Telaah Politik Kampus (l)

(Dari Maire Mhic Roibin hingga Buana Hepi)

Sekitar sore tadi, saya kembali mengingat Maire Mhic Roibin, seorang Irlandia yang pernah menempuh pendidikan di Trinity College dan King’s Inns di Dublin, lalu kembali menamatkan pendidikan di Harvard, Amerika Serikat. Atas pengabdiannya terhadap pendidikan, kemudian ia memulai mengajar dalam mata kuliah hukum internasional di almamaternya, Trinity College hingga akhir 1990. Ketika itu, situasi politik Republik Irlandia sedang kacau dan betapa bermunculannya kaum-kaum yang termarginalkan dan diturunkan kelas sosialnya di mata masyarakat borjuis-kapitalistik. Atas dasar hal demikian, sepertinya Maire Mhic Roibin terketuk nuraninya untuk menata ulang sistem sosio-politik yang berada di sana. Dan atas dukungan partai buruh yang lekat dengan semangat Marxisme-leninis serta menggenggam erat peta pemikiran filsuf materialism Frederick Engels, ia maju independen dalam bursa pemilihan presiden yang terjadi ketika itu.

 Hasrat untuk berbakti pada kehidupan, kira-kira demikian yang tergambarkan pada mata seorang dosen Trinity College tersebut. Tepat pada musim dingin, sekitar awal Desember 1990 ia memenangkan pemilu dan terpilih menjadi wanita pertama yang menjabat Presiden di Republik Irlandia yang juga menandai sejarah baru dengan mengukukan relevansi Irlandia atas tatanan modern. Tercatat, atas naluri kebebasan, relasinya dengan masyarakat di luar Irlandia, serta berbagai kebijakan yang tegas dan responsif, yang saya kira saat itu, tengah mengalami transisi menuju peradaban lebih baik, ia sukses mengembalikan identitas Irlandia sebagai salah satu Republik berpengaruh di dunia hingga memimpin selama tujuh tahun, sampai 1997. Setelah lepas jabatan, atas dedikasi serta pemikirannya terhadap Irlandia, ia kemudian ditarik menjadi Komisaris PBB untuk urusan HAM hingga 2002. Seabrek prestasi tersebut kemudian menjadikannya salah satu perempuan berpengaruh di dunia, kala itu.

 Nah, ketika saya mengingat Maire Mhic Roibin, saya kemudian teringat kepada Buana Hepi. Mantan Gubernur Fak. Bisnis Universitas PGRI Yogyakarta periode 2020-2021 yang sekarang mencalonkan diri pada bursa pemilihan Presiden Mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta periode 2021-2022. Maire Mhic Roibin seperti memiliki kredibilitas dan semangat memperbaiki kebasudtan suatu sistem yang ada di Irlandia, dan itu tercermin dalam diri Buana Hepi, paslon nomer satu bursa Caprema periode ini. Hari lepas kemarin, seluruh elemen organisasi kampus yang ada di Universitas PGRI Yogyakarta seperti menghadapi goncangan dahsyat dan saya kira boleh, jura menyebutnya sebagai transisi politik dan titik paling vital dari itu adalah bagaimana masyarakat Universitas PGRI Yogyakarta kembali pada identitasnya semula, membangun mindset peradaban yang lebih baik dan itu di sadari oleh paslon ini dengan visi yang cukup mengejutkan bagi saya yakni, “Mewadahi pengkaderan dan merdeka mengabdi bagi mahasiswa” telaah sederhana saya adalah, ketika suatu sistem mengalami transisi, untuk mencapai tatanan peradaban yang lebih baik nantinya, (misal, kita sebut demi generasi unggul Indonesia) harus di mulai dari kaderisasi yang ajeg dan mapan serta saya kira ini frasa yang menarik, “meredeka mengabdi” yang menggambarkan keinginan kuat untuk menjamah persoalan-persoalan yang mangkrak pada periode sebelumnya.

 Dan ini saya paling tertarik, Buana Hepi benar-benar menekankan satu hal, seperti Maire Mhic Roibin saya kira, mengenai pembelaan terhadap kaum-kaum termarginalkan dalam masyarakat kampus. Semacam ingin mengabarkan kepada khalayak, bahwa tidak ada kelas sosial yang berpetak-petak dan cenderung diskriminatif. Ia benar-benar mengaplikasikan falsafah pendidikan Ki Hadjar Dewantara, yakni Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, serta tutwuri handayani. Pernyataan saya ini bukan tanpa dasar, pada jabatannya sebagai gubernur fakultas Bisnis, banyak capaian-capaian penting yang dilakukan dan sangat inovatif. Telaten, mandiri, tak kenal takut, teguh, inovativ dan berjiwa keanusiaan. Gambaran penting tersebut semacam melekat pada jiwa Buana Hepi. Maka kita perlu memberikan ruang utuh pada orag-orang semacam ini karena pasti, pengorbananya tidak mengecewakan. Telaah sederhana ini semoga menjadi pemantik untuk kita memilih lebih objektif. Semoga harinya menyenangkan dan selamat merenung.

Sumenep, 2021

Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About M. Rifdal Ais Annafis 1 Article
Pemerhati politik kampus Universitas PGRI Yogyakarta. Buku kumpulan puisinya, Artefak Kota-kota di Kepala (2021) .

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.