Sehimpun Doa di Bulan Desember

Kami ikrarkan rintih kepada(M)u Sang Tuan

Injakanlah jejak-jejak langkah (M)u di lorong-lorog gang kumuh kami

Tataplah dengan sedu mimpi-mimpi kami yang tersapu air hujan

Dengarkan bisu suara kami yang terhimpit nasib-nasib sempit

Peganglah lutut dan bahu kami yang lelah dipasung matahari

Sampai berapa Desember lagi kami menanak masa pengasingan?

… .

Kami ucapkan segala penyesalan dosa kepada(M)u Sang Tuan

Bukalah lebar-lebar bilik pengampunan kepada kami

Sudah banyak anak cucu kami terjerembab dalam jebakan malam

Telah berlaksa kata umpatan kami berikan sebagai umpan

Dan dengan setia kami mengucap dusta setiap saat

Ampunilah dengan sebuah sabda baru bagi anak cucu kami

…. .

Kami mohon seberkas terang dari(M)u Sang Tuan

Berilah kami seberkas cahaya belas kasihan

Pandulah kami menapaki panggung sandiwara ini

Dan hanyutkan kami dalam dekap hening(M)u yang sejati

 

(Semarang, 2021)


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Thomas Elisa 1 Article
Thomas Elisa, lahir 21 September 1996 di kota Surakarta. Penulis tinggal di Pucangsawit RT 01/RW 03, Kecamatan Jebres, Surakarta. Penulis juga telah menyelesaikan program Strata-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) pada Juni 2018 lalu. Karya terbaru penulis adalah novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017) dan Hadiah Tak Terduga (2020). Karya-karya penulis terbaru berupa puisi dan opini di muat di media Pros Pemalang (2021), Tegas.Id (2021) dan Opini. Id. (2021) dan Sukusastra.com (2021). Penulis mengajar di SMA Kolese Loyola Semarang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.