Satu dari Beberapa Hal yang Bisa Kita Petik dari Berpuasa

Makan dan minum adalah hal yang baik, namun keduanya dilarang ketika kita berpuasa. Begitu juga dengan melampiaskan syahwat, bagi orang yang sudah menikah pun sah-sah saja melakukannya, tapi dia juga dilarang ketika si pelaku sedang menjalankan ibadah puasa.

Menarik jika direnungkan kembali, kenapa yang dilarang adalah hal yang baik, dan justru hal yang kurang baik, seperti sombong, benci, memfitnah, menggosip, berhianat, korupsi, mencuri, menghina, tidak adil, semena-mena, merendahkan orang lain, bertengkar, iri, dengki, dll. Kok malah dianggap tidak membatalkan puasa. Ada apa gerangan yang terjadi? Kok seolah-olah ternyata bukan hanya perbuatan jelek saja yang perlu di-empet, perbuatan baik pun ternyata juga perlu diempet/ditahan.

Sebagai manusia, kita telah diberi piranti yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yakni akal. Apakah berhenti sampai disitu saja? Tentu saja tidak. Sebagai manusia yang waras, setelah mampu membedakan tentu dia akan melakukan yang baik dan meninggalkan yang buruk. Maka sangat wajar jika ada larangan untuk melakukan hal yang buruk dan perintah untuk melakukan hal yang baik, tanpa dilarang pun orang yang waras tentu akan meninggalkan kejelekan.

Selain baik dan buruk, ada pula yang dinamakan benar dan salah. Sesuatu yang benar belum tentu baik, dan begitu pula sesuatu yang salah belum tentu buruk. Banyak hal benar namun buruk, seperti kejujuran. Namun sombong, menghina, mencaci, dan memaki adalah perkataan jujur, tapi hal itu tentu akan dinilai tidak baik jika dilakukan. Begitu juga dengan makan dan minum, melakukan kedua adalah benar, dan sesuai dengan apa yang tertulis dalam al-qur’an, selama tidak berlebihan, keduanya masih dalam taraf baik.

Oleh karenanya, perintah yang digunakan untuk hal yang dianggap baik adalah ngempet atau menahannya. Sedangkan untuk hal-hal yang buruk adalah meninggalkannya.

Seperti yang sudah pernah saya jelaskan, ngempet adalah sebuah usaha untuk menahan sesuatu yang sudah dianggapnya baik saat dirasa itu bukan waktu yang tepat, juga bukan momen yang tepat, dan bukan pula tempat yang tepat. Maka ngempet atau menahan itu sendiri ada sebuah kebijaksanaan, dimana dia mau mengalah dan lebih memilih memenangkan kebenaran dan kebaikan diluar dari dirinya.

Nah, dalam kehidupan ini ada banyak hal yang menurut kita benar dan menurut orang lain tidak. Ada pula hal yang baik bagi kita namun buruk bagi orang lain. Bahkan, sebelum keluar dari diri kita, hal yang benar saja itu belum tentu baik. Dari sana lah, keterampilan ngempet itu perlu dilakukan, agar apa yang diyakini benar dan baik oleh diri ini tidak berbenturan dengan kebenaran dan kebaikan yang diyakini oleh apa yang ada diluar diri kita.

About Muhamad Isbah Habibii 44 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.