Sarung Santri dan Sandal kiai

Dikalangan santri sudah masyhur yang namanya Ngalap berkah kyai dan ghosob Punya teman (Mengambil sementara tanpa ijin pemiliknya), didunia peantren sudah terbiasa dengan ngalap berkah atau menharap doa barokah dari orang alim atau para kiyai, seperti Cium tangan, membalik sandal kiai, mengambil sisa makanan kiai dengan tujuan bisa mendapatkan keberkahan, hidup tenang, aman dan sejahtera seperti kyai tersebut. Bahkan ada juga yang lebih konyol dan unik, sebagian kalangan santri mengaplikasikannya dalam konteks ngalap barokah kelewatan batas.

Sarung Santri

Ini kisah tiga santri senior yang belum bisa meninggalkan tradisi ghasab. Sebut saja namanya Ali, Yusril dan Wildan. Tiga santri yang mondok di salah satu pesantren di Bondowoso.

Tiga santri itu sebenarnya adalah anak-anak yang cerdas. Hidup dan menyatu dengan pesantren sebelum usia remaja. Karena usia sudah dewasa, selain mondok mereka juga berkuliah di salah satu kampus swasta. Entah memang benar betah mondok atau sekedar ingin mengirit biaya hidup daripada ngekos atau sewa rumah kontrakan.

Para santri baru menganggap mereka adalah santri senior. Saking seniornya mereka, sering mendapat kepercayaan membantu mengelola acara-acara pondok. Juga diminta para Gus (sapaan putra kyai) untuk membantu banyak pekerjaan mereka. Sering juga diminta tolong para ustadz untuk membantu keamanan dan ketertiban pondok pesantren ketika mereka tidak ditempat.

Suatu hari di Jum’at pagi yang cerah. Tiga santri konco mesra ini mempunyai agenda penting: pelatihan organisasi mahasiswa. Mereka ternyata adalah aktivis-aktivis kampus yang akan merekrut anggota baru untuk organisasi.

Santri juga harus tampil necis dan bersih, begitu mereka berpikir. Apalagi berkegiatan bersama dengan mahasiswa lain yang bukan anak pondok pesantren. Jadilah mereka bertekad untuk tampil sebaik-baiknya dengan pakaian yang juga sebisa-bisanya harus yang terbaik.

Ali, yang mendapat jatah berbicara di jam pertama terlihat percaya diri dengan kain sarung tenun berwarna coklat yang dia kenakan.

“Kita harus bangga menjadi santri, ya harus pakai sarung tapi jangan yang kumal seperti celana kamu itu,” katanya kepada seorang kawan sambil tertawa mengejek.

Beda yusril. Santri yang sebenarnya juga anak seorang terpandang di kabupaten jember datang dengan baju koko putih berkera hitam di bagian lehernya. Tercium bau harum dan terlihat bekas lipatan rapi khas baju yang selesai disetrika. Kontras dengan sarung yang dipergunakan, meski bersih tapi tetap kucel tidak ada bekas setrika.

 “Santri harus bersih. Karena kebersihan adalah sebagian daripada iman,” katanya mantap.

wildan, beda lagi. Satu dari tiga sekawan itu juga berusaha tampil maksimal. Penampilan yang mencolok terlihat dari sandal dan peci yang dipergunakan. Peci hitam tampak baru dan terlihat hanya dipergunakan di momen-momen tertentu. Kaki dia yang agak kurang terawat terlihat lebih baik dengan sandal yang tercuci bersih.

Jam demi jam terlewati. Hingga akhirnya ada panggilan telepon dari ustad Mirza di ponsel milik wildan. Usai mengangkat telepon wildan terlihat tersenyum.

“Ust Mirza itu apa punya ilmu indra ke 6 ya? Kok bisa tahu kita pakai baju bagus buat datang di pelatihan ini,” tanyanya kepada dua orang temannya.

“Ust Mirza itu juga Gus kan, keturunan Kyai. Wajar kalau punya kelebihan karena sering tirakat. Nggak kayak sampeyan-sampeyan,” timpal seseorang yang mendengar obrolan tiga sekawan itu.

Setelah pulang ke pondok. Mereka mendapati kabar yang mengagetkan. Baju koko, peci, sarung, dan sandal yang dipersiapkan ustad Mirza dari rumah buat mengisi khutbah salat Jum’at mendadak raib ketika dititipkan di kamar santri.

Entah jadi apa tidak ustadz Mirza khutbah saat itu, karena tiga sekawan ini langsung lari meninggalkan barang-barang yang semula di ghasab karena saking malunya. Mereka kira perlengkapan salat itu milik santri lain. Ternyata korban mereka adalah gurunya sendiri.

Sandal Kiai

Suatu hari, Gus Dur melakukan safari keberbagai pesantren, atau dalam istilah santri, sowan ke kiai-kiai Sepuh atau kiai karismatik di Kabupaten bondowoso.

Sosok Kiai Mas -dimasa itu-, adalah tumpuan ummat dan umara’ untuk meminta doa barokah dengan berbagai hajatnya masing masing, Keilmuannya, amat mumpuni. Mulai dari fikih, hingga ilmu karomah. Tak aneh, jika Gus Dur pun takzim dan sowan kepada kiai ini.

Singkat cerita, tibalah rombongan Gus Dur di dhalem Kiyai Mas. Lantas, layaknya tamu, mereka pun dijamu dan berbincang santai dengan seluruh anggota rombongan. Perihal maksud dan tujuan Gus Dur sowan kepada Mbah Naj, seperti kebiasaan para kiai, hanya diketahui oleh dua ulama besar ini, empat mata.

Usai sowan, rombongan Gus Dur kala itu hendak salat berjemaah dimusholla pesantren yang letaknya bersampingan dengan rumah atau dhalem Sang kiai tersebut. Celaka, sandal Gus Dur tinggal satu. Pasangannya, hilang. Pengikut Gus Dur, santri, dan pengurus pondok pun mencari ke berbagai penjuru. Namun, satu sandal itu tak ditemukan.

Maka dengan kerelaan hati, Gus Dur meminjam sandal yang tersedia di halaman. Ia paham, tabiat santri yang suka meminjam tanpa bilang-bilang, sambil ketawa ketawa ala gus dur

“Gus Dur sangat paham dengan dunia santri. Beliau meyakini, bahwa santri yang mengambil itu tak berniat mencuri. Si santri hanya ingin karomah Gus Dur,” tutur ketua pondok dimasa itu.

Dengan kerelaan hati pula, Gus Dur, ketika berpamitan, meninggalkan satu sandalnya yang tertinggal. Oleh karena itu, si santri pun gembira bukan kepalang karena ia memperoleh sepasang sandal Gus Dur.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Ahmad Mirza Wildan 3 Articles
Biasa dipanggil Jendral. Beralamat di Sukun Malang. Menjadi seorang santri dan berprofesi sebagai seorang penulis.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.