Uang Memang di Atas Segalanya

Sudah jamak di telinga, bahwa uang adalah hal yang penting bagi masyarakat. Hingga ada cocot lamisnya orang-orang “uang memang bukan segalanya, tapi segalanya tidak bisa tanpa uang”. Sebegitu pentingnya uang, hingga ia banyak dianggap sebagai penentu bagi banyak hal.

Bahkan dalam urusan cita-cita dan idealisme hidup, yang ditempa dalam kawah candradimuka di kampus-kampus atau di pesantren-pesantren, yang berhasil menciptakan seseorang yang idealis dan bercita-cita mulia. Tapi setelah diterpa kenyataan hidup selama setahun dua tahun, bahwa uang itu penting, maka luluhlah idealisme-idealisme yang ia pegang, dan lepaslah cita-cita yang kini sudah tidak nampak mulia lagi.

Sedasyat itulah power dari makhluk yang bernama uang. Sampai-sampai mampu meluluh lantakkan hampir semua individu yang tidak menganggap penting uang. Hingga, uang ini mampu membuat kalimat sahih “kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang” jadi hal bodoh, dan tidak dianggap benar.

Oleh sebab itu, banyak hal-hal yang sifatnya bermanfaat tapi tidak menghasilkan uang, akan tergerus dengan hal-hal lain, yang bisa mendatangkan uang. Menjadi pendidik bisa sangat dianggap remeh bagi sebagian orang, dibandingkan buruh cuci piring, sebab yang satu tidak melulu menghasilkan uang, dan yang satu menghasilkan.

Lalu apakah memang uang harus dianggap sebagai hal yang penting dan menjamin kebahagiaan dan kecukupan? Jawabnya, tentu tidak harus, karena hidup ini tidak melulu perkara uang. Uang adalah hal duniawi, dan agama datang mengenalkan hal yang lain, yakni hal-hal yang sifatnya ukhrowi, atau bernilai akhirat.

Dengan datangnya agama, orang tidak lagi melulu berorientasi pada uang dalam segala tindak tanduknya. Agama memperkenalkan konsep pahala dan dosa sebagai sebuah bentuk imbalan dari sebuah pekerjaan. Orang bisa meluangkan waktu dan tenaganya, hanya dengan imbalan pahala, yang sebenarnya cukup abstrak dan tidak sekongkrit uang.

Hobi pun seperti itu, bisa mendorong seseorang melakukan suatu hal tanpa adanya uang. Yang hobinya memancing rela panas dan duduk seharian demi memuaskan hasrat memancingnya. Yang hobi nge-gacha rela nge-gacha bahkan rela menghabiskan waktu dan uangnya untuk membeli chips. Dengan demikian, hobi bisa mengalahkan uang, tapi pada kenyataannya hobi sendiri kebanyakan juga butuh uang. Jadi, bagi penghobi uang bukan segalanya, tapi tanpa uang hobi kebanyakan tidak akan berjalan.

Selain pahala dan hobi, ada hal lain yang bisa juga mendorong seseorang melakukan suatu hal tanpa ada bayaran uang, yakni rasa cinta, kepedulian, kasih sayang. Orang bisa saja bekerja, seperti menggerakkan media yang bergerak di bidang literasi, tanpa harus dibayar dengan uang, dengan hanya dorongan rasa peduli.

Lalu, uang memang bisa bikin bahagia, tapi bahagia tidak selalu sebab uang. Banyak orang yang bisa bahagia, walaupun tanpa uang. Ke warung kopi ngutang, tapi masih bisa ketawa ketiwi dengan teman tongkrongan. Uang memang gampang bikin bahagia, tapi orang yang sedang tidak punya uang juga berhak bahagia, tanpa harus menunggu sudah punya uang.

Akhir kata, uang memang di atas segalanya, tapi bukan berarti uanglah yang berada di puncak, karena di atas uang masih ada hal-hal yang lain, misalnya kebahagiaan, entah kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Tapi memang sih, kebahagiaan tidak bisa buat bayar cicilan, uang bisa.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Muhamad Isbah Habibii 56 Articles
Seorang petani asal Jombang, alumni Tambakberas, Ponpes Gasek dan Pasca sarjana UIN Maliki Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.