Realitas Pendidikan di Masa Pandemi

Setiap pagi para guru akan mengirim tugas-tugas tanpa memperhatikan apakah murid -murid ini sudah lancar menulis serta membaca, karena itu bukan prioritas. Hal ini berlaku untuk kalangan guru TK, dan SD. Sebab tanggung jawab anak bisa membaca, menulis lancar, sekarang itu adalah tugas orang tuanya. Berbeda dengan kita dulu.

Bagi orang tuanya yang cerdas maka alhamdulilah si anak akan mampu untuk mengikuti pembelajaran yang diberikan. Akan tetapi jika orang tua yang tidak memiliki ilmu untuk ini, maka anaknya akan tetap tidak mampu melakukan apa-apa. Dan yang pasti tugas tetap harus dikumpulkan bagaimana pun caranya.

Memang benar zaman telah berubah. Jadi tak ada yang bisa disalahkan kecuali Mbak Coronawati yang hadir di belahan bumi ini. Untuk yang SMP setiap pagi guru akan menyuruh mengisi daftar hadir murid-murid di link yang sudah disediakan.

Sebagian ada yang memberikan materi via Zoom Meeting atau Google Meet, dan menerangkannya walau dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Ini patut diapresiasi.

Sebagian guru hanya men-share tugas tanpa ada penjelasan apapun, dan siswa tidak boleh chat pribadi ketika ingin bertanya. Namun beliau juga lupa untuk membuka grup kelas ketika ada siswa yang bertanya di sana. Akhirnya menjadikan guru berlaku bodo amat, yang penting tugas mereka terkumpul.

Prioritas utama guru adalah tugas dikumpulkan dan diberi nilai, tanpa mengetahui tugas tersebut ditulis oleh si anak atau orang tuanya, tanpa si anak tersebut paham dan mengerti atau tidak dengan tugas yang diberikan. Ini berlaku untuk tingkat TK dan SD.

Sedangkan untuk SMP sedikit ketat, siswa harus menulis sendiri, namun jika ketahuan tulisan berbeda maka tugas tidak akan di terima. Hal ini patut diacungi jempol.

Lalu mengadakan pertemuan orang tua wali melalui Zoom Meeting dan membahas serta mengingatkan harus menjaga protokol kesehatan. Kemudian memberitahukan agar orang tua harus sabar dalam membimbing anak-anak ketika pembelajaran daring, dan guru merasa telah melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya di masa pandemi. Tidak kalah penting, guru juga mengingatkan pembayaran uang sekolah, yang katanya gratis namun nyatanya masih banyak tetek bengek di dalamnya.

Padahal yang susah payah mengajar adalah orang tua, tapi tetap uang diserahkan ke pihak sekolah. Orang tua harus gigit jari, rugi tenaga, dan materi sebab menganggap ini semua demi sang buah hati sehingga memang harus rela bekorban harta dan waktu.

Sekolah daring bagi orang tua yang anaknya masih duduk di bangku TK, SD dan SMP

Ketika guru men-share materi, si anak yang duduk di bangku TK dan SD sebagaian mungkin masih molor, bahkan masih ada yang ngompol diperaduan menikmati tidurnya tanpa rasa berdosa. Di lain sisi, mereka yang SMP akan kembali tidur tanpa rasa bersalah setelah mengisi daftar hadir.

Ketika ibu memanggil untuk mengerjakan tugas, maka anak-anaknya yang TK atau SD akan berdoa diiringi tangisan kepada Allah, dengan ucapan: “ya Allah kapan ini akan selesai?“. Dan pada akhirnya pertengkaran pun terjadi mengalahkan pertengkaaran pasangan suami istri yang meributkan tentang perselingkuhan dalam rumah tangga. Pertengkaran terjadi antara ibu dan anak sampai tugas selesai.

Bagi anak yang suka belajar, akan mudah diatur dan tidak menghabiskan waktu yang lama dalam memerintahkan agar segera belajar. Setelah kegiatan, maka akan dilanjutkan dengan bermain. Ada sebagian yang menyukai alam, maka akan bermain di luar rumah. Bagi yang suka gadget, maka akan memegang handphone sampai malam pun tiba. Alhasil ilmu kurang, malah hanya kecanduan handphone.

Kehidupan emak, ibu, mama atau mami selama anak-anaknya sekolah daring

Dari pagi setelah salat Subuh, sambil berbaring maka orang tua akan standby memengang handphone, berusaha melek untuk menjadi satpam menunggu notifikasi dari group WA sekolah anak agar tidak ketinggalan informasi dari pihak sekolah.

Bagi yang mempunyai anak SMP dan handphone-nya dipakai bersamaan dengan orang tua, maka sebagian akan menunggu informasi untuk pengambilan absensi secara online, setelah itu aktivitas berkutat antara sumur, kasur dan dapur, yang tak kunjung selesai sampai malam tiba.

Ketika mulai mendampingi pembelajaran daring untuk yang mempunyai anak TK atau SD maka akan terjadi baku hantam. Sementara untuk yang mempunyai anak SMP akan sedikit tenang, karena mereka sudah mulai paham dengan tugasnya.

Namun orang tua diharuskan bolak-balik melihat kegiatan anak agar tidak kecolongan karena mereka bisa memanfaatkan momen belajar daring untuk bermain game, YouTube atau lain sebagainya selama kegiatan proses belajar berlangsung. Sehingga mengulur waktu untuk penyelesaian tugas.

Hal ini sekali lagi tidak ada yang bisa disalahkan karena inilah realitasnya. Terlepas betul atau tidak, bayangan yang mengerikan akan terjadi di masa depan jika pandemi tidak segera berakhir.

Hal ini juga menunjukkan betapa mahalnya pendidikan pada zaman sekarang ini, yang entah ada bobot atau tidak. Untuk itu mari kita semua berdoa khusyuk kepada Allah SWT agar pandemi segera berakhir. Dan jika ada oknum-oknum di wilayah pendidikan nasional yang memanfaatkan pandemi ini untuk kepentingan pribadi maupun kelompok, semoga Tuhan membukakan pintu hati mereka untuk segera bertobat, agar masa depan anak-anak kita tidak terancam.

Samarinda, 09 Agustus 2021

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Sri Wahyuni 1 Article
Dilahirkan pada tanggal 1 Januari 1984. Dia terlahir sebagai anak bungsu dari 3 orang bersaudara. Berasal dari suku Minang. Dari kecil jarang sekali memakan yang namanya mi. Di karuniai 3 orang anak laki- laki.Motto dalam hidupnya selalu berusaha menjadi yang terbaik dari yang sudah-sudah, belajar dan terus belajar, hingga akhir hayat dan tak pernah punya kamus penyesalan dalam hidup karena dia yakin Allah Maha Penyayang lagi Pemurah.Telah menerbitkan beberapa buku solo, dan beberapa buku antologi. Jejaknya bisa Anda ikuti di FB Sriwahyuni, MA.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.