Ulama dan Sebuah Pemikiran Realistis

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah menghadiri pengajian salah satu cendekiawan idola saya. Banyak pendapat dan pernyataan beliau yang saya pun juga menyetujuinya. Maklum idola. Apa yang dikatakan cendekiawan idolanya, sebagai fans seseorang cenderung akan mengamini, termasuk saya.

Beda urusannya jika itu musikus idola; musiknya bagus-bagus dan enak didengar, tapi kadang tindakan dan mulutnya ‘rusuh’, bikin risi orang yang melihat atau mendengarnya. Namun saya ini orang bodoh. Sehingga saya tidak tahu bahwa terhadap idola, saya termasuk orang yang ” taabi’ ” atau “taqliid”.

Di antara pernyataan beliau di berbagai kesempatan yang saya ingat –yang saya ingat, bukan berarti yang saya setujui–, terutama di forum pengajian tersebut, bahwa ulama atau kiai yang ideal –maaf, sementara untuk ‘ngecebret’ kali ini saya harus menyamakan dulu definisi kata ‘ulama’ dan ‘kiai’ walaupun sebenarnya 2 kata tersebut mempunyai pengertian berbeda– ialah ulama atau kiai yang mengambil ‘jalur kiri’. Jalur kiri artinya ia berhadap-hadapan dengan arus atau suatu rezim –atau kekuatan besar– yang menindas. Dalam arti bahwa ia akan berdiri sebagai oposan.

Kita tahu, oposan adalah orang yang cenderung secara terbuka melawan kekuatan besar yang semena-mena terhadap kekuatan kecil. Mereka senantiasa membela dan mendampingi kekuatan-kekuatan kecil yang terzalimi tersebut.

Kata ‘semena-mena’ atau ‘menindas’ ini perlu diingat. Artinya, keoposisian ulama atau kiai ada ketika kekuatan besar di atas berlaku zalim terhadap kekuatan kecil. Dan oposisi ini tidak berlaku ketika tidak ada penindasan oleh kaum ‘superior’ terhadap kaum ‘inferior’. Dengan begitu oposisi ulama atau kiai tidak asal oposisi.

Inilah salah satu fungsi ulama atau kiai di tengah masyarakat, kata idola saya. Sesuai pengertian kata ‘kiai’ secara bahasa, yang merupakan akronim dari Bahasa Jawa ‘iki wae’, yang berarti ‘ini saja’.

‘Iki wae’ ditujukan kepada orang yang dihormati, orang yang hendak dipemimpinkan di tengah masyarakat. Mengapa dipemimpinkan dan dihormati? Sebab selain berilmu atau mempunyai kelebihan tertentu, ia adalah orang yang ringan tangan. Dengan kelebihan yang dimiliki, tanpa pamrih ia menolong orang sekitar. Kehidupannya dipenuhi belas kasihnya terhadap orang banyak. Hidupnya hanya didedikasikan untuk orang lain yang membutuhkan.

Namun sekarang kualifikasi kiai lebih mudah. Berbekal punya pondok pesantren, atau keturunan kiai, saat seseorang sudah masuk umur 40 ke atas sudah bisa dipanggil kiai. Kalau sudah haji ya berarti gelarnya kiai haji (KH) di depan nama. Itu kata idola saya lho, ya. Saya hanya menirukan. Dan juga, kita sedang belum membicarakan kualitas keilmuan kiai di atas.

Dalam konteks oposisi atau tidaknya ulama, akan menjadi rumit ketika masyarakat kecil dihadapkan dengan pemerintah atau pengusaha berkepentingan yang mempunyai kekuatan begitu besarnya sehingga sulit dilawan. Entah itu kekuatan besar tersebut berupa dana, atau dukungan yang besar dari kelompok lain yang berkekuatan besar.

Permasalahan sosial semakin kompleks. Tidak selalu seseorang bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang terjadi dalam masyarakat, tidak terkecuali ulama.

Ulama, yang notabene sebagai ahli agama, menjadi tidak patut jika kita bertanya tentang gizi, tentang kesehatan, tentang dunia bisnis dan sebagainya. Sudah banyak masalah-masalah yang menimbulkan pergesekan antara kekuatan besar; pemerintah atau pengusaha, dengan masyarakat kecil yang belum tuntas. Kalaupun tuntas, hal tersebut cenderung merugikan hak-hak rakyat jelata.

Di sinilah, keidealan ulama salah satunya dilihat dari keberpihakannya terhadap hak-hak masyarakat terampas. Untuk memihak masyarakat dan melawan pemerintah atau pengusaha secara terang-terangan juga membutuhkan pemikiran dan tenaga ekstra. Artinya ia tidak sesederhana memahami syarat dan rukun wudlu, tidak semudah menghafal tasrifan fa’ala yaf’ulu fa’lan.

Jika zaman dahulu kita mengenal sosok Pengeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin dan sebagainya. Kemudian di zaman yang berbeda ada KH. Zainal Arifin, Hadrotussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Abbas Buntet, dan kiai-kiai pesantren lain yang heroik melawan penjajah. Beliau-beliau secara nyata melawan kekuatan besar yang menzalimi rakyat kecil. Dan memang situasi pada saat itu mengharuskan beliau-beliau untuk mengambil sikap seperti itu.

Sekali lagi, di zaman sekarang permasalahan sosial semakin kompleks. Cara maling ‘nyolong’ uang semakin canggih hingga 2,4 triliun bisa amblas tak tahu jeluntrungnya. Pengusaha atau petinggi negara yang merampas hak rakyat kecil dilakukan dengan cara persuasif dan samar sekali. Ikut menuntaskan masalah-masalah tersebut dan melawan arus besar di atas saya rasa kok lebih mudah menghafal fa’ala yaf’ulu fa’lan, hehehe.

Akhirnya, sikap yang realistis yang bisa diambil seorang ulama adalah mendampingi masyarakat kecil, ‘ngancani’ kesedihannya, menghibur mereka yang sebenarnya ditindas walaupun kadang merasa tidak ditindas. Lain cerita jika ulama menghimpun kekuatan dan bersama-sama melawan kekuatan besar yang zalim.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Hanif N. Isa 19 Articles
Mas-mas biasa.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.