TikTok, Platform Media Sosial Paling digemari Masyarakat dan Pengaruhnya bagi Generasi Z

Pada mulanya aplikasi TikTok yang diluncurkan pada tahun 2016 lalu kurang dilirik oleh masyarakat. Aplikasi ini dianggap terlalu lebay lantaran hanya menampilkan vidio joget-joget norak, tampilan aplikasi yang kurang menarik, dan sepinya pengguna menjadikan TikTok kurang diminati. Pengguna aplikasi ini juga dicap terlalu berlebihan ketika mencoba membuat suatu vidio lantaran ia merekam vidio sendiri dan si pengguna melakukan gerakan ataupun gaya teretentu yang dianggap aneh menurut masyarakat. Hal ini saya saksikan sendiri ketika teman saya membuat suatu vidio musik di TikTok kemudian mengunggahnya kembali pada platform Instagram dan story Whatsapp, ia sempat dicap norak dan ditertawakan oleh teman-temannya. Padahal menurut saya itu merupakan bentuk ekspresi seseorang yang mungkin sah-sah saja ketika dia mengunggahnya di media sosial asal tahu norma dan etika bermain media sosial. Pada waktu itu media sosial yang paling digemari masyarakat adalah Youtube dan Instagram, dua platform media sosial tersebut menjadi media sosial paling sering digunakan oleh anak muda, sehingga Tiktok belum dikenal oleh masyarakat pada umumnya. Oleh karenanya jika seseorang sudah memiliki akun instagram lalu memposting foto-foto di dalammnya maka ia akan merasa keren dan mengikuti tren.

 Platform vidio musik asal tiongkok tersebut akhirnya memperbaiki kekurangan yang ada, bahkan mencoba menambahkan fitur-fitur menarik yang sebelumnya tidak ada di platform media sosial manapun. Masyarakat mulai meliriknya dan lambat laun bertambahlah pengguna TikTok meski masih ada juga mencibirnya. Popularitas aplikasi pesaing Instagram ini terus bertambah setiap tahunnya, menurut we are social, TikTok telah memiliki 1,4 milyar pengguna aktif bulanan berusia diatas 18 tahun secara global pada tahun 2022, itu artinya bahwa aplikasi ini memiliki pengguna aktif terbanyak dari kalangan gen z (Generasi Z, Generasi yang lahir tahun 1996-2009) walaupun memang tak sedikit pula pengguna TikTok dari kalangan milenial (generasi tahun 1981-1995).

Fitur dan efek menarik yang ada kemudian menjadikan aplikasi ini digemari oleh kebanyakan gen z. Karakter gen z yang cenderung lebih suka menyerap informasi secara singkat, padat, tidak bertele-tele, dan menarik itulah menjadikan platform ini ramai diisi oleh anak anak muda. Bagi saya aplikasi TikTok ini cocok dan sesuai dengan zamannya dimana kebanyakan orang dapat mengakses informasi secara instan. Hal inilah yang kemudian mempengaruhi gaya hidup anak anak muda sekarang bahwa mereka lebih cepat beradaptasi dengan teknologi, lebih tau informasi terbaru serta melek akan fenomena yang diterjadi di sekitarnya.

Dalam aplikasi ini pula kita bisa mencari aneka kuliner, tempat wisata, lifehack, bahkan materi pelajaran yang semuanya dikemas dengan cara yang simple dan ciamik. Maka jangan heran jika kemudian TikTok berubah menjadi mesin pencari yang mampu menyaingi google, menurut informasi dari kumparan,com bahwa TikTok begitu populer selama 2021 hingga aplikasi berbagi video pendek tersebut mampu mengungguli Google, website mesin pencari yang biasanya dibuka orang pertama kali saat searching di internet. Jika generasi milenial dulu mencari sebuah fakta dan data lewat Google maka kini generasi gen-z cenderung lebih sering berselancar di tiktok untuk mencari fakta, data, dan hiburan.

