BudayaCerpen

Syukurlah, Masih Tetap Manusia

THANK YOU, STILL STILL HUMANS

Seorang pemuda yang bekerja menjadi supir kiriman barang sembako. Lekik, dengan vokal e pada kata gelas. Nagitulah panggil teman-temannya.. Dia seorang yang murah senyum walaupun baju yang dipakai kebanyakan lusuh tak bersetrika. Lebih layak baju lelangan sepertinya. Namun murah senyumnya hilang menjadi beringas serasa hewan buas.

Terlihat, seorang penjual kaki lima langganannya tidak bisa menempati lapak ditrotoar jalan pagi itu. Karena ada mobil parkir di lapak yang biasanya untuk jualan. Penjual berdiri menunggu sambil sesekali melihat mobil yang memakan lapak gerobaknya.

Memang tak ada tukang parkir sepagi itu. Mana ada pula yang peduli. Hanya sang penjual yang tahu akan nasib dirinya sendiri. Tak ayal, seorang ibu muda berotot, nampak lambang TNI dikaosnya itu hanya berkata ” nanti pak saya pindah, saya mau sarapan. Tidak bakal mengurangi rezeki bapak kok”. Dengan nada yang kurang mengenakan ditelinga. Penjual beruban, Berbadan tambun bercampur kesopanan jawa yang masih kental didalam dirinya, hanya bisa berkata “nggeh”. Entah sopan karena adab, atau sopan karena merasa rendah sebagaimana pembantu ke majikannya.

“Djancok !!” Geram Lekik mengetahui itu. Dia melenggangkan kaki ke warung.” Siapa yang punya mobil didepan ” teriak lekik dihadapan 20 an orang yang yang sedang menyantap hidangan. Teriakanya seakan menggedorkan jiwa jiwa congkak para orang berduit itu. “Saya mas.. kenapa? Saya tadi sudah ketemu dan saya.. ” ketusnya belum terselesaikan. “cepat pindah !!” Sentak Lekik memotong elakanya dan langsung melenggang pergi. Jelasnya tidak mau cekcok dengan ibu-ibu. Namun Bagaimana jika seorang majikan disentak pembantunya?

Rasa takut Lekik sudah terlampaui dengan rasa kesalnya. Tak ada terpikir dirinya. Batinnya bergejolak. Mentang² berduit. Seakan dia adalah lebih tinggi dibanding yang tak berduit. Sewenang wenang, merendahkan orang lain. Bukankah manusia akan tetap menjadi manusia? Di mana titik perbedaanya? Dan dari mana sisi untuk merendahkannya? Kalau memang taqwa yang membedakan, bukankah itu sesuatu yang tak terlihat dan hanya Tuhan yang tau ? Kok seakan akan jadi Tuhan saja.

Wocoen   Puasa dan Kebaikan

Mungkin Lekik berada di zaman milenial. Bukan zaman kolonial, terlebih lagi dalam pengasingan seperti Mbah Pram. (Pramoedya ananta toer). Beliau tersadar bahwa “kesalahan orang-orang yang pandai ialah adalah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai “. Begitu satire kata²nya. Kekesalan demi kekesalan yang beliau alami, bercampur hati nurani yang terpancar dalam keberaniannya. Berbeda, namun jiwa-jiwa akan sama sebagai anak di zamannya masing-masing. Hanya manusia baru-baru saja yang belum tahu akan hal itu. Atau bisa jadi tak ingin tahu karena tenggelam dalam kesibukan zaman baru.

Merah muka sang tentara wanita itu. Kesal karena tak bisa membela diri dengan mulutnya. Rasa malu menggerakan kakinya ke luar warung. Dipindahkkanlah mobilnya. Tak rela harga diri turun sejengkalpun, si wanita menggertak “besok saya suruh pengawal parkir disini. Usir juga kalau berani”. Lekik yang berada diseberang jalan hanya tersenyum sinis melihat tingkah wanita itu.

Tags

Tri Aulia Adnan

Tri Aulia Adnan, pria asal Banyumas Jawa tengah. Setelah beberapa tahun kuliah di UIN Maliki sambil mondok di Gasek, kini membulatkan tekad untuk berjuang di kampung halaman sendiri.

Related Articles

2 Comments

  1. Tulisan yang luar biasa. Semangat berkarya wong nom, aja nganti mrei gaara-gara kencot, aja ngasi bubar gara-gara abot. . Djancokan!

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close