Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Tradisi yasinan

Muhamad Isbah Habibii 1 min read 33 views

Mungkin muslim di dunia tidak asing lagi dengan kata yasin, karena ia merupakan salah satu dari beberapa nama-nama surat dalam Al-Qur’an. Tapi belum tentu semua muslim mengenal istilah “yasinan”, dengan penambahan ahiran -an.

Penambahan kata -an di ahir kata yasin menandakan adanya upaya menjadikan kata benda menjadi kata kerja. Yang aslinya Yasin adalah kata yang menunjukkan nama dari surat, namun setelah ditambahi -an menjadi kata kerja, yakni membaca surat Yasin.

Tidak berhenti di situ saja, Yasinan dalam tradisi Islam di pulau jawa khususnya, adalah nama dari satu tradisi unik yang belum tentu di miliki oleh umat Islam di luar jawa. Tradisi pembacaan Yasin biasa dilakukan oleh orang-orang muslim dilakukan secara bersama-sama atau berjamaah.

Ada kalanya dilakukan secara rutin, ada kalanya dilakukan secara insidental. Rutin berarti dilakukan seminggu sekali, di hari yang ditentukan. Insidental dilakukan di waktu-waktu tertentu, seperti ketika ada kerabat yang meninggal, atau ada acara memperingati 40 hari, 100 hari, dan lain sebagainya.

Yasinan sendiri adalah satu bentuk kepedulian dan sambungnya jalinan hubungan yang dimiliki oleh orang yang masih hidup di dunia ini, dengan mereka yang sudah meninggal. Pun jika dilakukan secara berjamaah akan menciptakan ruang publik, dimana ruang itu dapat menjadikan masyarakat guyup dan rukun, sebab mereka dapat bersosial dengan baik.

Namun, karena tradisi ini tidak banyak dimiliki oleh komunitas muslim di luar jawa, banyak pihak yang merasa asing atau bahkan menolak tradisi ini. Tak jarang ada yang sampai menganggapnya bid’ah bahkan sesat.

Padahal kegemaran membaca Yasin ini memiliki pondasi yang kuat sebenarnya. Seperti hadits yang di kitab al jamik as shoghir, jus 2, halaman 128.

Wocoen   Mendefinisikan Ulang Arti Kiai

عن معقل بن يسار رضي الله عنه : من قرأ يس ابتغاء وجه الله غفر له ما تقدم من ذنبه فاقرءوها عند موتاكم. رواه البيهقي في شعب الإيمان. حديث صحيح.

“Dari ma’qil bin yasar RA: barang siapa yang membaca surat Yasin semata berharap ridho Allah maka akan diampuni dosa-dosa yang telah lampau, maka bacalah surat tersebut di samping mayit-mayitmu”.¹

Atau hadist yang hampir sama redaksinya, yang ada di kitab bulughul maram nomor 107 halaman 559. Namun dalam hadits ini menyiratkan bebasnya waktu dan tempat, asal dengan niatan yang sama.

عن معقل بن يسار رضي الله عنه : أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اقرءوا على موتاكم يس. رواه ابو داود و النسائي وصححه ابن حبان.

“Dari ma’qil bin yasar RA, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: bacalah Yasin untuk mayit-mayitmu, diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i dan dishohehkan oleh Ibnu khibban”.²

Jadi bila ada tuduhan tradisi ini tidak berdasar tentu sangat tidak benar. Ada dasar yang kuat, seperti yang sudah saya sebutkan di atas.

Namun memang, karna ini tradisi lama, maka keberadaannya akan selalu digoyang oleh kegiatan-kegiatan baru. Seperti game online misalnya yang bisa menyihir orang berjam-jam di warung demi Wi-Fi gratis.

Kegiatan hataman DRAKOR juga bisa mengancam hilangnya tradisi-tradisi lama seperti ini. Karena kegiatan ini bisa bikin pelakunya betah di kamar berhari-hari, mandi saja belum tentu dilakukan apalagi cuma sekedar yasinan.

“Lha pye maneh, wes jamane jeh”. Begitulah kira-kira tanggapan yang diberikan banyak orang bila ada yang mengeluhkan tradisi ini sudah mulai tergerus oleh zaman.

Muhamad Isbah Habibii
Muhamad Isbah Habibii seorang petani asal Jombang, yang sedang ngangsu kaweruh di Pondok Gasek dan melakukan research di Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.