Yusti Dwi Nurwendah Seorang perempuan super biasa yang lahir di Ponorogo, 20 Oktober 1995, dan kini tengah bersusah payah menelan pahitnya menuntut ilmu karena menyadari bahwa menjadi ‘bodoh dan awam’ itu merugikan.

Sekolah Berbasis Agama Tengah Naik Daun, Indikasi Masyarakat Mulai Siuman?

Yusti Dwi Nurwendah 2 min read 0 views

Reputasi sekolah-sekolah berbasis agama dewasa ini memang begitu mencengangkan, bahkan digadang-gadang secara perlahan telah berhasil menggeser eksistensi sekolah umum. Peningkatan yang terjadi secara signifikan pada sekolah agama, diiringi antusiasme masyarakat yang tinggi, hingga jumlah siswa yang membludak, tentu menjadi sebuah kisah perjalanan yang menarik untuk diamati.

Bagaimana tidak, lembaga atau sekolah agama yang dulu lekat dengan citra lusuh bahkan tertinggal, kini berbalik 360 derajat menjadi lembaga-lembaga pendidikan berkelas dengan peminat yang tinggi. Apa yang sebenarnya terjadi?
Ada dua alternatif jawaban yang mungkin dapat ditawarkan dalam menjawab pertanyaan tersebut. Di satu sisi, popularitas sekolah berbasis agama yang tengah naik daun ini dilatarbelakangi oleh kesadaran masyarakat akan pentingnya penanaman nilai agama melalui pendidikan kepada anak sejak dini. Indikasi yang kuat mengenai terkikisnya nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi keprihatinan umum menyebabkan berbagai usaha dilakukan dalam rangka mengembalikan nilai-nilai tersebut. Salah satunya adalah upaya peneguhan kembali nilai agama melalui pendidikan sebagai pondasi terbentuknya karakter.

Rekognisi pentingnya agama menjadi landasan mengapa tindakan mempelajari agama dinilai sebagai sesuatu yang krusial. Dalam terang itulah, alasan tingginya antusiasme masyarakat akan pendidikan agama disambut hangat dengan merebaknya sekolah-sekolah berbasis agama menjadikan popularitas sekolah tersebut terus meningkat dari waktu ke waktu.

Sayangnya, pada kubu yang lain, para sarjana yang telah mendedah pemaknaan sekolah berbasis Islam bagi para orang tua secara sosiologis, menemukan bahwa label pendidikan Islam hanyalah kedok. Hal tersebut didasarkan pada temuan bahwa sekolah berbasis agama nyatanya belum mampu mengakomodir pendidikan agama secara komprehensif. Penemuan yang tak kalah menarik adalah klaim bahwa keputusan para orang tua dalam memilih sekolah tidak hanya hanya dilandasi oleh kesadaran mengenai pentingnya pendidikan agama, melainkan cenderung didasari motif yang dibangun karena prestise (gengsi, harga diri, dan sesuatu yang semacam itu).

Stereotip kelas-kelas sosial secara langsung maupun tidak langsung mengkonstruksi motivasi tindakan pemilihan sekolah sebagai penunjang kelas-kelas sosial. Sehingga dalam praktiknya, pemilihan sekolah yang dilakukan oleh para orang tua merupakan upaya branding diri atau pembentukan image (citra). Alih-alih, upaya branding ini bukan hanya berlaku searah kepada orang tua, namun juga terhadap citra anak lantaran anak dianggap sebagai penerus dari institusi keluarganya.

Kelas sosial menjadi motivasi utama preferensi orang tua akan sekolah bagi anak yang dengannya kemudian mengharapkan berbagai timbal balik, seperti pemerolehan kapital sosial (jaringan), kapital ekonomi, maupun kapital simbolik (citra). Inilah yang kemudian menciptakan dikotomi kelas sosial, sehingga secara otomatis masyarakat akan memilih sekolah yang sesuai dengan kelasnya, tentu dengan bekal motif kelas sosial yang memang telah dibangun sejak awal. Sungguh menarik bukan?

Bagaimanapun, tindakan pemilihan sekolah bagi anak seyogyanya didasarkan pada pertimbangan pokok, yakni sinkronisasi tujuan pengasuhan orang tua dengan nilai pendidikan agama yang ditanamkan oleh sekolah. Orang tua perlu mengkaji pemahaman maupun kemampuan keagamaan seperti apa yang ditawarkan oleh sekolah, serta memastikan apakah sistem pengajaran agama dipraktikkan secara komprehensif. Komprehensif yang dimaksud dalam hal ini adalah bahwa sekolah tidak menitik-beratkan pada salah satu aspek saja, misalnya aspek ritual (ibadah) atau teoritis saja (seperti terlalu banyak membahas hukum halal haram, maupun pengajaran sejarah yang orientasinya peperangan). Hal tersebut dikarenakan aspek utama nilai agama sendiri terklasifikasi menjadi tiga yakni nilai aqidah, nilai ibadah, serta nilai akhlak. Ketiganya ini perlu diberikan porsi yang tepat dan tidak berat sebelah. Bahkan, orientasi tertinggi pendidikan agama pada hakikatnya adalah akhlak. Aqidah menjadi dasar, ritual sebagai sarana, sementara tujuannya adalah akhlak yang baik. Dalam terang inilah, pendidikan agama di sekolah, utamanya sekolah yang menyandang label Islam sudah sepantasnya diarahkan pada pengembangan nilai-nilai akhlak, bukan hanya terfokus pada nilai-nilai pengetahuan aqidah dan ritual keagamaan sebagaimana yang banyak terjadi selama ini.
Lantas, benarkah fenomena ini menjadi indikasi masyarakat yang mulai siuman, atau justru pingsan lagi? Entahlah…

Yusti Dwi Nurwendah
Yusti Dwi Nurwendah Seorang perempuan super biasa yang lahir di Ponorogo, 20 Oktober 1995, dan kini tengah bersusah payah menelan pahitnya menuntut ilmu karena menyadari bahwa menjadi ‘bodoh dan awam’ itu merugikan.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.