Setara atau Membiarkan Berbeda?

Kami berdiskusi untuk membedah teori-teori perempuan, dengan menyajikan pemikiran dari barat maupun timur. Kami berupaya membedah dari kedua belah pihak.

Dalam pertemuan 2-3 saya menguraikan teori seks, gender kemudian masuk dalam pembahasan isme dalam feminis serta memberikan beberapa catatan kritikan terhadap teori feminis dan gender. Namun juga tidak menafikan konstribusi dari teori-teori tersebut dalam menganalisis permasalahan sosial.

Seks adalah perbedaan laki-laki dan perempuan secara biologis yang sifatnya bawaan (given). Seperti perempuan memiliki kelenjar payudara untuk menyusui, laki-laki tidak memiliki, perempuan memiliki rahim, laki-laki tidak memiliki, dan lain-lain.

Sedangkan gender adalah konstruksi terkait sifat, peran, dan tanggung jawab seseorang yang sifatnya bisa dipertukarkan. Misalnya seorang perempuan memiliki kewajiban di dapur ini juga konstruksi gender, seorang perempuan memiliki tanggung jawab mencari nafkah ini juga konstruksi gender.

Apapun peran sifat dan tanggung jawab yang dilekatkan kepada seseorang adalah konstruksi. Dalam teori ini yang sifatnya bawaan adalah seks. Sedangkan gender bukan suatu bawaan sehingga bisa dikonstruksi atau dipertukarkan peran dan sifat-sifatnya.

Konstruksi gender sebenarnya tidak bermasalah dan tidak akan dipermasalahkan selama tidak mengandung unsur ketidakadilan. Unsur ketidakadilan tersebut bisa kita ukur dengan adanya beban ganda, streotipe, marginalisasi, subordinasi dan violance.

Faktanya banyak ketidakadilan terjadi terhadap mayoritas seorang perempuan yang disebabkan konstruksi tidak berimbang. Perempuan lebih banyak merangkap peran ganda.

Konstruksi tersebut seringkali dianggap sebagai sebuah kodrat yang tidak bisa dipertukarkan. Padahal peran dan tanggung jawab tersebut bisa dipertukarkan. Misalnya perempuan dianggap feminim sehingga perempuan memiliki pekerjaan pengasuhan, membersihkan rumah, memasak, mencuci, melayani suami, dan lain-lain, yang dalam masyarakat umumnya hal tersebut dianggap sebagai pekerjaan tetap perempuan bahkan tidak sedikit yang mengatakan hal tersebut kodratnya perempuan. Akibatnya tidak sedikit perempuan yang mengalami beban ganda karena konstruksi yang dianggap sebagai sebuah kodrat terlebih lagi tidak sedikit perempuan yang mengambil peran ekonomi.

Maka kemudian teori gender muncul untuk memberi penjelasan, bahwa peran, sifat dan tanggung jawab seseorang bisa dikonstruksi, serta sifat-sifat yang dimiliki perempuan tidaklah kodrati. Teori ini juga dekat dengan teorinya simone de beauvoir seorang feminis eksistensialis yang gagasannya banyak terpengaruh dari Jean Paul Sartre bahwa perempuan tidak memiliki sifat bawaan, sifat-sifat yang seringkali dilekatkan kepada perempuan adalah hasil konstruksi dalam masyarakat.

Sehingga untuk mengubah hasil konstruksi tersebut mereka menawarkan pendidikan androgini, yakni pendidikan yang setara sejak masih dini. Yang bermain pistol-pistolan itu tidak harus selalu anak laki-laki, namun bisa juga perempuan. Yang bermain boneka bisa juga anak laki-laki, tidak hanya perempuan. Warna perempuan tidak harus selalu pink, bisa juga hitam atau warna yang dianggap maskulin.

Dari pendidikan tersebut karakter setara terbentuk sejak kecil. Karena peran yang tidak setara mengakibatkan ketidakadilan maka yang ideal dalam teori ini adalah kesetaraan.

Teori ini juga melebar dan memengaruhi feminis dari Islam untuk mengusung semangat kesetaraan terhadap konteks penafsiran Al-Quran dan hadis yang di dalamnya terkandung peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan. Salah satunya misalnya Amina Wadud.

Melalui sudut pandang penafsiran beliau, Amina Wadud menjelaskan bahwa seseorang yang menjadi imam salat tidak harus laki-laki namun bisa juga seorang perempuan, karena perempuan juga memiliki kemampuan dan kapasitas spritual yang sama dengan laki-laki. Pertanyaannya kemudian apakah adil itu selalu setara?

Namun dalam pertemuan ini saya belum membahas panjang lebar terkait peran antara laki-laki dan perempuan seperti apa yang ada dalam Islam. Mungkin di pembahasan selanjutnya semoga saya bisa membahas bagian ini.

Selanjutnya, bahwa aliran-aliran dalam feminis banyak dan beragam untuk menafsirkan apa itu keadilan dan kesetaraan, antara satu aliran dengan aliran lain memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Misalnya saja aliran feminisme liberal, feminis ini melihat bahwa ketidakadilan berasal dari kebodohan perempuan sehingga yang diupayakan adalah kesetaraan pendidikan.

Dalam gelombang selanjutnya aliran ini juga menuntut kesetaraan dalam suara pemilu kemudian masuk dalam sistem negara sebagai upaya mengubah ketidakadilan tersebut. Berbeda dengan feminis liberal, feminis radikal lebih melihat akar ketidakadilan dari sistem patriarki, menuntut kesetaraan biologis, bahwa perempuan memiliki otoritas tubuh secara penuh.

Feminis radikal melihat lembaga pernikahan adalah lembaga ketidakadilan, karena ketika perempuan menikah maka ia akan masuk dalam wilayah pengasuhan, hamil, menyusui dan merawat anak kemudian tubuhnya hanya akan dimanfaatkan oleh laki-laki. Sehingga tidak sedikit pengikut feminis radikal memutuskan untuk tidak menikah, tidak sedikit juga demonstrasi-demonstrasi dari feminis radikal memilih untuk telanjang dengan memberi pesan bahwa tubuh perempuan sama dengan laki-laki tidak ada yang ditabukan, dan tidak ingin tubuh mereka dijadikan objek semata.

Ada yang menarik dari sekian aliran feminis yakni ecofeminism. Ecofeminism ini ingin kembali kepada wilayah pengasuhan dan pemeliharaan alam. Kerusakan alam dan lingkungan diakibatkan karena manusia terlalu maskulin, rakus, sifat maskulin mengakibatkan kerusakan alam. Sehingga perempuan harus kembali kepada sifat feminim.

Sudah terlalu banyak laki-laki dan perempuan berlomba untuk mengeksploitasi alam hingga lupa bahwa alam telah dirusak, mungkin bukan hanya lupa tapi sudah tidak peduli dengan kerusakan alam. Maka dari itu kemudian ada pembalikan model feminisme.

Ecoveminisme mengidealkan sifat-sifat pengasuhan, pemeliharaan yang feminim untuk menjaga kelestarian alam. Namun sayangnya ecoveminisme tidak menyukai aspek maskulin, karena maskulin identik dengan kerakusan dan kerusakan sehingga yang diidealkan adalah sifat feminim.

Apakah betul sifat maskulin tidak diperlukan dalam keseimbangan alam ini? Apakah betul bahwa maskulin selalu identik dengan eksploitasi dan kerakusan? Inilah yang perlu kita tanyakan dan beri kritikan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Ulin Nuha Sakina 2 Articles
Seorang alumni sosiologi agama UIN sunan Kalijaga Yogyakarta.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.