M. Ainun Zamany Petani tebu Poncokusumo Malang. Sekarang sedang menempuh studi magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

The Power of Legowo

M. Ainun Zamany 1 min read 0 views

talman-madsen

[dropcap]T[/dropcap]ulisan ini berawal dari sebuah permasalahan yakni terjadinya perselisihan manusia baik antara dirinya maupun dengan orang lain. Sebagaimana diketahui bahwa selain manusia sebagai makhluk individu, ia juga merupakan makhluk sosial. Manusia tdak akan bisa hidup sendiri, kemudian lepas dari makhluk di sekitarnya. Manusia akan terus bergantung pada orang lain. Dengan demikian, manusia akan melakukan interaksi dengan lingkungan sekitar dan tidak jarang muncul gesekan, kemudian terjadilah perselisihan atau perbedaan pendapat. Perselisihan dan perbedaan pandangan antar setiap manusia adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan ini. Akan tetapi persoalannya adalah perselisihan dan perbedaan pendapat itu sering kali mengkristal dalam diri, sehingga muncul sifat dendam, iri dengki, dan hasut, kemudian terjadilah sikap tidak saling menghargai, saling menjatuhkan dan lain sebagainya. Nah, pertanyaannya adalah mengapa hal ini bisa terjadi ? dan bagaimna seharusnya bersikap ?

Penulis ingin mengajak pembaca untuk sedikit memahami kutipan ayat al-quran sebgai bahan kontemplasi bersama atas kejadian tersebut, kemudian perlahan kita amalkan. Ayat ini tercantum dalam surat Ali Imron ayat 159 :

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لنفضوا من حولك واعف عنهم واستغفرلهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين

Artinya “maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar. tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu maafkanlah mereka. mohonkanlah ampun bagi mereka. dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”(QS. Ali Imron:159).

     Jika penulis korelasikan antara ayat ini dengan permasalahan di atas maka dapat disimpulkan bahwa ada 3 point utama yang harus dilakukan ketika terjadi perselisihan pendapat. PERTAMA, memaafkan. Tidak ambil hati/tidak mudah Bawa perasaan(Baper). Baper sih boleh, asal tidak sampai berlarut-larut. Cobalah untuk melapangkan dada dengan menerima kebenaran orang lain dan mengakui kesalahan diri. KEDUA, memohonkan ampun untuk orang yg berselisih/bersitegang. Doakan mereka semoga dosa-dosanya diampuni dan diberi hidayah. Kemudian point KETIGA, bermusyawarah/berdialog/berkmpul bersama untuk mencari solusi atas setiap perkara/persoalan tanpa mengedepankan egosentris diri. Seperti pepatah mengatakan “segala sesuatu ada duduk perkaranya”.

     Penulis meyakini, jika ketiga point ini dapat diterapkan ketika terjadi perselisihan, maka sifat dendam, iri dan dengki akan sirna, dan justru akan bertransformasi menjdi sebuah rasa cinta. Nah, dari ketiga point ini akan muncul, yang orang jawa katakan sebagai sikap legowo/lapang dada.

     Lalu pertanyaannya adalah bagaimana supaya sikap legowo atau lapang dada dapat  diejawantahkan dalam diri individu. Menurut KH. Abdullah Gymnastiar (Aa gym), bahwa untuk mencipatakan sikap lapang dada ada beberapa langkah yang harus dilakukan, yakni pertama Belajarlah memahami, memaklumi dan menghargai bahwa latar belakang setiap orang berbeda-beda. Beda kepala, beda isi. Perbedaan adalah sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan. Kedua, berbaik sangkalah terhadap siapapun karena Allah. Karena berbaik sangka akan menmpengaruhi terhadap cara berfikir seseorang, bahwa orang yang berbaik sangka akan menumbuhkan sikap optimis. Katiga mengalahlah jika hal tersebut menjadi kebaikan bersama. Terlebih terhadap persoalan yang sepele. Keempat suka memaafkan kesalahan orang lain. Karena sejatinya manusia adalah makhluk yang tak bisa bebas dari salah dan lupa.

     Disisi lain, perselisihan itu terjadi kerena adanya sebuah kesalahan yg dilakukan. entah mungkin karena emosi yg tak terkontrol, atau sebab lainnya. Yang pasti, cegahlah untuk tidak melakukan kesalahan sekecil mungkin. Betul kata Pram “berfikirlah bijak sejak dalam pikiran”, agar terhindar dari kesalahan2 dalam perbuatan.

M. Ainun Zamany
M. Ainun Zamany Petani tebu Poncokusumo Malang. Sekarang sedang menempuh studi magister Pendidikan Bahasa Arab UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.