Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Perempuan Boleh Menikah Umur 30 tahun Kok

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 59 views

Nikah muda boleh, tidak ada yang melarang, asal tidak nikah usia anak. Nikah di usia yang tidak lagi muda juga boleh, tidak ada yang salah, tidak ada kata terlambat untuk hal baik.

Persetan dengan omongan tentangga, jangan menjalani hidup sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh tetangga. Omongan tetangga bukan parameter kebaikan atau kebenaran. Jadi, walaupun tetangga telah banyak menanyakan “kapan nikah?” bukan berarti itu pertanda kita sudah telat dan wajib terburu-buru untuk segera menikah.

Manusia pasti punya hal-hal yang penting untuk digapai, dan masa muda adalah waktu dimana kita masih idealis dan memiliki banyak tenaga untuk menggapai apa yang dicita-citakan. Fokus pada hal-hal baik yang bisa kita gapai. Abaikan hal-hal yang masih belum kita anggap penting, seperti terburu-buru menikah misalnya.

Stereotip pentingnya nikah muda begitu digemakan, banyak yang meyakini seolah-olah hal itu adalah wajib. Padahal nyatanya tidak seperti itu. Dalam fikih misalnya, nikah hanya dianjurkan bagi yang sudah “butuh” secara biologis, dan siap secara finansial.

Sedangkan aturan umur maksimal nikah tidak pernah tercantum dalam fikih. Tidak ada misalnya pernyataan “nikah paling lambat harus di umur 25 tahun.”

Jadi, tidak pernah dibenarkan segala tindak penilaian buruk terhadap mereka yang tidak kunjung menikah, berapa pun umurnya. Karena tidak menikah di usia “ideal” menurut masyarakat, bukanlah sebuah kejahatan. Menikah di usia tua tidak sama dengan mencuri, merampok, memelihara tuyul, ataupun pesugihan.

Maka, memberikan nilai buruk pada mereka yang nikah di usia “tua” bukanlah hal yang menguntungkan bagi siapa saja. Malah yang ada merugikan pada korbannya, tentu korban dirugikan secara psikis.

Perempuan lah yang paling banyak dirugikan dengan adanya stereotip ini. Karena perempuan lah yang paling banyak merasa menjadi korban lambe elek tetangganya, sebab telat menikah.

Seolah sesukses apapun perempuan, tidak ada nilainya di mata masyarakat kalau belum menikah. Hingga menikah muda bagi sebagian perempuan adalah sebuah prestasi, sebab pandangan masyarakat lah yang membentuk pandangan ini.

Memang, wibawa “apa kata masyarakat” lebih tinggi daripada hasil riset yang terbit di jurnal ilmiah internasional. Orang lebih memilih patuh pada “apa kata masyarakat” daripada apa kata jurnal ilmiah, bahkan orang-orang kampus banyak yang masih mengamini pandangan masyarakat tentang “telat nikah” ini.

Pernikahan pun bukanlah jual beli, jadi tidak benar bila mereka yang tidak kunjung menikah mendapatkan gelar “tidak laku”. Jadi, marilah kita belajar memanusiakan manusia dengan tidak menyamakannya dengan barang dagangan. Tidak terkecuali kepada mereka yang perempuan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.