Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Tidak Paham Kok Sok Berkomentar

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 4 views

Tidak Paham Kok Sok Berkomentar

[dropcap]S[/dropcap]aya jengkel ahir-ahir ini sering melihat beberapa orang yang gemar mengomentari apa yang belum dia mengerti, padahal dia tidak tahu apa yang dikomentarinya. Satu contoh, bisa pembaca budiman lihat di beberapa fans page yang membagikan link berita atau tulisan, kemuadia lihat dikolom komentar, mungkin anda akan bisa menemukan orang atau bahkan beberapa orang yang asal komen negatif yang mana juga mengindikasikan dia belum lihat dan membaca isi dari link dibagikan tadi.

Itu tadi contoh kecil yang kerap saya temui, contoh besar yang lagi in adalah fenomena kekagetan orang-orang akan konsep islam Nusantara, mereka yang tidak setuju akan islam Nusantara sendiri ternyata tidak paham apa itu islam Nusantara, namun sudah berani komen bahkan menolak dan melabeli salah pada apa yang mereka sendiri tidak faham. Orang sekelas koh felix saja, yang bisa dikata adalah seorang tokoh dari ormas yang dibubarkan baru-baru, berani mengomentari islam Nusantara, padahal dia sendiri belum paham benar apa itu islam Nusantara.

Saya tidak masalah dengan orang yang tidak suka, karena suka dan tidak suka adalah masalah selera. Pun kalau masalah tidak setuju, saya juga tidak masalah, karena setuju dan tidak setuju itu adalah hak pribadi seseorang, selama dia tahu apa yang dia setujui dan apa yang dia tidak setujui, jika tidak tahu maka tidak perlu setuju dan tidak setuju, karena apa yang mau dia setujui dan tidak setujui wong tidak faham. Nah, yang saya agak permasalahkan adalah orang yang benci, yang lalu membuatnya tidak mau mencari tahu dan kemudian memberikan respon respon negatif atau memberikan komentar-komentar yang mana dia sendiri tidak tahu dan faham tentang apa yang dia komentari.

Wocoen   Melebur Sekat-sekat Perbedaan dalam Makna Hakiki

Sikap tidak tahu atau tahu tapi tidak paham, lalu berani berkomentar adalah sesuatu yang tidak elok dan tidak etis untuk dilakukan. Orang yang seperti ini adalah orang yang hidup dalam dunia perasangkanya sendiri lau menghakimi orang yang diluar dirinya atas dasar perasangkannya, padahal belum tentu yang dihakimi memang benar-benar seperti apa yang dia perasangkakan. Bukan kah agama sendiri telah melarang melakukan berperasangka-berperasangka? apalagi kalau itu adalah perasangka yang buruk.

Belum lagi jika mereka dihadapkan dengan maraknya berita bohong yang ada dimana-mana, saya tidak berani membayangkan seperti apa nanti jadinya. Terhadap yang benar saja tidak mau mencari tau seperti apa kenyataan nya, seperti apa benarnya, apalagi pada sesuatu yang belum pasti kebenaranya.

Yang saya permasalahkan lagi, sikap mereka yang responsif dan tanpa pikir panjang, kalau memang kita dihadapkan dengan sesuatu yang kita belum paham, sudah diam saja. Jangan lalu ikut menilai atau malah-malah ikut berkomentar, untung kalau apa yang anda komentari benar, kalau apa yang anda komentari tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya? Maka tidak heran ahir-ahir ini sering orang yang responsif mengomentari apa yang dia tidak pahami, lalu beberapa hari setelahnya membuat surat pernyataan permintaaan maaf.

Sunan Kalijaga sudah dari dahulu kala telah mengajari murid-muridnya untuk tidak sok tahu dan sok pintar, ojo kuminter mundak keblinger, ojo cidro mundak ciloko (jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka).

Maka benar saja, mereka yang mengkomentari apa yang tidak dipahaminya lalu tidak nyambung sama sekali dengan kebenaran yang ada, kalau misalkan tepat sasaran itupun hanya untung-untungan saja. Oleh karenanya agar tidak berujung malu, atau bahkan menyesatkan orang, alangkah lebih baik jika kita diam dan tidak mengomentari apa yang tidak kita pahami, assukutu salamatun.

Wocoen   Mencari-cari Kesalahan
Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.