Imanuddin Muchtar Imamuddin Muchtar, kelahiran depok, pernah aktif di komunitas al-kindi dan memenangkan beberapa kali lomba debat berbahasa Arab tingkat nasional. Kini menekuni menjadi pelatih debat di UIN Maliki Malang.

Pesantren Kilat Asuhan Nabi Khidir

Imanuddin Muchtar 1 min read 0 views

Sebagai seorang hamba, seringkali kita mendapatkan hasil atau jawaban yang tidak sesuai dengan isi munajat kita. Pagi, siang , dan malam selalu kita proposalkan kepada Tuhan dalam bentuk doa, namun permintaan itu tak kunjung hadir dalam kehidupan. Sederhananya, tidak atau mungkin belum diperkenankan untuk dikabulkan. Meminta agar diterima tes beasiswa di luar negeri, ternyata hasilnya ditolak. Meminta agar diterima kerja di suatu perusahaan, namun tak kunjung dipanggil. Meminta, meminta, dan meminta, tapi yang dikabulkan adalah kebalikan dari apa yang kita inginkan. Begitulah warna-warni dalam kehidupan, tak selamanya indah sesuai harapan.

Sejatinya, ketika Allah tidak memperkenankan sebuah doa, bukan berarti Allah tidak menjawab permintaan hamba-Nya. Allah sungguh telah menjawab, namun dalam bentuk yang terbaik menurut-Nya. Manusia tidak tahu apa yang akan terjadi jika permintaannya dikabulkan, apakah akan menjadi kembang dalam hidupnya atau menjadi sebab kesengsaraan yang merobek masa depannya. Oleh karena itu dengan pengetauan-Nya yang luas, Allah memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya di antara dua pilihan, iya atau tidak.

Akrab sekali di telinga kita akan kata-kata “aaahh”, “duh”, “coba saya begini, pasti hasilnya begitu”, sejatinya kata-kata itu mencerminkan akan ketidakpercayaan kita terhadap Tuhan. Karena bukankah semua gerak-gerik dan hasil akhir itu Allah yang menentukan ?? Kalau kita sudah percaya dengan itu, mengapa sebagian dari kita masih saja mengeluh ?? Mengapa masih ada orang yang suka berkata kasar pada dirinya sendiri ?? Mengapa masih ada kata “mengapa” bagi mereka yang suka mengeluh ??

Mari kita buktikan bahwa Allah selalu memilihkan yang terbaik untuk hamba-Nya. Ingatkah kita dengan cerita Nabi Musa dan seorang hamba saleh yang bernama Khidir ?? Mula-mula Nabi Musa memohon untuk menimba ilmu kepada orang yang ia kagumi itu. Walaupun sempat diragukan, akhirnya Nabi Musa diterima menjadi santri kilatnya dengan syarat tidak boleh banyak bertanya dan berkomentar atas apa yang akan disaksikan nanti.

Wocoen   Perangi Para Pembunuh Tuhan

Ketika perahu mulai bergerak, ternyata hamba saleh yang konon juga seorang Nabi menurut banyak pendapat itu sengaja melubangi salah satu papannya, sehingga Nabi Musa pun bertanya; “Apakah engkau sengaja melubangi perahu ini untuk menenggelamkan para penumpangnya ??” Tidak puas dengan pertanyaannya, nabi Musa pun lanjut berkomentar; “Salah besar, kamu”. Dengan tenang, Nabi Khidir pun merespon; “Benar kan ?? Apa yang aku katakan. Kamu tak kan sabar bersamaku.” Dengan perasaan penuh sesal, Nabi Musa pun memohon maaf atas kekhilafannya itu.

Selepas kejadian itu, keduanya melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, ternyata Nabi Musa menyaksikan kejanggalan berikutnya. Tanpa sebab, tiba-tiba Nabi Khidir menarik salah satu pemuda yang sedang bermain bersama kawan-kawannya untuk kemudian membunuhnya. Melihat kejadian aneh ini, Nabi Musa pun bertanya; “Kenapa anak sesuci itu kau bunuh ??” Tidak berhenti sampai pertanyaan, Nabi Musa yang tak habis pikir pun memberikan komentar; “Kamu sudah berbuat kemunkaran”. Dengan arif, Nabi Khidir pun menjawab; “Bagaimana ?? Bukannya aku sudah katakan. Kamu tak mungkin sabar bersamaku”. Karena sudah yang kedua kalinya, Nabi Musa pun agak sadar diri dengan menyampaikan permohonan maaf yang disertai catatan; andai ia bertanya kembali, maka ia akan pamit karena merasa benar-benar tidak pantas menemaninya.

Akhirnya perjalanan mereka berdua terhenti di kejadian ketiga, saat Nabi Musa menyarankan Nabi Khidir untuk meminta upah kepada penduduk sebuah negeri yang tidak mau menyambutnya padahal mereka hutang jasa kepada Nabi Khidir yang telah menegakkan salah satu dinding rumahnya yang hampir roboh. Nabi Khidir pun memutuskan untuk menyudahi perjalanannya bersama Nabi Musa; “Sudah ya, ini perpisahan antara aku dan kamu. Setelah ini, aku akan coba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, yang membuatmu tak sabar untuk selalu bertanya dan berkomentar”

Wocoen   Berpikir Holistik dalam Studi Islam
Imanuddin Muchtar
Imanuddin Muchtar Imamuddin Muchtar, kelahiran depok, pernah aktif di komunitas al-kindi dan memenangkan beberapa kali lomba debat berbahasa Arab tingkat nasional. Kini menekuni menjadi pelatih debat di UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.