M. Jumhur Hidayat Guru madin Ponpes Gasek, lulusan Pascasarjana UIN Maliki

Sepuluh Hari Terakhir yang Mendebarkan

M. Jumhur Hidayat 1 min read 0 views

Sudah tinggal seminggu lagi kita yang beragama Islam melaksanakan puasa wajib bulan Ramadan. Dalam satu riwayat, seminggu terakhir ini, terhitung masuk pada fase sepuluh hari terakhir bulan puasa, yang salah satu faedahnya adalah dijauhkan dari api neraka.

 

Entah harus bahagia atau berduka ketika masuk fase terakhir bulan puasa ini, yang jelas kita berada pada kondisi harap harap cemas (H2C), yang dalam bahasa agama disebut roja’ dan khauf. Ya! mirip-mirip sepasang kekasih yang hubungannya tergantung lah kira-kira.

 

Disisa waktu yang ada, kita tidak tahu apakah bonus-bonus yang diobral Tuhan untuk kita selama sebulan ini sudah kita dulang dengan maksimal atau belum. Alih-alih bonus dari Tuhan, sisa beberapa hari terakhir mungkin yang terpikir oleh kita malah bonus-bonus besar toko-toko baju dan aksesoris yg akan dipakai di hari lebaran.

 

Puasa, yang bermakna imsak atau menahan, yang dalam terminologi agama dan kitab-kitab fikih bermakna menahan dari haus dan lapar, serta hubungan badan bagi yang sudah menikah, dari terbit matahari hingga terbenam, sekilas,  jika hanya itu definisinya, maka siapapun pasti bisa. Termasuk anak kecil yang masih berusia empat atau lima tahun kecuali yang hubungan badan hehe.

 

Padahal, jika membaca dan memahami makna imsak atau menahan sebagai pengertian puasa, dan ditarik pada konteks yang lebih luas lagi, maka menahan sejatinya adalah perkara yang tidak mudah atau cukup sulit. Jangankan anak kecil, orang dewasa juga belum tentu bisa. Karenanya, ukuran menahan seseorang yang berpuasa, lebih lanjut bisa dikategorikan pada beberapa tingkatan. Puasa umum, khusus, dan khususil khusus. Yang mungkin sebagian banyak kita sudah tahu kriterianya.

Wocoen   Belajar dari Kiai Salman Tambakberas, dari Istikamah Hingga Kesahajaan

 

Sisa waktu yang ada atau injury time yang harusnya bisa dimaksimalkan, malah mulai tergoyahkan dengan diskon-diskonan pakaian. Pikiran kita bukan berapa kali lagi bisa mengkhatamkan Alquran disisa waktu yang ada. Ibadah apalagi yang bisa dimaksimalkan atau apakah kita masih bisa meraih malam Lailatulqadar?

 

Sepuluh terakhir transaksi kita bukan lagi tentang hitung-hitungan amal. Tapi Tunjangan Hari Raya (THR), baju lebaran, dan lain-lain.  Dengan demikian, menahan diri dari hal-hal tersebut, sebagai perkara yang sulit, bisa dibenarkan.

 

Apalagi bulan puasa tahun ini sangat berbeda, karena kondisinya berada di tengah-tengah pandemi covid-19 yang beberapa bulan ini cukup membuat semua orang lelah. Termasuk lelahnya puasa atau menahan diri di rumah, dan menahan diri untuk tidak berkerumun. Namun apalah daya, karena derajat puasa kita kebanyakan masih berada pada tingkatan umum, alhasil, seminggu terakhir ini pasar-pasar malah ramai.

 

Kita sudah tidak tahan dengan puasa dari mengekang hawa nafsu kita, termasuk untuk tidak berbelanja dan berkerumun di pasar untuk membeli segala macam kebutuhan lebaran. Mungkin karena kebiasaan tahunan, di tengah pandemi berbahaya ini berkerumun tidak dihiraukan. Peraturan pemerintah dilanggar, protokol kesehatan diabaikan. Dan yang paling dalam, acuh terhadap perasaan dokter dan tenaga kesehatan, yang sudah banyak berkorban.

 

Usaha mereka serasa disia-siakan oleh kita yang tidak bisa istikamah berpuasa hingga pandemi selesai. Dalam kondisi inilah berat jika kita dikatakan telah berpuasa. Ya mungkin puasa, tapi masih tataran puasa-puasaan. Ya menahan diri, tapi dari hal-hal yang anak kecil juga bisa melakukan.

 

Harus diingat, esensi puasa dalam agama itu lebih berorientasi pada sikap seorang hamba mengekang hawa nafsu. Di bulan puasa pelatihannya, sebelas bulan berikutnya adalah pembuktian sesungguhnya. Jika ketika pelatihannya saja tidak disiplin, maka bagaimana sebelas bulan kedepan? Ah sudahlah.

Wocoen   Ngaji Pasanan di Kampung-kampung

 

Mudah mudahan Allah Swt. mengampuni dan merahmati kita atas ketidakmampuan kita menahan diri dari hawa nafsu, egoisme,  dan sikap acuh terhadap perasaan sesama.

M. Jumhur Hidayat
M. Jumhur Hidayat Guru madin Ponpes Gasek, lulusan Pascasarjana UIN Maliki

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.