Secangkir Tuhan

Secangkir pedih mengalun syahdu

Di bawah pilar bersandar pria menggerutu
Jejak setapak tak lagi mampu ia pijak sebab gemuruh
Gaduh kelabu mengejek dalam sembilu

Aku pria itu, akulah pria itu
Beranjak bangun dari lelap pertapaan
Berharap Sang Hyang Esa mencabut khalut sembilu
Terhanyut sukamaku beku di ujung ubun

Dzikrullah. Dzikrullah terbawa terbang melayang bermandi embun,
Sesekali kuintip dalam pejam
Tak kutemui awan jua tebaran bintang
Gemerlap kerdip sepintas hilang

Gelenjot angin yang bertandang
Kepada cahaya, lupakan sebuah nama di mataku
Sebab mataku adalah malam yang terus saja memar
Tak ada sama sekali namanya di antara nyala itu.

Semuanya sama bagai duka
Tak ada paksaan untuk mencintai-Nya
Akulah pria itu, di antara lima waktu yang berjaga
Tiada satupun darinya yang kukandung
Selain hanya mengenalnya.

About Rio Hudan Dardiri 1 Article
Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Unhasy Tebuireng Jombang. Selain menulis juga pernah aktif di sanggar Tari dan Teater

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.