Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Pernikahan dan Tujuannya

Muhamad Isbah Habibii 2 min read 0 views

Niat adalah hal yang paling diperhatikan oleh seorang kiai kala santrinya akan menikah, karena segala sesuatu itu tergantung pada niatnya, tidak terkecuali pernikahan. Oleh karenanya wajar bila ketika seorang kiai menikahkan santrinya yang diwanti-wanti adalah niat.

Dengan melihat suatu niat, badai yang akan dihadapi pun nampak. Karena niat itu bagaikan jalan yang akan dipilih. Dengan memilih suatu jalan seseorang akan tahu beberapa rintangan yang kemungkinan akan dilalui. Sebab itulah penting memiliki niat yang benar dalam segala sesuatu.

Seperti apa yang penulis alami, berulang kali “guru” mewanti-wanti untuk tidak memiliki niatan menuruti hawa nafsu dalam pernikahan. Karena seperti yang sudah jamak diketahui, nafsu tidak akan pernah ada puasnya, ketika ia sudah memiliki satu, maka dia akan menginginkan lebih banyak lagi.

Harus ada niatan yang berkaitan dengan Tuhan dan Nabi-Nya, agar pernikahan tidak hanya menjadi perkara yang “duniawi”, namun juga bisa menjadi perkara yang ukhrawi. Kalau tidak begitu, menikah akan kehilangan nilai baiknya, bagi mereka kalangan yang bertuhan.

Menikah berbeda dengan sekadar berhubungan seksual. Hubungan seksual adalah hubungan yang terbangun atas dasar kebutuhan libido. Sedangkan pernikahan adalah satu persetujuan yang memiliki syarat dan rukun tertentu (Fathul Qorib).

Jadi bukan sekedar urusan libido belaka, yang ketika hajat telah usai urusan pun usai. Namun ada perjanjian yang harus dijaga oleh seorang pasangan.

Maka tidak heran bila guru dari penulis, KH. Marzuki Mustamar mewanti-wanti sebelum mengakadkan, “aja wayuh, aja mok larani bojomu”. Karena menikah bukan urusan nafsu semata, bukan pula urusan menguasai.

Poligami dan kepongahan

Dengan begitu poligami adalah hal yang tidak pernah penulis cita-citakan. Dan memang poligami sendiri bukanlah suatu prestasi yang kemudian bisa jadi sebuah target cita-cita.

Namun ada juga beberapa orang yang sangat mengampanyekan poligami, hingga seolah-olah poligami ini wajib. Padahal poligami bukan lah hal yang wajib. Seperti apa yang disebutkan dalam kitab Mughnil Muhtaj, karangan Syekh M. Khatib As-Syarbini,

إنَّمَا لَمْ يَجِبْ لِقَوْلِهِ تَعَالَى فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنْ النِّسَاءِ إذ الْوَاجِبُ لَا يَتَعَلَّقُ بِالِاسْتِطَابَةِ وَلِقَوْلِهِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ وَلَا يَجِبُ الْعَدَدُ بِالْإِجْمَاعِ

Juga adanya ayat 3 dari surah An-nisa bukan dalam rangka memotivasi untuk beristri banyak, namun lebih bisa dipahami sebagai upaya untuk membatasi dan menyedikitkan jumlah istri. Namun banyak pihak yang entah karena kepentingan apa, justru menggunakan ayat ini guna mengampanyekan poligami.

ولم يكن عند العرب حد يرجعون إليه في عدد الزوجات فربما تزوج أحدهم عشرا فوضع القرآن حدا وسطا فأباح التعدد لمن لم يخف أن يجور في معاملة نسائه قال تعالى في سورة النساء

Artinya : “Di kalangan masyarakat Arab zaman itu tidak ada batasan terkait bilangan istri. Seorang pria Arab zaman itu dapat beristri 10 perempuan sehingga Al-qur’an menetapkan batasan moderat. Lalu Al-qur’an membolehkan poligami bagi mereka yang tidak khawatir berlaku zalim dalam memperlakukan istrinya. Sebagaimana firman Allah pada Surat An-Nisa ayat 3”. (Syekh M Khudhari, Tarikhut Tasyri‘ Al-Islami, [Beirut, Darul Fikr: 1995 M/1415 H], halaman 42).

Padahal jelas bahwa turunnya ayat ini adalah upaya untuk menyadarkan bahwa jumlah istri itu bukan prestasi. Tapi mampu berbuat adil lah yang dianggap sebuah prestasi.

Maka buat apa membanggakan banyaknya istri, hingga mengajak orang untuk mengikuti apa yang dilakukannya, toh itu juga bukan sebuah prestasi. Apalagi sampai merasa jagoan, hingga sampai merasa sudah pantas mengajari trik-trik jitu dan tips-tips agar orang lain bisa mengikuti jejaknya.

Makna “takut” dalam ayat 3 An-nisa

Ada seseorang yang sebenarnya bukan tokoh intelektual, juga bukan ahli di bidang agama memelintir pemahaman dari ayat 3 dari surah An-nisa. Dia beropini bahwa pada dasarnya yang dinamakan menikah itu mesti berpoligami, kalau nikah dengan satu istri adalah nikah ketakutan.

Pembuatan istilah nikah ketakutaen tentu sebuah pemaknaan yang ngawur terhadap ayat Al-qur’an. Kata ketakutan yang dibangun dalam tulisan seseorang tadi menunjukkan arti “pengecut”, atau “tidak punya nyali”. Padahal tidak sengawur demikian.

Memotong pada kata takut, dan menghilangkan makna yang bersanding dengan kata takut tadi, rupanya menjadi hal yang fatal. Takut tidak bisa berbuat adil, tentu sangat jauh berbeda dengan “ketakutan”.

Takut untuk tidak bisa berbuat adil merupakan sikap kesatria, ia bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Hingga tidak membuatnya serakah, hingga mengambil tanggung jawab yang sebenarnya tidak bisa ia pikul. Sedangkan “ketakutan” adalah sikap pengecut yang tidak siap dengan apa yang dihadapinya. Tentu keduanya saling bertolak belakang. Dan ketika keduanya DIPAKSA memiliki makna yang sama, maka itu merupakan kebodohan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.