Sebuah Introspeksi Diri di Masa Pandemi

Sejak dialihkannya kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya berlangsung di dalam kelas menjadi metode daring, yaitu kegiatan pembelajaran jarak jauh yang guru membuat konten pembelajaran sedangkan peserta didik mengaksesnya dari rumah masing-masing. Ada yang menganggap ini adalah liburan, padahal semua ini dilakukan sebagai bentuk upaya mencegah penyebaran Covid-19 (Corona) yang meresahkan manusia.

Sehari, dua hari berlalu semua siswa tampak bergembira, karena mereka tidak lagi harus bangun pagi-pagi, menyiapkan beberapa buku, menyetrika seragam baju tertentu, buru-buru berlomba dengan waktu untuk segera sampai di sekolah tepat waktu. Hal yang serupa juga dialami oleh beberapa guru, karena dengan kebijakan baru, bak sekali dayung dua pulau terlampaui, kewajiban menyampaikan ilmu bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Dengan begitu para guru bisa mengerjakannya di rumah dan tidak lagi kurang waktu untuk berkumpul bersama anak cucu.

Namun sekali lagi, libur kali ini bukanlah liburan, melainkan upaya pencegahan penularan virus yang mengerikan. Social distancing yang diinstruksikan pemerintah membuat hampir seluruh elemen masyarakat mengisolasi diri di rumah masing-masing. Sehingga tanpa disadari berbagai kebutuhan pokok terus meningkat seiring meningkatnya jumlah kebutuhan anggota keluarga yang semuanya harus teratasi sendiri di dalam rumah. Ditambah anak-anak yang ingin dibuatkan makanan olahan ibu, atau sekadar camilan ini dan itu, ya berdiam diri di rumah menghadirkan imajinasi dan keinginan serta camilan yang lebih dibandingkan ketika beraktivitas di luar baik sekolah, kerja, maupun sekadar jalan-jalan.

Di sisi yang lain, sebagai seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan, tentu banyak hal yang dapat kita ambil untuk dijadikan pelajaran. Dengan pembelajaran dialihkan saya jadi tahu rasanya berkumpul dengan keluarga seharian, saya bisa membalas setiap pesan yang masuk di handphone, baik dari guru, murid, wali murid dan kawan.

Saya jadi tahu rasanya tidur siang dengan tenang. Bahkan saya juga tahu rasanya jenuh dan bosan, hingga kini tahu rasanya menonton televisi pada waktu siang.

Satu hal yang saya amati adalah teknologi semakin canggih dan telah mempermudah serta mempercepat akses informasi hingga arus global. Tak ayal di handphone, semua media sosial membahas Corona.

Radio, majalah, koran, hingga televisi semuanya memberitakan tentang Corona. Mulai dari perkembangan virus, cara mengatasinya, beberapa korban hingga mengisi waktu luang di tengah maraknya kasus tersebut. Anehnya beberapa acara televisi justru menyiarkan tentang kegiatan para artis mapun oknum tertentu yang menurut saya unfaedah bahkan terkesan tak bermoral.

Ada oknum yang sengaja memanfaatkan situasi genting ini justru dijadikan ajang untuk bisnis dan memperkaya diri, yaitu menjual masker, hand sanitizer, serta alat-alat kebersihan lainnya dengan harga yang tak lazim, yaitu sepuluh kali lipat atau bahkan lebih dari harga sebelumnya. Bagaimana bisa orang seperti itu mengambil keuntungan di tengah penderitaan sesama manusianya.

Televisi juga menyiarkan beberapa artis justru dengan pede mengunggah video joget-joget, makan-makan, hingga main TikTok dengan tertawa dan parahnya mereka juga dengan tanpa malu mengajak para viewers televisi.

Hai, di mana nuranimu? Sadarkah saudaramu sedang berjuang di luar sana? Para dokter dan tenaga medis berjihad mengobati pasien Corona, pedagang yang menganggur tidak ada pemasukan karena sepi dagangannya, bahkan fakir miskin yang kelaparan karena tidak bisa keluar bekerja sekadar mencari sesuap nasi untuk nafkah keluarganya.

Apakah itu salah? Tunggu dulu, tidak ada sedikitpun niat untuk menggurui, merasa paling benar apa lagi menyalahkan sesama makhluk fana. Tapi pernahkah kita berpikir kenapa semua ini terjadi? Adakah hikmah di balik semua ini? Kenapa manusia dijadikan sebagai Khalifatullah fil ardi? Bukankah Tuhan membekali kita dengan akal? Lalu untuk apa Tuhan menciptakan kita dengan segala kelebihan ini? Dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 190 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩٠

Artinya: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran: 190)

Coba kita renungkan sekali lagi, kenapa semua ini terjadi? Kenapa kita semua diberi kesempatan berdiam diri di rumah kita masing-masing? Bukankah keheningan adalah waktu yang pas untuk kita bermuhasabah diri? Kembali kepada jati diri manusia sejati, yakni menghamba dengan sebaik-baiknya penghambaan kepada Dzat yang Maha sempurna sebagaimana firman-Nya dalam QS. Adz-Dzariat: 56

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Artinya: Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi, menyembah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariat:56)

Dari sini, apakah kegiatan yang kita lakukan, dan hal-hal yang saya sebutkan tadi termasuk ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala? dan mumpung diberi kesempatan, mari kita cek bersama-sama, kita buka kitab suci kita, lalu kita renungkan bersama.

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Rifki Amirulloh 1 Article
Seorang bapak beristri dan beranak 1. Lahir pada 26 Juni 1996. Beralamat di Gumul Sukomulyo Kecamatan Pujon. Berdomisili di Dusun Ndoro karangwidoro Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.