Fenomena dan tren viral saat ini juga berawal dari TikTok. Masih ingatkah anda Citayam Fashion Week ? ya tren anak muda yang menggunakan busana nyentrik dan meramaikan kawasan SCBD Jakarta beberapa bulan lalu pada mulanya menjadi viral di TikTok dan akhirnya menyebar menjadi tren yang paling sering diperbincangkan masyarakat. Dari fenomena tersebut munculah fashion week lainnya di berbagai kota di Indonesia, anak-anak mudapun turut menyemarakan tren tersebut di platform media sosialnya masing-masing. Tak hanya itu Kasus konflik pesulap merah yang membongkar perdukunan bodong ala gus syamsudin asal blitar tersebut juga pertama kali muncul di TikTok. Maka jangan heran jika dari aplikasi ini kita bisa mengetahui fenomena atau berita yang sedang ramai saat itu juga. Oleh karenanya jika anda ingin menjadi orang terkenal dan viral maka buatlah vidio yang menghibur, menarik, dan belum pernah ada sebelumnya maka tak lama kemudian akun anda akan ramai diikuti para netizen. Salah satu pengguna TikTok asal madura pada mulanya tidak sengaja menyanyi lagu berjudul maya ciptaan Habib Muchsin Al-Athas kemudian ia mengganti lirik lagu yang dipopulerkan Megi Z tersebut dengan liriknya sendiri, netizen menyebutnya dengan lirik dir dur daeng, vidionya ternyata diunggah oleh temannya di TikTok hingga kemudian vidionya viral, iapun akhirnya ditawari berbagai pihak untuk memasarkan produk di TikTok Shop, itu artinya pengguna TikTok memiliki kesempatan untuk menjadi orang terkenal dan influencer dengan catatan ia bisa mengisi konten TikTok dengan gaya yang menarik dan apik.

Tahun 2021 lalu TikTok meluncurkan TikTok shop. Fitur ini adalah sebuah sosial commerce innovatif yang dapat menjangkau para penjual, pembeli, dan kreator untuk menyediakan pengalaman berbelanja yang lancar, nyaman dan menyenangkan. Jika kita menilik TikTok maka kita bisa berbelanja dan memilih barang yang kita butuhkan dengan cara yang mudah dan efisien. Harga barang yang murah dan banyaknya para kreator TikTok yang berlomba lomba membuat konten menarik serta memasarkan produknya dengan cara yang apik menjadikan para konsumen beralih menggunakan aplikasi TikTok untuk berbelanja.

Kini TikTok menjadi pesaing berat instagram bahkan e-comerce sekelas Shopee. Penggunanya terus melonjak dan menjadi platform terbesar di dunia. Pengguna TikTok di Indonesia merupakan terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat dengan jumlah 99,1 juta orang . Pengguna TikTok di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu di TikTok sebanyak 23,1 jam perbulan. Sebuah angka yang besar mengingat masyarakat indonesia cenderung lebih suka bermain medsos dan mewarnai dunia media sosial.

Di era distruptif ini sudah seharusnya kita bisa memfilter konten-konten yang ada di TikTok dan media sosial lainnya. Elon mask mengatakan bahwa TikTok merusak peradaban, perkataan pendiri SpaceX dan mobil listrik Tesla ini sempat viral di jagad Twitter pada bulan lalu. Apa yang ia katakan mungkin benar dan mungkin salah. Beberapa orang berpendapat bahwa TikTok memiliki sisi negatif diantaranya menjadikan anak-anak malas berfikir, mengurangi minat belajar anak, mudah termakan berita hoax dan terprovokasi. Namun bagi saya bahwa setiap media sosial memiliki pengaruh negatif ataupun positif. Kita tidak bisa melarang anak didik kita bermain TikTok, karena memang aplikasi TikTok ini lahir di eranya, sebagaimana orang tua kita dahulu tidak bisa melarang anak-anak generasi mileneal menonton tv di zamannya. Tugas utama kita adalah mengikuti perkembangan teknologi, turut terjun di dalamnya, dan mengkampanyekan anak didik kita agar dapat menggunakan aplikasi ini secara bijak serta mengajak mereka mengisi konten-konten yang menarik dan inspiratif. Dengan begitu maka kita bisa menemukan banyak manfaat dari TikTok serta bisa mengarahkan anak didik kita agar dapat melek teknologi dan literasi.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhammad Bagus Ainun Najib 11 Articles
Guru Madrasah dan Alumni UIN Maliki Malang

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.