Salahkah Perilaku Tunduk Patuhnya Seorang Santri?

Melihat beberapa kali ada pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak santri, yang dilakukan oleh seorang Gus di kecamatan Ploso Jombang, juga seorang pengasuh salah satu pondok di kecamatan Ngoro Jombang, atau seorang kiai di Bandung dan mungkin di beberapa pesantren lainnya, menjadikan kita harus mulai melihat kembali apakah ada yang salah dengan pesantren. Apakah budaya santri yang tunduk patuh mengikuti apa yang diperintahkan oleh guru/kiai/Gus menjadi penyebab utama santri-santri bisa jadi sasaran empuk pelecehan seksual? Hingga perlukah budaya ini diadakan saja?

Bisa saja pemahaman bahwa santri harus tunduk patuh menyebabkan si santri dilecehkan, karena bisa juga si pelaku memanfaatkan sikap tunduk dan patuh si santri agar melayani nafsu syahwatnya yang perlu dikebiri itu. Tapi tidak berarti sikap yang dimiliki oleh santri ini harus dibuang dan dihilangkan, karena sikap tunduk dan patuh inilah yang menyebabkan seorang santri mudah untuk dibersihkan tabiat buruknya, lalu diganti dengan tabiat-tabiat terpuji, hingga dapat mempermudah metamorfosis seorang santri.

Dengan demikian, tidak salah bila seorang santri itu memiliki sikap tunduk dan patuh kepada seorang pendidik. Karena sudah seperti itu lah sikap ideal seorang santri. Lalu, yang salah adalah bila ada pendidik yang cabul. Kecabulan pendidik itulah yang salah, kecabulan sudah salah sejak masih dalam pikiran.

Oleh sebab itu, yang harus belajar etika dan tabiat yang baik itu bukan hanya seorang santri. Tapi, semua calon kiai atau calon pendidik wajib mempelajari etika dan tabiat yang baik dengan betul dan sungguh-sungguh. Hingga, kelak ketika ia sudah menjadi kiai ia sudah memiliki tabiat dan etika yang benar dan baik. Ia harus sudah paham betul bagaimana memperlakukan manusia dengan baik dan benar, ia juga sudah harus mampu berprilaku yang baik dan benar kepada para murid-muridnya.

Tidak heran, bila Hadratus Syaikh Muhammad Hasyim Asy’ari membuat kitab husus panduan beretika yang baik dalam mendidik, yakni kitab “adabul ‘alim wa muta’allim”. Oleh karena itulah, yang harus berakhlak tidak hanya murid, tapi guru pun harus berakhlak bahkan ketika berinteraksi dengan muridnya.

Jadi, tidak patut bila kita menyalahkan si korban, dalam hal ini adalah santri yang memiliki perilaku yang hormat, tunduk, dan patuh kepada gurunya. Karena yang salah tetap si pelaku, karena sebagaimanapun sikap seorang korban, kalau pelaku pelecehan seksual sudah tidak mampu membendung nafsu birahinya, tetap ia akan melakukan pelecehan tersebut dengan berbagai cara.

Hanya saja, perlu seorang santri pahami bahwa kita boleh tunduk dan patuh kepada pendidik kita, selama apa yang dikehendaki dan diperintahkan oleh si pendidik tidak bertentangan dengan syariat agama. Seperti, berdua-duaan saja dengan lawan jenis itu tidak boleh. Sebab itu, bila seorang santri apabila merasa curiga terhadap kehendak seorang pendidik sebaiknya ditinggalkan saja dan tidak usah ditaati.

Oleh karenanya, memilih dengan sungguh-sungguh siapa yang patut menjadi pendidik kita itu amatlah penting. Sebab, dari sanalah semua bermula, dan pilihan itulah yang lalu menentukan seseorang akan memperoleh pendidikan hingga ia menjadi pribadi yang baik, atau malah si pendidik itulah yang bakal merusak seseorang tersebut.

Karena pada kenyataannya, seorang Kiai, Gus, guru, ustadz, belum tentu memiliki akhlak yang baik, luar dan dalam. Kasus pelecehan seksual di beberapa pesantren seolah memaksa kita sadar bahwa, ada saja kiai yang cabul, Gus yang cabul, guru yang cabul, dan ustadz yang cabul. Padahal kalau dilihat dari luarnya saja, semua Kiai, Gus, guru, ataupun ustadz, itu seolah sudah memiliki etika dan tabiat yang baik. Saya rasa, pelaku pelecehan seksual itu, bila di depan mata banyak orang, ia pun berprilaku baik. Ini artinya, teliti dalam memilih guru itu hal yang teramat penting dan tidak bisa disepelekan. Tidak heran, bila dalam kitab akhlak yang masyhur di pesantren, yakni kitab ta’lim wa muta’allim, berpesan agar kalau perlu meneliti dan mengikuti kehidupan si guru selama beberapa waktu agar kita bisa tahu betul tabiat, pemikiran, dan etikanya.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 53 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.