Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Saya dan Banyak Orang Mungkin Pernah Bersikap Humblebragging

Hanif N. Isa 2 min read 0 views

Pernah bertemu dengan teman atau orang sambat? Tentu sering. Atau bahkan kita sendiri adalah orang yang sering sambat. Sambat karena tidak punya uang, sambat tidak punya waktu luang buat keluarga, sambat tidak punya pasangan, atau sambat tentang apa saja. Delivery mengeluh orang-orang tersebut pun bermacam-macam.

Lalu apa sih humblebragging itu? Apa hubungannya dengan sambat?

Sebenarnya humblebragging adalah bentuk riya yang dibalut dengan sikap mengeluh, merendahkan diri sendiri ataupun ungkapan komplain. Seseorang yang bersikap humblebragging sebetulnya hendak menunjukkan kelebihan yang ia miliki, namun penyampaiannya berupa sambat maupun protes.

Misalnya saya curhat kepada teman lalu berucap “saya bingung, bagaimana caranya agar Rembukan dot com ini bisa lebih baik dari sebelumnya? Saya sebagai pimpinan redaksi merasa sangat bertanggungjawab atas kemajuan media daring ini.”

Jika ucapan tersebut di atas saya sampaikan dengan perasaan bangga di hadapan seseorang yang bukan sesama pimpinan redaksi, atau orang yang mempunyai strata sosial yang dianggap tidak lebih tinggi dari seorang pimpinan redaksi suatu media, maka hal ini disebut humblebragging.

Saya mengatakan hal tersebut hanya sekadar ingin menunjukkan bahwa saya adalah seorang pimpinan redaksi Rembukan dot com. Saya hanya mencari kekaguman orang lain terhadap saya, dan ingin dilihat lebih baik daripada lawan bicara atas capaian ataupun jabatan yang saya miliki. Ini contoh. Jangan dianggap “tidak” serius. Hehe.

Ucapan di atas adalah humblebragging dengan bungkus sambat. Kita pernah mengeluh dengan model seperti ucapan di atas? Mungkin iya.

Dikutip dari IDN Times, yang melansir Iflscience, penelitian ini dipublikasikan di Journal of Personality and Social Psychology dan dipimpin oleh Ovul Sezer, seorang ilmuwan bidang perilaku di University of North Carolina, Chapel Hill. Sezer mengatakan bahwa orang seperti ini banyak ditemukan di media sosial maupun di lingkungan sekitar. Mereka akan cenderung tidak disukai orang ketika berbicara. Dari 646 orang yang diwawancarai dalam penelitian ini, 70%-nya mengaku mengalami fenomena tersebut dari orang lain di kesehariannya.

Saya beri contoh humblebragging yang lain. “Saya heran, kenapa Pak Kiai memilih saya sebagai menantu beliau? Padahal masih banyak santri lain yang lebih baik secara keilmuan dan lebih berakhlak mulia daripada saya.”

Teman-teman pernah menjumpai orang lain yang menggerutu dengan model seperti ucapan di atas? Humblebragging yang satu ini dibalut dengan bentuk protes. Seseorang seolah-olah protes atas sesuatu tapi sebenarnya ia sedang menunjukkan kelebihannya yang tidak dimiliki oleh setiap orang.

Humblebragging bagi banyak orang sangat menyebalkan. Sama seperti orang yang membual atau menyombongkan diri secara terang-terangan. Bedanya, meminjam teori Ushul Fiqh, humblebragging adalah bentuk mafhum mukholafah dari orang yang sedang berlaku takabur. Seseorang merendahkan diri sendiri, tapi mempunyai maksud tinggi hati dan mempromosikan diri.

Sama halnya dengan seseorang mempunyai sikap congkak yang disembunyikan di balik ketawadukan. “Sebenarnya saya ini santri bodoh. Ilmu agama saya juga tidak tinggi. Kemampuan saya dalam membaca kitab kuning juga tidak bagus-bagus amat. Walaupun begitu, alhamdulillah saya bisa juara baca kitab tingkat kabupaten.”

Dengan tetap melihat konteks, ucapan tersebut juga bisa termasuk dalam sikap humblebragging seseorang. Ia bersikap tawaduk, lalu menyampaikan ketawadukannya, dan menganggap tawaduknya tersebut adalah sebuah kemewahan yang ia miliki.

Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak juga cara menuju kesombongan. Cara seseorang berlaku sombong dan mencari pengakuan kian kompleks dan variatif. Jika kita mengingat-ingat kembali, iblis diusir dari surga bukan karena ia tidak percaya dengan keesaan Allah Swt, tapi karena sifat sombong dan merasa lebih baik daripada Adam.

Humblebragging bisa menimpa siapa saja. Tidak terkecuali asisten staf wakil presiden yang merasa dekat dengan kekuasaan daripada masyarakat umum, atau sekadar ketua RT yang merasa paling besar se-RT-nya.

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.