Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Perempuan, Berpikir Aja Dulu

Neyla Hamadah 2 min read 0 views

“Tidak usah jauh-jauh untuk berpikir kritis, berpikir aja dulu, meskipun keduanya satu paket” Najwa Shihab menyampaikan hal tersebut di acara podcast-nya Deddy Corbuzier. Ia menanggapi soal krisis akal sehat di negeri ini dengan menyebutnya sebagai darurat akal sehat. Menurutnya daya kritis di dalam masyarakat kita semakin menghilang. Itu ia temukan ketika berkeliling ke daerah-daerah untuk pekerjaannya. Ia menambahkan bahwa ini sebuah tantangan untuk mendorong masyarakat belajar berpikir kritis. Meskipun jalannya sangat terjal. 

Berpikir kritis yang akan melahirkan sikap kritis dalam buku “Filsafat sebagai Revolusi Hidup” dibutuhkan untuk mengolah begitu banyak informasi yang tak semuanya benar dan pengetahuan yang tidak semuanya berguna menjadi informasi dan pengetahuan yang memberikan kita pemahaman dan kebijaksanaan. Sikap kritis diwujudkan dengan mengajukan pertanyaan atas beragam pandangan serta mempertimbangkan berbagai aspek sebelum membuat keputusan. 

Sikap kritis tidak hanya digunakan untuk kejadian di luar diri kita, tapi juga untuk diri kita sendiri, kita harus berani mempertanyakan diri kita sendiri, supaya tidak jatuh ke dalam sikap dogmatis yang artinya berpatokan mutlak pada satu pandangan dan menolak pandangan yang lain. [Reza AA Wattimena, 2013]

Berkaca pada banyak peristiwa yang melibatkan perempuan. Perempuan Indonesia sudah seharusnya mulai bergerak dan menyadari pentingnya berpikir kritis atau “berpikir aja dulu” seperti kata Najwa Shihab. Selama ini laki-laki lebih identik dengan akal pikiran sementara perempuan mengedepankan perasaan. Itu bukan berarti membuat perempuan menutup diri untuk berpikir. Kita semua, baik laki-laki maupun perempuan masing-masing diberi daya pikir. Dalam kitab suci yang saya pahami, orang-orang yang berakal pikir adalah laki-laki dan perempuan. Tidak disebutkan hanya bagi laki-laki saja. 

Kemudian saya berpikir, bukankah justru perempuan jauh lebih besar tanggung jawabnya untuk berpikir kritis? Di tangan perempuan lah awal mula terciptanya generasi yang berakal budi.

Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Dan perempuan sebagai tiang rumah tangga, penyokong suaminya. Tempat bertukar pikiran dalam berbagai isu yang bergulir di tengah masyarakat. Respon kritis atas berbagai isu itu akan membangun karakter tidak mudah terjebak dalam pola pikir yang sempit. Sehingga tidak memengaruhi suami untuk memgambil keputusan yang keliru.

Sebagai contoh kasus rendahnya berpikir kritis, ialah yang terjadi pada tahun politik 2019. Banyak kasus pesan terusan WA yang masif disebarkan oleh Ibu-ibu, yang rata-rata informasi yang mereka sebarkan adalah hoaks. Ibu-ibu ini tidak memiliki daya pikir kritis atau sekadar “berpikir aja dulu” merespon informasi yang sampai kepada mereka. Mereka seolah menutup pikiran mereka dan menganggap bahwa informasi yang mereka terima yang entah dari mana sumbernya adalah sebuah kebenaran yang harus disebarluaskan. Dampaknya sangat besar bagi permasalahan sosial dan politik di tengah masyarakat. 

Contoh lain ketika ada seorang anak di tahun yang sama, menyampaikan kebencian terhadap agama yang berbeda atau tentang seorang tokoh politik karena Ibu mereka yang memberi tahu hal tersebut. Tanpa “berpikir aja dulu” Ibu-ibu itu meracuni anaknya dengan informasi yang belum tentu benar sebab pola pikir yang salah. Dan dengan kepolosan anak-anak, ia menyampaikannya di sekolah. Apakah kita akan menyalahkan anak-anak? Siapa yang sepantasnya bertanggung jawab?

Atau ketika perkumpulan Ibu-ibu sosialita istri pejabat yang hanya karena gengsi tanpa “berpikir aja dulu” membeli tas-tas bermerek berharga mahal dengan uang suami, yang sedang menjabat. Tidakkah terpikir untuk bertanya pada diri mereka sendiri “Perlukah saya membeli tas ini? Apa manfaat yang lebih besar dari sebuah gengsi? Pantaskah gaya hidup seperti ini? Bagaimana suami saya memperoleh uang ini?”.

Ketika kita sering mempertanyakan sesuatu hal yang perlu kita tahu hakikatnya, semakin kita memperoleh pencerahan akan hal tersebut sehingga kita tidak “berjalan dalam kegelapan”.

Rendahnya daya pikir Ibu-ibu juga menjadi gejala yang meresahkan ketika mereka menonton program tv, seperti acara reality show. Kebanyakan mereka menganggap itu sebuah kejadian yang sesungguhnya. Bukan diatur untuk semata dramatisasi demi kepentingan rating. Atau penonton setia sinetron Azab dan sinetron drama lainnya yang terhanyut emosinya hingga tanpa sadar keluar dari mulut mereka doa yang mengancam dan sumpah serapah kepada pemain sinetron dengan emosi yang berlebihan. 

Bahkan penikmat drama Korea tanpa “berpikir aja dulu” menyerang akun media sosial seorang aktris yang berperan menjadi pelakor di sebuah judul drama yang sedang diminati sekarang ini. Hal itu menjadi perbincangan di kalangan netizen negeri ginseng.

Miris sekali bukan? Di mana daya pikir mereka? Mengapa bisa begitu saja menelan mentah-mentah apa yang disajikan media televisi?

Seandainya “berpikir aja dulu” sehingga akhirnya melahirkan budaya berpikir kritis bisa diajarkan mulai dari rumah. Di mulai dari perempuan, tentunya seorang Ibu bisa melahirkan generasi yang berakal budi, yang tidak mudah dicuci otaknya. Menjadikan anak-anaknya tidak mudah terperangkap pada dogma yang sesat ketika mereka di luar rumah.

Perempuan itu menjadi seorang istri yang selalu bertanya kepada suaminya dari mana uang bulanan yang Ia peroleh? Ia akan menjadi partner yang mengingatkan suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis. Dampak lebih luasnya mental korup bisa berkurang. 

Dari sebuah rumah sebagai unit terkecil dari masyarakat, akan selalu muncul pertanyaan-pertanyaan ketika ada informasi atau peristiwa yang terjadi. Perlu diingat bahwa tidak semua informasi itu benar, tidak semua pengetahuan itu berguna bagi kita. Sehingga informasi bisa lebih dipertanggungjawabkan dan pengetahuan membuat kita lebih bijaksana. Kehidupan bermasyarakat lebih punya harapan. Dimulai dari perempuan yang berpikir.

“Dimulai dari perempuan yang berpikir kritis.”

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.