Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Puasa dan Kebaikan

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 0 views

Makan dan minum adalah hal yang baik, namun keduanya dilarang ketika kita berpuasa. Begitu juga dengan melampiaskan syahwat libido, bagi orang yang sudah menikah pun sah-sah saja melakukannya, tapi juga dilarang ketika sedang menjalankan ibadah puasa.

Menarik jika direnungkan kembali, kenapa yang dilarang adalah hal yang baik, dan justru hal yang kurang baik, seperti sombong, benci, memfitnah, menggosip, berhianat, korupsi, mencuri, menghina, tidak adil, semena-mena, merendahkan orang lain, bertengkar, iri, dengki, dll. kok malah dianggap tidak membatalkan puasa. Ada apa gerangan yang terjadi? Kok seolah-olah bukan hanya perbuatan jelek saja yang perlu di-empet (ditahan), perbuatan baik pun ternyata juga perlu diempet.

Sebagai manusia, kita telah diberi piranti yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yakni akal. Apakah berhenti sampai “dapat membedakan” saja? tentu saja tidak. Sebagai manusia yang waras, setelah mampu membedakan tentu dia akan melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Maka sangat wajar jika ada larangan untuk melakukan hal yang buruk dan perintah untuk menjalankan hal yang baik, tanpa dilarang pun orang yang waras tentu akan meninggalkan keburukan.

Selain baik dan buruk, ada pula yang dinamakan benar dan salah. Sesuatu yang benar belum tentu baik, dan begitu pula sesuatu yang salah belum tentu buruk. Banyak hal benar namun buruk, seperti kejujuran.

Jujur dalam membicarakan kejelekan orang lain, jujur dalam memberikan contekan ketika ujian, jujur ketika menyombongkan diri dan lain-lain.

Selain sombong, menghina, mencaci, dan memaki pun adalah perkataan jujur, tapi hal itu tentu akan dinilai tidak baik jika dilakukan. Begitu juga dengan makan dan minum, melakukan kedua bukanlah hal yang buruk, dan sesuai dengan apa yang tertulis dalam Al-Qur’an, selama tidak berlebihan, makan dan minum masih bisa dianggap hal yang baik.

Darisana dapat kita ketahui bahwa hal yang baik itu bersifat dinamis. Kebaikan sangat bergantung pada tempat, waktu, keadaan, dan siapa yang mengerjakannya. Perlu presisi dalam menjalankan kebaikan.

Dalam rangka melatih presisi kala melakukan kebaikan itulah ibadah ngempet/menahan perlu dilakukan. Karena itu adalah hal yang baik, maka tidak perlu sampai dilarang, cukup ditahan saja demi terlatihnya diri dalam membaca presisi tadi.

Oleh karenanya, perintah yang digunakan untuk menanggapi hal yang dianggap baik adalah ngempet atau menahannya. Sedangkan untuk hal-hal yang buruk, kita diperintahkan meninggalkannya.

Harapannya, dengan berpuasa di bulan Ramadhan ini, orang tidak hanya bisa menahan lapar dan dahaga saja. Namun juga berhasil melatih diri agar bisa membaca presisi kebaikan.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.