Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Refleksi : Menyelami Lailatulqadar

Neyla Hamadah 1 min read 0 views

Jika saya menyebut kata malam di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan bagian otak lobus temporal saya langsung mengarah ke malam kemuliaan yang bagi saya sebagai awam serasa bagai pungguk merindukan Lailatulqadar. Sepanjang purnama yang saya lewati dari beberapa Ramadan yang sudah saya lalui, sepertinya saya belum pernah merasakan mendapatkan malam yang berlimpah pahala seperti yang disebutkan dalam manuskrip-manuskrip suci (Kalau saya pernah mendapatkannya mungkin sekarang saya sudah jadi orang bener hehe)

Bukan, bukan karena saya merasa putus asa, justru saya masih semangat hingga hari ini karena masih memiliki harapan, antara lain harapan mendapatkan Lailatulqadar. Yang semoga dengan keberkahan Lailatulqadar bisa menjadikan saya manusia yang benar. Sebab baik belum tentu benar, tetapi benar insyaallah pasti baik. Itu menurut persepsi saya. Mohon maaf lahir batin jika keliru (Kebetulan mau lebaran)

Saya mencoba merunut ke belakang, mengingat bagaimana usaha saya dalam proses pencarian Lailatulqadar. Terutama ketika di pesantren. Saya begitu menggebu mengejar, cenderung egois. Egois sejak dalam pikiran. Pikiran saya mengatakan “Bagaimanapun saya harus mendapatkannya, jangan sampai kalah dengan teman-teman yang lain, saya akan iri jika teman saya mendapatkan sementara saya tidak.” dengan perasaan yang kemrungsung.

Seperti ada perlombaan tanpa kepanitiaan. Seperti ada kompetisi demi sebuah kejuaraan. Lalu dengan khusyuk yang dipaksakan saya mulai berjaga setelah tarawih memandang langit, dengan memegang mushaf. Melantunkan ayat-ayat suci pun disyahdukan.

Kemudian saya mulai mengantuk. Saya merebahkan diri sebentar demi menyambut sepertiga malam untuk melaksanakan tahajud. Dengan masih setengah mengantuk saya paksakan diri bangun, beranjak dari bantal yang begitu menggoda. Mengambil wudu kemudian menyendiri ke tempat ketika hanya ada diri saya dan kesunyian, demi bisa bermunajat lebih khusyuk. Ritual ibadah pengejaran Lailatulqadar seperti yang saya lakukan di pesantren pun seterusnya menjadi sebuah kebiasaan di luar kehidupan pesantren.

Kini saya menyadari dalam kesadaran orang awam, bahwa ibadah Lailatulqadar mungkin bukanlah pengejaran pahala pada malam-malam itu saja. Bukan hanya ibadah bersifat ritual saja. Seolah dengan ritualitas ibadah tersebut kita sudah cukup merasa pantas mendapatkan Lailatulqadar. Seolah ibadah kita sudah sangat sempurna. Padahal mungkin hanya hari-hari itu kita beribadah (memaksa) khusyuk. Sementara di hari yang lain bolong-bolong.

Bagaimana jika kita berkeras hati mendapatkannya, kemudian tanpa kita sadari sisi hati kita yang lain berkata “Malam kemuliaan ini hanya diperuntukkan untuk yang sempurna ibadahnya, khusyuk ibadahnya dan dia adalah diriku.” Tapi pada kenyataannya hanya syahdu dan khusyuk pada malam-malam itu. Sungguh celah hati itu sangat mudah disusupi tanpa kita sadari.

Barangkali Lailatulqadar hanya bisa dirasakan oleh jiwa yang tenang, jiwa yang damai, yang berpasrah sejak dalam pikiran. Bukan yang kemrungsung. Yang tidak hanya mementingkan pahala seperti mengejar dunia saja. Penuh perhitungan untung dan rugi.

Barangkali Lailatulqadar tidak hanya diperoleh oleh mereka yang mengerjakan ibadah mahda saja tetapi juga berlaku bagi mereka yang melakukan amalan sosial: para dokter dan perawat, petani, kurir, nelayan, bahkan Ibu yang baru melahirkan yang setiap hari begadang menyusui anaknya.

Itulah mengapa makna esoterik (bersifat rahasia) Lailatulqadar lebih utama diperkenalkan ketimbang fakta malamnya. Boleh jadi seorang hamba justru merasakan keheningan dan kekhusyukannya di tengah siang bolong, sebab malam harinya penuh kesibukan rasional, sehingga malamnya harus dilewatkan di tempat ia bekerja.

Lailatulqadar adalah bentuk kemahapengasihan Tuhan, setelah bulan-bulan lainnya kita terasing dalam kehidupan yang kering. Maka rahasia Lailatulqadar diharapkan mampu membuat kita pulang ke kampung halaman rohaniah yang tenang dan sejuk.

Dan hingga hari ini saya yang awam ini masih berproses menyelami makna Lailatulqadar.

Neyla Hamadah
Neyla Hamadah Mahasiswa Ekonomi Manajemen UNU Jogja

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.