Politik & Hukum

SENJATA PARA ELITE POLITIK ZAMAN NOW

Kita mungkin sering melihat berita di tv atau bahkan mungkin membaca berita dari media cetak maupun media online mengenai kasus-kasus korupsi yang terjadi dimasa lampau yang seakan baru di booming-kan jauh setelah kasus itu dilakukan. Entah itu karena kesengajaan atau bisa saja hal itu menjadi manufer jitu untuk dijadikan ‘kartu AS’ bagi sebagian oposisi politik.

Berbagai kasus di tingkat nasional yang booming jauh setelah kasus itu terjadi justru menimbulkan reaksi publik mengapa kok baru sekarang kasus itu terungkap. Atau mengapa baru sekarang ada yang melapor kebobrokan yang telah terjadi selama bertahun bahkan selama berpuluh tahun itu. Sikap ini seakan jadi senjata yang paling ampuh, atau jika seseorang bermain kartu, maka sikap seperti mirip dengan kartu AS yang dikeluarkan disaat ‘kepepet’. Meskipun, terlepas dari niat baik-buruknya si pemegang kartu AS tersebut.

Diawali dari mantan menteri BUMN Dahlan Iskan yang memberikan penilaian tentang kinerja anggota dewan yang dirasa kurang memuaskan, Dahlan Iskan mencoba membeberkan kartu As dengan mengungkap nama-nama anggota dewan yang dituduh telah memeras beberapa BUMN. Kasus lainnya dan hamper memiliki kesamaan yaitu lankah mantan sekretaris Dipo Alam yang ikut memanaskan situasi politik dengan malaporkan kasus kongkalikong yang terjadi dibeberapa kementrian ke KPK yang diyakini melibatkan elite politik tertentu.

Sebenarnya titik penekanannya bukan pada seberapa besar kasus dan seberapa banyak yang terlibat, akan tetapi ‘sikap’ dan ‘manuver’ para elite yang sekan sudah membudaya pada masa dewasa ini. Jika memang para elite yang memakai kartu AS dengan tujuan sebagai ‘tanggung jawab’ politiknya, maka hal ini baik dan hal tersebut bisa jadi terbentuk atas paradigma negarwan yang sejati. Namun jika kita melihat dengan kaca mata lain, hal ini bisa jadi terbentuk karena paradigm yang dipakai oleh sebagian elite politik yaitu zero sun game(menangkanlah) dalam pengelolahan negara dan pemerintahan, terutama dalam masalah vis-à-vis mereka yang saling bertolak belakang. Hal ini tidak mencerminkan sikap negarawan yang sejati.

Wocoen   Bisnis LENDIR Tak Akan Berakhir

Terlepas dari baik-buruknya niat para elite politik yang membuka kartu AS.nya ke public, namun apakah sikap reaksioner dan sensasional dengan senjata kartu AS itu mampu menyelesaikan segenap permasalahan konstitutif dalam perpolitikan atau justru sebaliknya, semakin memperkeruh atau memberikan efek berantai yaitu permasalahan baru berupa melemahnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi dan system demokrasi saat ini.

Ada beberapa study mengenai ‘kartel politik’ di Indonesia yang memperlihatkan adanya sebuah jaringan politik-eksklusif diatara para politik maupun partai politik yang berusaha menjalin harmoni didalam internal jaringan. Hal ini bertujuan untuk membangun kartel kekuatan politik yang bernafaskan ‘simbiosis mutualisme’ atau saling menguntungkan. Melalui study ini, kita dapat membuat suatu hepotesa bahwa fenomana kartu AS ini terjadi sebagai buntut dari melemahnya harmonisasi dan sikap memberi keuntungan atau bahkan sikap melindungi satu sama lain. Bisa saja sebab karena ada yang ingkar ‘kesepakatan’ politik ataupun ada yang melanggar ‘norma kepentingan’ yang terbangun diantara kartel tersebut. Sehinggap sikap ini merupakan sikap ‘menjatuhkan’ agar tentunya ‘hukuman politik’ diantara salah satu pihak yang melanggar bisa tercurahkan.

Selain itu system kaderisasi partai politik yang asal-asalan dan tidak memberikan visi politik yang santun terhadap para kadernya juga bisa menyuburkan paradigma ini dipentas perpolitikan yang ada dimasa depan. Maka salah satu jalan solusi bagi permasalahan ini yaitu dengan memberikan pendidikan politik atau kaderisasi dalam partai politik yang bijaksana dan santun agar kelak, kongkalikong atau sikap eksklusif ini bisa dialihkan kedalam paradigma atau visi politik yang berkemanusiaan. Timbul pertanyaan, elite politik mana yang mau memberikan pendidikan yang baik bagi kadernya?  Lahwong petingginya saja masih suka-sukanya mainan kartu hehehehehehe.

Wocoen   Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma'ruf Amin dan Masa Depan Hukum Ekonomi Syariah di Indonesia (bagian satu)
Tags

Anwar Ibrahim

seorang santri yang dikeluarkan 2 kali dari 1 pondok pesantren yang sama. Berdomisili dan sedang melakukan study abal-abal di kota malang. S1 Hukum tata negara UIN MALIKI Malang.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close