Rumit

Ada yang mengkhawatirkan dari gejala yang menimpa kita
dalam kegilaan pada kesalingan, seperti belajar berenang
dengan siasat yang tak tahu diri.
Sudah tahu pemula, tapi nekat berenang di laut terdalam.

Kita, barangkali tak bisa mengulang cara belajar mencinta
dengan cara yang sama. Suatu saat, kedalaman harus
dipertimbangkan atau nyawa bakal terancam.

Di laut yang jernih dan nampak menggoda untuk diarungi,
acapkali kita lunasi rindu yang memancing mata penuh arti
untuk menikmati biota, terumbu karang, dan bintang laut
di hati kita masing-masing,

dan barangkali masih banyak lagi yang menggeliat hulu-hilir
yang tak bisa kita sebutkan inci demi inci segala desir
tatkala kita saling mengarungi perasaan masing-masing
seperti yang tertulis dalam puisi yang terlalu ketat ini.

Kadang aku berpikir, apakah mungkin sebuah puisi
merangkum lengkap ulang-alik cinta kita yang amat ganjil?
Sudah tahu pemula, tapi nekat tak mengukur arus
yang mengundang sikap pandir.

Kita, sepasang pelari yang bosan melawan angin. Meredam
prinsip-prinsip yang selama ini dibentuk demi mencicipi hobi yang lain.
Memang, semula tenang-tenang damai,
meskipun sama-sama tahu konsekuensi yang nanti akan menagih.

Kekasih, mengertikah kau kini?
Makin ke sini makin teresapi:
betapa rumit cinta ini.

Kita, seperti sepasang kaki yang terjebak dalam rangka tubuh
pengabdi kesetiaan, dan tak mungkin saling pergi
jika tak ingin kehilangan.

Kekasih, mengertikah kau kini? Kita saling pengap mengatur nyawa
masing-masing. Cinta kalau hanya sekedar cinta
tanpa keyakinan dan ketetapan, mungkin hanya akan mencambahkan
kecemasan, dan mungkin juga akan buyar secepat benci pada kesalahan.

Sudah kubilang, mampukah kita menjalani derita ini?

Ah, kita yang keras kepala.
Sekarang hanya bisa bicara;
“Kan….”

Lalu kita saling menangis di kesunyian masing-masing.
Lalu kita saling meratap rindu dendam yang merayap di langit-langit kamar.
Lalu kita saling bertukar pesan sebelum akhirnya mengucap selamat tinggal.

Syukron MS, lahir di Probolinggo, 2001.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Syukron MS 4 Articles
lahir di Probolinggo, Juni 2001.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.