Santri dan Keberimbangan

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) telah digelar di seluruh pondok pesantren seluruh Indonesia. Peringatan tersebut bisa dibilang hadiah terbesar dari negara kepada kaum santri, sebab peringatan tersebut dapat merefleksikan sejarah perjuangan kaum santri tempo dulu.

Uniknya, HSN tidak hanya dimeriahkan oleh kalangan santri di pondok pesantren saja, beberapa sekolah, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga pemerintahan pun turut serta dalam memeriahkan hari tersebut.

Dengan peringatan itu kaum santri seyogyanya tidak hanya sebatas memeriahkan saja, namun juga harus mengerti dan menghadirkan esensi dari sebuah peringatan tersebut. Seperti tema HSN pada tahun ini, “Santri Siaga Jiwa Raga”, baik secara dhohir maupun bathin santri dituntut selalu setia untuk full khidmah kepada agama maupun negara.

Dari tema di atas, dapat diperinci bahwa ekspresi dari siaga jiwa dapat dibentuk dengan spiritualitas yang baik. Spiritualitas akan menghadirkan akhlak yang baik secara vertikal maupun horizontal. Seperti apa yang didawuhkan Gus Dur : “ Esensi Islam tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, melainkan pada akhlak yang dilaksanakan”. Karakter yang baik harus ada pada setiap santri, dengan begitu santri akan dipercaya oleh masyarakat, sehingga masyarakat umum akan dapat lebih mengenal Islam dan percaya bahwa Islam adalah agama dengan budi pekerti yang baik. Selain itu, posisi-posisi strategis akan dipercayakan oleh masyarakat kepada santri untuk memegang amanah tersebut.

Sedangkan siaga raga dapat diekspresikan bahwa santri tidak boleh berhenti untuk belajar dan mengajar, serta berkreasi dan berinovasi. Dengan belajar, santri akan mendapatkan pengetahuan yang nantinya bentuk ekspresi dari ilmu yang bermanfaat dituangkan dalam bentuk mengajar atau dalam bentuk IPTEK secara kreatif dan inovatif. Tentunya ekspresi dari keilmuan tersebut didedikasikan untuk kemajuan agama dan negara. Kalau dulu ketika resolusi jihad kontribusi santri adalah mempertahankan negara, maka sekarang kontribusi santri terhadap negara adalah menjaga, mengembangkan dan memajukan negara.

Dari sikap santri di atas baik siaga jiwa maupun siaga raga saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan. Siaga jiwa untuk mengola bathiniyahnya, sedangkan siaga raga bentuk ekspresi dari hasil pengelolaan akal. Keilmuan yang tanpa dilandasi spiritualitas yang baik akan menjadikan ilmu itu tidak berguna. Sebagai contoh : ada seseorang yang bagus keilmuannya, namun tidak memiliki akhlak yang baik maka bisa saja melakukan korupsi bagi pejabat-pejabat penting.

Oleh sebab itu, sebagai santri kita harus mengimbangi keilmuan kita dengan akhlak yang baik, dengan begitu akan tercipta santri berkualitas yang berakhlakul karimah.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhammad Tareh Aziz 12 Articles
Muhammad Tareh Aziz seorang jomblowan yang berstatus santri. Lahir di Gresik pada 5 september 1995. Beralamatkan di Bedanten Bungah Gresik.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.