Unjuk Rasa Para Puisi

Para puisiku berbaris dan berdemo

di depan meja belajar yang sudah menua

dan hendak pensiun. Mereka menuntut

sebuah permintaan yang hingga

kini belum dapat aku kabulkan.

 

“Di luar dingin. Kami ingin dibuatkan

rumah yang hangat agar kami bisa bersatu

dan tidak tercerai-berai seperti saat ini!”

 

Aku yang ketakutan pun berusaha menenangkan.

“Mohon bersabar. Ini ujian, wahai

teman-teman sekalian. Aku berjanji, suatu

hari nanti akan kubangun rumah terbaik

untuk kalian semua; dengan beranda yang

menarik mata dan kamar-kamar mewah

yang mahal dan penuh makna. Namun,

untuk sekarang, ada baiknya bila kalian

segera pulang ke kediaman masing-masing

yang dingin dan semu.

 

Para puisiku pun pulang dengan kecewa.

Tersisalah meja belajar yang tak kekal,

tinta yang semakin hari semakin nakal,

dan diriku yang mulai kehabisan akal.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Bintang Ramadhana Andyanto 6 Articles
Saat ini saya berusia 19 tahun. Saya mulai menyukai dunia sastra sejak menginjak bangku kelas XII. Awal mula ketertarikan saya terjadi karena saya membaca sebuah novel karya Fiersa Besari yang berjudul “Konspirasi Alam Semesta”. Sejak itu, saya telah jatuh cinta pada dunia tulis-menulis.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.