Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Sistem Berpikir Masyarakat Petani (Bagian 2)

Hanif N. Isa 2 min read 57 views

Dalam kepercayaan masyarakat pra industrial, orang bisa melakukan pesugihan, memelihara tuyul, babi ngepet, dan semacamnya. Dengan cara itu pulalah seseorang bisa menjadi kaya dengan membuat orang lain miskin.

Salah satu potret harapan setelah musim tanam diikuti dengan adanya musim panen terjadi dalam banyak kehidupan kita sebagai masyarakat “bermasalalu” agraris. Dan lagi-lagi, harapan besar acapkali mengecewakan.

Ada harapan bahwa setelah bangsa Indonesia merdeka di rumah sendiri pada 1945, mereka bisa dominan dan berdaulat atas nasibnya sendiri. Kenyataannya belum tentu demikian. Di rumah sendiri mereka kadang merasa tersisihkan dalam kehidupan nasional.

Orde Baru telah mengecewakan sebagian rakyat dengan banyaknya pelanggaran HAM dan perilaku-perilaku koruptif. Nasib rakyat mengikuti pilihan raja. Sampai ada guyonan, “Omahe dicat kuning wae, ojo liyane”.

Era Reformasi telah membuat banyak mulut berani berbicara. Hoaks dan penggiringan opini oleh media-media tertentu sudah biasa. Seolah-olah berdemokrasi, nyatanya disetir. Bahkan saking bebasnya, radikalisme beragama bisa tetap eksis hingga hari ini. Ini adalah gambaran harapan besar seringkali mengecewakan. Ada musim tanam, belum tentu musim panen datang.

Selain gambaran musim tanam dan musim panen sebagaimana yang telah diuraikan di esai sebelumnya, Sistem Berpikir Masyarakat Petani (Bagian 1), ada pemahaman lain yang barangkali melekat di tengah masyarakat petani, yaitu “terbatasnya kebaikan“.

Perlu diketahui bahwa sebutan “petani” dalam tulisan ini bukan berarti selalu diartikan petani dalam arti sesungguhnya. Peminjaman kata “petani” merupakan upaya penggambaran masyarakat dengan kultur agraris yang hidup pada masa pra industrial, sebagai masa lalu kita yang masih melekat hingga masa kini. Mengingat di era industri 4.0 —begitu orang bilang— sebagian petani (dalam arti sesungguhnya) mulai mereformulasi lebih millenial dan adaptif terhadap kebutuhan industri. Sebagian. Hehe.

Silahkan baca juga   Manusia Kalah Menang

Gambaran tentang “terbatasnya kebaikan” itu berasal dari seorang ahli antropologi, George Foster dengan rumus gagasannya the image of limited good. Rumus tersebut pada dasarnya begini; tanah itu tidak dapat diperluas. Setiap usaha memperluas tanah berarti mengurangi luas tanah orang lain, mengingat bahwa luas tanah itu terbatas.

Jadi jika ada seorang pengusaha yang melakukan ekspansi dengan memperluas tanah untuk pembangunan fisik perusahaan yang lebih besar, berarti dia juga sedang mempersempit —atau bahkan mengusir— lahan orang lain. Artinya, kebaikan dalam rumus tersebut di atas adalah sesuatu yang terbatas seperti halnya tanah.

Demikianlah, dalam pandangan masyarakat petani (baca: masyarakat pra industrial), orang tidak bisa menjadi kaya tanpa orang lain menjadi miskin. Dalam masyarakat kita tempo dulu sebagai masyarakat agraris, ada kepercayaan tentang pesugihan, yang dapat menjadikan orang kaya tanpa bersusah payah bekerja dengan memelihara tuyul, babi ngepet, dan semacamnya.

Apa yang akan dilakukan seseorang yang melakukan pesugihan dengan memelihara tuyul atau babi ngepet? Pesugihan akan membuat harta orang lain berkurang. Peristiwa kemalingan akan terjadi di mana-mana. Ini contoh the image of limited good.

Atau semisal peristiwa-peristiwa korupsi yang terjadi dalam dunia birokrasi maupun politik. Aktivitas koruptif ataupun ketidaktransparanan dan penyelewengan dana dalam kehidupan birokrasi akan membuat pelaku lebih kaya dengan “memiskinkan” rakyat sebagai orang yang seharusnya menerima fasilitas dari pemerintah dan pembayar pajak negara.

Contoh lain; seorang pedagang bakso akan marah dan skeptis jika beberapa puluh meter dari lapaknya terdapat warung bakso baru yang ternyata lebih laris daripada bakso milik pedagang lama tersebut. Pedagang bakso baru dianggap telah “mengurangi” rezeki si pedagang bakso lama.

Silahkan baca juga   Nurhadi-Aldo Koalisi Trojal Trojol Maha Asyik Dan Upaya Pendinginan Suasana Politik

Walaupun background masyarakat pra industrial atau ndeso seperti kita adalah masyarakat yang sangat percaya dengan sesuatu yang transendental dan imani, namun kadang juga kita lupa bahwa sebenarnya Tuhan tidak akan keliru dalam membagikan rezeki kepada hamba-Nya. Karena pemahaman tentang terbatasnya kebaikan tersebut, seorang pedagang bakso di atas menjadi lupa dengan firman Tuhan dalam Al-Qur’an, “wa maa min daabbatin fil ardhi illaa alallaahi rizquhaa“, bahwa tidak ada satupun makhluk di dunia yang luput dari perhatian Tuhan dalam urusan rezeki. Pada akhirnya, jalan pintas adalah melakukan pesugihan atau memelihara tuyul. Hehe.

Untuk usaha itu, kita modalnya 3M, M satu melihat, M kedua memahami, M ketiga melaksanakan. Jadi andaikata 3M itu dilaksanakan, dengan baik dan benar maka insya Allah akan berhasil. Tapi lebih cepat berhasil lagi bila kita memelihara tuyul.”

Hanif N. Isa
Hanif N. Isa Mas-mas biasa.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.