Terbit Hari Duka

Ingin ku jelaskan sajak resah dari lahirnya kata luka
Perihal cinta yang tumbuh namun hampa
Namun mekar merekah ketika senja
Seperti bunda yang pernah memulai segala degan Nya

Namun ini masih malam hari
Belum terbit esok yang tuhan janjikan
Belum terlihat fajar anggun itu
Masih malam hari saja seperti aku masih di perutnya

Tidak ada yang melupakan hari dimana badai seketika menyambar
Selain aku yang penuh harap bisa memeluk rengkuh tubuhmu, seperti saat bunga di depan rumah masih mekar.
Atau di peluk, seperti anak kecil di depanku yang mengundang iri
Dari Hati yang tertampar rapi

Tenang saja, tidak ada rindu yang terlewat sedikitpun
Selama hati tidak pecah karena ku tindas sendiri
Seperti halaman yang tak berumpun
luka dan kosong, Tidak hilang tidak juga pergi

Manis sekali
Anak kecil yang di ringkuh
Para remaja yang menyandarkan kepalanya di bahu ibu
Para dewasa yang menceritakan kehidupannya di depan matanya,di dengarkan telinganya.

Aku masih empat tahun Bu
Tatkala belajar membaca adalah harapanku
Berhitung ,menulis dan memahami menjadi pintaku
Walau tahun kian datang,Tuhan yang tidak hilang
Dan umur yang kian membisu.

Pahit sekali
Saat tumpukan sapu lidi aku goreskan di tanahmu
Membuang segala hal yang merusak indah taman mu
Di rumah tempat tuhan menyiapkan segala akhir
Memahami segala hidup tanpa di pahami takdir

Manusia bilang rumah itu adalah tempat pulang yang paling relung
Tempat tumpah lelah yang paling teduh
Aku juga ingin segalanya usai,lalu kembali pulang
Menikmati rumahku yang paling indah.

“Aku tunggu di rumah tuhan”
Hanya bisikan, kau, bu?
Sapu lidiku terdiam begitu lama saat kau berbisik
Dan aku benar-benar menunggu, saat tepat untuk pulang.

Kenapa tidak mengajak ku saja
Bisikan ini tidak ada guna
Tidak menopang sakitku di dunia
Tidak menawar pahit yang tak kian memburam

Tidak ada yang paling pelik
Selain jarak dari peluk yang hilang
Aku rindu tempat mewahku dulu
Pulang yang paling
Rumah yang menampung segala hidangan kehidupan

-Sumenep-15 November 2021


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Riskiyatul Hasanah 1 Article
Lahir di Sumenep 01 Agustus 2000. Seorang Pengurus Lembaga Pers Mahasiswa Retorika STKIP PGRI Sumenep

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.