Tak Berduit, Tak Tampan

Siapa yang tidak ingin tampan dan berharta melimpah? Tentu semua pria menginginkannya.

Mungkin hanya segelintir orang saja yang menganggap harta tidak dapat menjadi acuan kesenangan. Namun faktanya, banyak orang yang menjadikan harta kekayaan sebagai acuan kesenangan. Dari golongan kecil saja sudah terpampang jelas, bahwa harta benda adalah simbol atau bukti faktual kesuksesan dan kesenangan.

Tampan sesungguhnya adalah anugerah yang Tuhan berikan kepada beberapa hambanya, namun ketampanan bukanlah suatu hal yang mutlak. Setiap orang memiliki selera dan definisi sendiri untuk bisa disebut tampan.

Standar tampan seorang pria, juga dipengaruhi berbagai macam faktor. Dapat juga dari segi budaya, etnis, bahkan hukum adat.

Misal saja di negeri Paman Sam. Wanita di sana lebih banyak yang menyukai pria bertubuh atletis, maskulin, bergigi bagus dan dari ras kulit putih. Tak tertinggal harta benda yang melimpah. Wanita-wanita Turki yang lebih menyukai pria feminim, Italia pun memiliki standar yang sama dengan Turki.

Namun standar tampan seorang pria lambat laun juga akan berubah lho. Dari sumber yang saya terima, dulu wanita Turki lebih menyukai pria yang berbadan sehat, berbulu, dan macho. Seiring perkembangan zaman pasti standar itu kini berubah menjadi pria yang feminim.

Dari beberapa wanita yang saya tanya, standar pria tampan paling utama adalah hidung, mulut, mata, dan penampilan. Wah siap-siap nih para kaum jomblo.

Namun banyak dari mereka menyukai pria yang mapan. Bisa juga dikatakan berharta, bukan berharga lho ya. Karena menurut mereka, jaminan hidup lebih menyenangkan daripada kepuasan hidup.

Apalagi belakangan ini kita sedang dilanda pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai. Malah semakin runyam, sampai pertigaan-pertigaan dan perempatan menjadi tempat nongkrong para aparat keamanan. Selain kesehatan sektor ekonomi juga yang menjadi krisis utama seseorang. Lalu, bagaimana nasib pria yang tidak tampan dan belum mapan?

Jangan khawatir sobat. Mereka juga mengatakan, bahwa kalau sudah terpapar virus cinta, yang tidak ada vaksinnya, semua standarisasi itu sudah tidak berguna lagi. Ada kesempatan hidup sekali.

Sebagai pria, tentu mari kita tingkatkan produktivitas kita dalam mencari nafkah. Mari sobat kita hargai diri kita dulu, hargai lingkungan kita, hargai orang-orang terdekat kita. Wanita pasti nempel.

2 Comments

  1. ” selain kesehatan sektor ekonomi juga yang menjadi krisis utama seseorang.”
    Kok saya bingung ya.
    Yang nulis sehat kan ?

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.