PMII dan Konstelasi Kemajuan Nasional

Sebuah realitas yang tidak dapat dihindari adalah kemajuan teknologi sepanjang abad 21. Kini hadirnya teknologi dalam realitas kehidupan merupakan hal yang tidak dapat ditawar. Pasalnya sepakat atau tidak sepakat teknologi hadir menunjang seluruh aspek dalam kehidupan. Mulai dari aspek informasi, pengetahuan, ekonomi dan kebudayaan yang semuanya dapat dilihat dengan jelas jika kita refleksikan melalui satu poros yakni teknologi.

Hal tersebut menunjang segala mobilitas kehidupan. Semuanya menjadi serba gampang dan mudah dengan hadirnya teknologi. Mulai dari digital marketing, belanja online hingga kejahatan online yang mengikis cara berpikir dan bertindak.

Patut kita sepakati bahwa dengan teknologi segudang akselerasi dan mobilitas dalam aspek kehidupan akan menjadi lebih mudah. Acapkali kita gagap dalam menanggapinya. Kita terlena akan kegemerlapan teknologi sehingga seringkali lupa bahwa teori filosof Herakletos (540-480 SM) “You can not step twice into the same river; for the fresh waters are ever flwing upon you” bahwa realitas yang ada bukan karena ada akan tetapi yang ada karena adanya perlawanan. Segala sesuatu selalu tersusun dari pertentangan yang ada. Adanya kesatuan karena perlawanan, dengan perbedaan akan timbul keselarasan.

Sama halnya dengan teknologi yang dapat membawa segala aspek baik, serta menawarkan kemudahan dalam kehidupan yang dapat digapai melalui gawai. Namun perlu kita sadari bahwa teknologi juga membawa segudang dampak buruk.

Kemajuan teknologi tidak dapat kita pandang hanya dengan satu dimensi. Hal ini seharusnya menyadarkan kita untuk senantiasa dapat merefleksikan kemajuan teknologi tersebut. Teknologi hendaknya juga kita manfaatkan dengan baik dalam upaya melakukan pembangunan daerah.

Milan Kundera, penulis asal Ceko pernah mengatakan bahwa kemajuan suatu zaman tidak akan pernah terjadi apabila literasi masih rendah. Jika dikaitkan dengan realitas yang terjadi dengan adanya arus globalisasi, pendapat terserbut memang sangat relevan.

Platform digital mengikis otak seseorang sehingga menolak upaya ikhtiar berupa literasi. Cukup melalui Google segala persoalan sosial akan terjawab. Hal ini menjadi sesuatu yang memang perlu diperhatikan, bahwa kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh berapa banyak literatur bangsa tersebut.

Persoalan dalam mengawal kemajuan dan perubahan dirasa belum lengkap apabila tidak adanya konstelasi atau hubungan satu dengan yang lain; rakyat dengan pemerintah, dan produsen dengan konsumen. Maka konstelasi merupakan hal nyata yang mestinya harus terwujud. Salah satu permasalahan kesejangan yang terjadi hari ini adalah merupakan potret bahwa tidak adanya keterkaitan atau konstelasi antara beberapa elemen baik pemerintah maupun rakyat.

Seharusnya dengan permasalahan kesenjangan yang konkret tersebut senantiasa menyadarkan dan memperbaiki pola hubungan antar keterkaitan elemen. Pergerakan Mahasisiwa Islam Indonesia (PMII) yang merupakan organisasi mahasiswa dengan basis masa terbesar di Indonesia seharusnya mampu mengakomodasi hal tersebut, mengingat peran seorang mahasiswa adalah sebagai agent of control.

Tentu sinergi dengan poros kaum muda sangat diperlukan pemerintah dalam melakukan pembangunan nasional. Gelar “wakil rakyat” tampaknya mesti disematkan kepada mahasiswa pergerakan, mengingat mereka berangkat dari arus pinggiran. Atau dengan kata lain bahwa basis secara local wisdom mahasiswa berasal dari daerah dengan membawa misi kemakmuran, yang tentu gagasannya mampu disuarakan kepada elite pemerintah, mengingat bahwa mahasiswa kaya akan intelektual dan formula-formula baru.

Sejarah bangsa indonesia adalah ketertindasan. Oleh karenya peran PMII dalam konstelasi pembangunan nasional merupakan peran yang tidak dapat ditawar. Dengan dalih kemakmuran, alih-alih reformasi membuat masyarakat percaya, malah kesenjangan yang terjadi. Penulis kembali menegaskan bahwa reformasi sejati akan terwujud dengan melalui konstelasi hubungan antar elemen bangsa.

Dalam hal ini salah satu strategi yang kembali diterapkan selain menyampaikan suara rakyat adalah mengawal pemeratan ekonomi, yang diwujudkan dengan membangun ekonomi berbasis kreativitas melalui pelatihan dan workshop. Dengan didampingi tenaga kompeten diharapkan mampu secara perlahan menjadikan langkah dan cita-cita pembangunan tersebut menjadi nyata.

Selain daripada itu kaderisasi formal sebagai bentuk usaha menyiapkan sumbangsih pikiran dan tenaga generasi mendatang menjadi sebuah upaya yang tak kalah pentingnya. Salah satu kesuksesan dalam merawat identitas gerakan adalah dengan mengawal kaderisasi formal sebagai indoktrinasi dan pemetaan potensi, agar pos-pos yang diisi tidak semata hanya dalam birokrasi kepemerintahan dengan menjadi aparatur negara. PMII juga perlu mengisi pos-pos yang lain; di sektor ekonomi maupun lainnya agar dapat memajukan pembangunan nasinal serta menerapkan nilai-nilai dan visi ke-PMII-an. PMII hadir karena tantangan zaman yang mesti diselesaikan. PMII akan selalu relevan dalam kondisi dan situasi apapun.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Denmas Amirul Haq 1 Article
Aktivis PMII, kontributor NU Online Jombang, dan menempuh pendidikan di Universitas KH A Wahab Hasbullah Jombang. Berasal dari Lampung.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.