Rembukan.com Rembukan.com merupakan sebuah wadah yang dibentuk oleh sekelompok pemuda desa yang merasa terpanggil untuk ikut bercanda atas perkembangan bangsa, baik dalam masalah moral, sosial keagamaan, politik, hukum hingga sastra. Wadah ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi pikiran-pikiran serta suara-suara yang turut ingin membercandai keadaan sosial. Tidak peduli seberapapun besarnya perbedaan di antara suara tersebut, Rembukan.com ingin menjadikan dirinya sebagai wadah atas perbedaan pikiran tersebut. Karena itulah kemudian dipilih kata rembukan sebagai representasi atas sikap diantara orang-orang di dalamnya yang meskipun memiliki pendapat serta pemikiran yang berbeda. Namun tetap diharapkan bisa berbicara dengan pikiran yang jernih serta dari hati ke hati, bukan dengan emosi.

PUISI PUISI HUDAN DARDIRI (SASMITA)

Rembukan.com 56 sec read 1 views

kopiku

SASMITA

Biarkan sejenak ia merabah gelisah bersama remang matanya,

Sedang hujanpun tiada henti bodohi pertiwi menggigil

Denyut waktu berkecamuk tiada jeda

Terbujur peluh pemuda di penghujung senja kesumba

 

Pemuda yang matanya telah lama mengakar dendam

Tersaruk-maruk durjana keluh menumpuk

Hujanpun tiada reda menyiram belantara muram

Hanya ia dan sasmita menuntaskan pementasan geram

 

Dunia seteguk duka di liang matanya

Secercap airmata ia jadikan peraduan

Sedang biru udara telah banyak di sibukan

Kembali ia dan sasmita terhakimi kelesuan

 

Gelegar halilintar menyambar lamunan

Menuntaskan pementasan sejenak barakan geram

Ia dan sasmita tiada patah sebab kesemuan

Meski tumpah-serapah tergadai senja kesumba penghambaan.

 

SECANGKIR TUHAN

Secangkir pedih mengalun syahduq

Di bawah pilar bersandar pria menggerutu

Jejak setapak tak lagi mampu ia pijak sebab gemuruh

Gaduh kelabu mengejek dalam sembilu

 

Aku pria itu, akulah pria itu

Beranjak bangun dari lelap pertapaan

Berharap Sang Hyang Esa mencabut khalut sembilu

Terhanyut sukamaku beku di ujung ubun

 

Dzikrullah. Dzikrullah terbawa terbang melayang bermandi embun,

Sesekali kuintip dalam pejam

Tak kutemui awan jua tebaran bintang

Gemerlap kerdip sepintas hilang

 

Gelenjot angin yang bertandang

Kepada cahaya, lupakan sebuah nama di mataku

Sebab mataku adalah malam yang terus saja memar

Tak ada sama sekali namanya di antara nyala itu.

 

Semuanya sama bagai duka

Tak ada paksaan untuk mencintai-Nya

Akulah pria itu, di antara lima waktu yang berjaga

Tiada satupun darinya yang kukandung

Selain hanya mengenalnya.

 

 

 

[author title=”Penulis : RIO HUDAN DARDIRI” image=”https://mendidik.web.id/”]Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unhasy Tebuireng Jombang. Selain menulis juga aktif di sanggar Tari dan Teater [/author]

Rembukan.com
Rembukan.com Rembukan.com merupakan sebuah wadah yang dibentuk oleh sekelompok pemuda desa yang merasa terpanggil untuk ikut bercanda atas perkembangan bangsa, baik dalam masalah moral, sosial keagamaan, politik, hukum hingga sastra. Wadah ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi pikiran-pikiran serta suara-suara yang turut ingin membercandai keadaan sosial. Tidak peduli seberapapun besarnya perbedaan di antara suara tersebut, Rembukan.com ingin menjadikan dirinya sebagai wadah atas perbedaan pikiran tersebut. Karena itulah kemudian dipilih kata rembukan sebagai representasi atas sikap diantara orang-orang di dalamnya yang meskipun memiliki pendapat serta pemikiran yang berbeda. Namun tetap diharapkan bisa berbicara dengan pikiran yang jernih serta dari hati ke hati, bukan dengan emosi.

Bertemu Khidir

Puan Rinai Puan Rinai
14 sec read

Sujud Covid

Khairil Anwar Khairil Anwar
12 sec read

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.