Puisi

Puisi-puisi Albila Nurfadilah; Tanah Air Fatamorgana

Tanah Air Fatamorgana

Deru ombak memecah sendu

Genangan biru

Tak lagi membiru

Air garam bercampur timbal

Takjauh beda dengan otakmu yang bebal

Kini dicemari  film-film tak bermoral

Sementara hatimu sendiriā€¦

Timbul tenggelam dalam ambisi

Berjibaku, berdesakan berebut kursi

Lalu saat suara hati kami dibacakan

Kau pura-pura tuli!!!

 

Lantas apa  yang kaulakukan di atas sana?

Saat beludru hijau khatulistiwa

Dikotori tangan-tangan penuh dosa

Dan keindahan negrimu yang dulu

Tinggal fatamorgana

Sajak Dingin

1.

Sehelai daun terhempas ke tanah luka

Lirih mengucap doa tanda tanya

Siapakah yang menggiring angin menuju bumi romansa?

Ataukah Tuan telah menipuku atas janji yang disampaikan hujan kemarin lusa?

Aku bingung.

Kejora mata rebah di wajah rindu.

Lantas bersahutan menggaungkan doa yang tak pasti dari mana bermula

Beku

Sajak-sajakku mulai menggigil disapa dilema

Bait-bait asing mana lagi yang berbagi rahasia?

Atau sehelai daun memilih untuk mengering tanpa nama

Luruh begitu saja

2.

Berganti atmosfir, rasanya rindu masih juga membatu.

Mungkinkah udara dingin yang kemarin membekukan seberkas senyum?

Ataukah aku yang telah berubah menjadi alien di mata mereka?

Berjuta kali sebuah nama baru menggema di langit.

Beradu dengan puisi angin yang dingin.

Disambut nyanyian do’a yang mendayu-dayu.

Ah, siapa lagi yang sedang  mengetuk pintu?

3.

Siapalah kau, siapalah aku

Kita hanya manusia yang legam karena dosa

Sembab karena luka

Patah-patah karena cinta

Mengemis harapan dengan doa-doa pada Dia

 

 

JANGAN MENANGIS

Jangan menangis

Duhai Indonesiaku sayang

Jangan biarkan bumi dihujani air mata

Karena masih banyak ladang belum ditanami

Masih banyak benih belum tersemai

Dan rumput-rumput nakal

Belum usai disiangi

Wocoen   SENJATA PARA ELITE POLITIK ZAMAN NOW

    Jangan biarkan tanah kami becek darah lagi

Karena masih banyak sumur belum digali

Banyak  gunung belum didaki

Sungai kecil kami

Belum sampai ke muara

Jangan menangis

Jangan biarkan tikus-tikus menggerogoti lumbung emas

Lumbung gandum kami

Sementara kursi-kursi tinggi

Dipatahkan kaki-kakinya

Kumohon jangan menangis

Jangan biarkan senja datang terlalu pagi

Karena burung-burung kecil masih ingin bernyanyi

Masih setia menunggu bukti

Janji kehidupan yang lebih baik

Masih jadi mimpi bagi kami

Tags

Albila Nurfadilah

Albila Nurfadilah, biasa dipanggil Albila. Lahir di Kediri, 25 Juni 2001. Mencintai sastra sejak kecil tapi tidak berencana menikahi puisi. Mahasiswa Jurusan Sastra Arab di Universitas Negeri Malang.

Related Articles

2 Comments

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close