, Seperti, mungkin baju kamu yang mengundang hasrat, mungkin kamu terlalu berlebihan dalam berhias, mungkin kamu juga menikmatinya dan lain-lain.

Victim blaming ini dapat menyebabkan revictimization, keadaan di mana luka menjadi korban berlipat ganda, sebab ia mendapat tekanan baru lantaran disalahkan. Tekanan dan stress psikologi tambahan yang dialami korban menjadikannya merasa tidak berarti, tidak berdaya, menyalahkan diri sendiri bahkan ingin mengakhiri hidupnya.

Narasumber kami memberikan contoh dalam novelnya yang berjudul “Hilda” tentang bagaimana seharusnya keluarga menghadapi salah satu anggotanya yang menjadi korban kekerasan seksual, dalam hal ini adalah putrinya sendiri.

Saat korban (Hilda) pulang dalam keadaan compang camping, mungkin ibunya ingin berteriak dan memaki-maki anaknya. Namun Ia justru menahan dan menanyakan “bagaimana keadaanmu nduk? Kamu tidak apa-apa? “. Dengan demikian Hilda yang menjadi korban merasa aman untuk menceritakan kepada ibunya. Singkat cerita akhirnya hilda mampu melewati masa kelam dan bangkit dengan bantuan ibunya.

Keluarga harus menjadi tempat teraman dan ternyaman untuk berbagi. Keluarga harus bisa menjadi support sistem dalam membantu memulihkan mental dan trauma yang dialami oleh korban, jangan justru memberikan victim blaming. Korban butuh bantuan, butuh rangkulan. Bantu mereka juga untuk speak up, agar publik mengetahui bahwa kekerasan seksual banyak terjadi disekitar kita.

Kita tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi, tapi kita bisa membantu orang-orang yang mengalami kekerasan seksual untuk pelan-pelan mencintai dirinya sendiri lagi.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Siti Maisaroh 3 Articles
Siti Maisaroh, lahir di kota soto pada tahun 1996. Seorang freelancer yang sedang berkonsentrasi di bidang Pendidikan Bahasa Arab.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.