Sistem Berpikir Masyarakat Petani (Bagian 1)

Dalam kamus masyarakat petani, kita dikenalkan dengan istilah “musim tanam” dan “musim panen”. Sebutan tersebut merupakan pengalaman petani.

Para petani kadang dihadapkan dengan kegagalan panen. Kegagalan panen akan sangat mengecewakan. Kalau kegagalan panen itu disebabkan oleh musim dan bencana alam, itu namanya nasib dan Tuhanlah yang mengatur. Tidak ada yang bisa diperbuat kecuali berdoa dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Tetapi jika kegagalan itu disebabkan oleh manusia, misalnya pencuri, atau kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat petani —yang baru-baru ini pemerintah sempat mewacanakan impor beras dan garam sedangkan stok keduanya tidak terlalu menipis, sesuatu harus dilakukan. Sehingga muncul pertanyaan, bagaimana mungkin impor dilakukan di saat hasil pertanian tidak mengalami paceklik?

Adanya musim yang tidak mendukung dengan aktivitas para petani dan bencana alam itu pun kadang juga disebabkan oleh manusia itu sendiri. Misalnya pemanasan global maupun bencana alam banjir, yang sebenarnya boleh dikatakan salah satunya disebabkan oleh aktivitas penggundulan hutan, ataupun membuang sampah secara sembarangan.

Rupanya pengalaman petani itu kadang masih tertanam jauh dalam jiwa masyarakat kita. Sekalipun orang sudah tidak lagi bertani, tetapi jiwa petani masih tercermin dalam perilaku sosialnya.

Sebagai kelompok masyarakat, sistem berpikir kita di masa lalu adalah agraris. Dalam peribahasa kita bilang, “bagai ilmu padi, makin tua makin merunduk”. Dalam bahasa Jawa kita bilang, “gemah ripah, loh jinawi” untuk menyatakan ungkapan “panen yang berlimpah, tanah yang subur”. Dengan peribahasa-peribahasa tersebut, kita membayangkan betapa masyarakat kita serba agraris pada masa lalu.

Gambaran musim tanam dan musim panen

Gambaran musim tanam dan musim panen ini diperkuat dengan, “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 6), atau dengan bahasa populer yang lain dalam Al-Qur’an, “min al zulumaati ila al nuur”. Semua kisah dalam Al-Qur’an berakhir dengan happy ending dan kemenangan akhir yang dijanjikan bagi orang yang beriman.

Sering pula diceritakan dalam doktrin-doktrin agama bahwa mengapa seorang muslim cenderung mengalami kesusahan di dunia? Karena di akhirat kelak akan memperoleh kenikmatan.

Sebaliknya ada pertanyaan, mengapa seorang kafir sering memperoleh keberuntungan dan kenikmatan di dunia? Karena di akhirat nanti ia akan diazab oleh Allah dengan azab yang pedih. Ini adalah doktrin-doktrin klasik dalam agama yang sering disampaikan orang-orang tua dan guru-guru ngaji dulu.

Dalam bahasa Indonesia ada pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian”. Rupanya pandangan tentang musim tanam dan musim panen ini begitu universal. Dalam bahasa Inggris ada pepatah, “who sows the seeds, picks up the harvest”, yang sama artinya dengan, “barang siapa menanam, maka ia akan mengetam”.

Belakangan juga kita sering mengucapkan, “hasil tidak akan mengkhianati proses”. Ucapan ini sangat puitis dan terdengar sugestif. Ini adalah gambaran bahwa kita sangat percaya bahwa perjuangan pasti mempunyai output berupa hasil materiil.

Harapan besar seringkali mengecewakan

Nyatanya kadang kala orang yang menanam tidak selalu mengetam. Petani yang menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya yang banyak ternyata belum tentu memanen. Setelah sekian bulan bekerja di ladang, ternyata gagal panen karena banjir atau hasilnya kurang maksimal karena hama. Kadang setelah bersusah payah menanam, ternyata harga di tengkulak tidak terlalu menguntungkan petani dan tidak sebanding dengan jerih payah menanam. Ini banyak terjadi.

Begitupun seseorang yang mencalonkan diri dalam pemilu legislatif pasti sangat berharap kemenangan. Tidak sedikit dari mereka yang gagal terpilih menjadi stres dan gila karena tidak mempunyai pilihan lain selain happy ending dalam gelaran pileg tersebut agar bisa balik modal. Ini adalah cara berpikir masyarakat petani.

Selain pemahaman tentang hasil tidak akan mengkhianati proses, ternyata diri kita kadang juga harus dididik; segala hal yang kita inginkan tidak selalu bisa tercapai. Dalam hidup, kita tidak dijanjikan untuk selalu bahagia dan sukses. Kita juga harus merasakan sedih dan gagal.

Banyak di antara pendukung Presiden Jokowi di 2019 mulai merasakan kekecewaan —yah walaupun banyak juga yang masih belum “sadar” sih. Gambaran Jokowi yang merakyat dan sederhana yang sudah terbentuk sejak 2014 telah membuat banyak orang kecele.

Semakin ke sini, kebijakan pemerintah semakin tampak tidak pro rakyat kecil. Ambil contoh perihal Omnibus Law, berkurangnya hutan di Kalimantan secara masif karena kepentingan industri —walaupun sebenarnya kita tahu bahwa hutan di sana mulai berkurang sejak era orde lama, terutama yang paling segar dalam ingatan yakni konflik lahan di Kinipan.

Pemerintah juga menghapus limbah batubara dari daftar kategori limbah berbahaya dan beracun (B3). Dampaknya? Perusahaan-perusahaan akan semakin leluasa membuang limbah industrinya secara sembarangan karena telah dianggap bukan limbah berbahaya.

Contohnya seperti yang terjadi di Surabaya. Sebagaimana yang telah didokumentasikan tim peneliti Mapala Universitas Muhammadiyah dan Ecoton, bahwa sungai Tambak Wedi di Surabaya tercemar fosfat dan khlorin. Bukan tidak mungkin limbah lain selain limbah batubara juga dihapus oleh pemerintah dari kategori limbah berbahaya dan beracun karena “kepentingan industri”.

Setelah merdeka dari penjajah, bukan berarti kita akan benar-benar merdeka. Kita harus merdeka dari nafsu diri sendiri. Setelah merdeka dari penjajah, kita juga mungkin masih dijajah oleh bangsa sendiri.

Dan hal yang paling riil dan terjadi terhadap diri kita sendiri sebagai sarjana; bahwa gambaran setelah menuntaskan skripsi dan diwisuda kita bisa langsung bahagia dan otomatis dapat kerja harus dihilangkan. Butuh rihlah dari warung kopi satu ke warung kopi yang lain sebelum berani terjun ke tengah masyarakat. Butuh rebahan dan leha-leha selama bertahun-tahun dulu sebelum dapat kerja yang benar-benar layak. Hehe.

About Hanif N. Isa 17 Articles
Mas-mas biasa.

1 Trackback / Pingback

  1. Sistem Berpikir Masyarakat Petani (Bagian 2) | Rembukan.com

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.