Puisi

PUISI-PUISI DAFFA RANDAI

Memperbaharui Kesedihan

 

bagaimana mengingat kau, kekasih

telah menjelma terapi untuk memperbaharui

; kesedihan-kesedihanku selama ini.

 

semisal sehari itu kau hadir buat meminjam senyumku,

tetapi untuk yang terakhir sebelum kau meninggalkanku.

lalu, kesediaan semacam apa yang musti aku adakan,

sementara ketidakrelaan jauh lebih ada dan berlipat-lipat?

 

bagaimana mengingat kau, kekasih

telah memaksa batinku menerka bahwa kau

; semacam wujud daur ulang dari segala ketidakbahagiaan.

 

semisal kupinjam jarimu sehari untuk sedia kulingkari,

dengan segala tulusku, meniatkan kau jadi biniku, tapi

segala menolak, segala mengelak, termasuk kau

; satu-satunya mahluk yang telah sublim dalam doa.

2018

Catatan Hari Yang Haru

Lima anak sore itu,

berkerumun di kursi waktu

sambil menelan bibir masing-masing.

Mereka girang bernyanyi dari mulut-

mulut daun yang gugur, bersajak

dengan ranting-ranting yang

; melayang dikudang angin.

Mereka telanjang, melepas malu pada

serat-serat matanya sambil membinari jarak

pada sepasang alisnya.

Mereka tertawa menyaksikan burung-

burung bermain biola di lantai langit

yang melata menyusun sangkar

dan lalu diam bersarang

; di ketiadaan berabad-abad.

2017

 

Kota Musti Berduka

Udara mengikat kesunyian.

pagar-pagar tak bermulut berlumut dan

berdebu ditapai pertapa; sepasang tubuh

yang lelah terpasung di keriuhan kota.

mata lampu sedih, seduh malam

yang lusuh, hari-hari panjang terulur

; dan tak tersudahi.

Setapak dan tapak kaki berapi

langkah lain menepis segala tapi.

tak ada keringat mengalir hulu ke hilir,

di depan ada tanpa kata ‘tak’

segala ditakdirkan untuk benar-

; benar ada, dan harus!

Mata lampu sedih, seduh  malam

yang lusuh, hari-hari panjang tersudahi.

sejak berita menyusun pesan: “dua pemulung

meninggal tertabrak pengendara tak dikenal.”

sebuah kota musti berduka, sebab sepasang pertapa

Wocoen   Puisi Fikri Aulia Rahman - Senja

; sudah tak ada kini, dia.

2018

Tags

Daffa Randai

lahir di Srimulyo, Madang Suku II, Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan pada 22 November 1996. Alumnus siswa SMA Negeri 1 Belitang (2015) dan detik ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Salah seorang inisiator terbentuknya komunitas Pura-Pura Penyair.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close