Rembulan Semerah Darah di Langit Kurusetra

Rembulan sedang purnama di langit Kurusetra
Ketika anak-anak Pandu ngelmu kepada Resi Durna
Sang Begawan dari Sokalima,
Gladi menthang jemparing, merentang garis takdir

Lihatlah panah Si kembar Nakula-Sadewa
Warastranya hanya berdesing di udara
Sehampa asa menapaki jalan ksatria

Werkudara cuma meludah
“Jemparing hanya dipakai oleh para bedebah
Yang tak cukup jantan memandang mata musuh
Dengannya tak kujumpai nikmatnya kemenangan,
Melihat musuh yang sekarat dalam kekalahan.”

Yudhistira bahkan tak sanggup merentang itu langkap
“Senjata terbaik mestinya menguar dari diri pribadi:
cinta kasih dan pengampunan”
Memang begitulah dia, Sang Dharmaputra

Hanya Arjuna yang mampu
Bidikannya menembus Himanda, melampaui Kala,
tepat menancap di jantung Sasadara
Menumbuhkan setitik jumawa
“Ini lebih mudah dari membidik hati wanita,
Kelak akan kuwarisi Gandiwa
Entah dari Pukulun Agni atau Baruna,
Pasopati dari Bathara Manikmaya,
Pulanggeni, pun segala pusaka Dewata
Juga bidadari tercantik Suralaya.

Warastra dan wanodya, adakah yang lebih indah dari mereka?”

Mereka, anak turun Kuru
Bersiap menyongsong takdir,
Menggenapi jangka para waskita
Dan Sang Chandra yang marah
Berwarna semerah darah.
Di Kurusetra, kesumat akan membuncah
#Pakne_Sekar 02/4/2022

Menthang = menarik busur panah
Jemparing/Langkap = busur panah
Maruta = angin
Warastra = anak panah
Himanda = awan
Sasadara/Chandra = rembulan
Gandiwa = busur panah milik Dewa Agni & Dewa Baruna
Jangka = nubuat, ramalan
Waskita = orang pintar


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Rois 7 Articles
Seorang part time teacher dan full time parent. Mengajar -sekaligus belajar- mapel Bahasa Jawa. juga seorang atlit badminton amatir yang tidak akan takut menghadapi 'minions' ataupun 'the daddys'

1 Comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.