Victim Blaming

Akhir-akhir ini tampaknya sosial media ramai sekali memperbincangkan berbagai kasus yang berkaitan erat dengan perempuan. Mulai dari kasus poligami, kekerasan seksual, pemerkosaan berkedok nilai, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya kasus mengenai perempuan jika dibahas tidak akan ada habisnya. Karena memang selama ini citra perempuan di mata laki-laki adalah sebagai objek seksualitas yang dapat dinikmati.

Jika kita sebagai orang waras melihat banyaknya kasus yang ada, kita akan berpikiran bahwa korbannya adalah perempuan, yang perlu ditindak lanjuti adalah laki-laki. Nyatanya masyarakat kita punya budaya yang unik, yaitu budaya patriarki dan mudah sekali menerima gagasan playing victim pelaku, apalagi orang-orang desa. Biasanya yang disalahkan tetaplah pihak korban atau biasa disebut dengan victim blaming.

Victim blaming adalah menyudutkan atau anggapan bahwa korbanlah penyebab terjadinya kesalahan yang menimpanya. Biasanya victim blaming ini ditujukan kepada pihak perempuan yang menjadi korban pelecehan atau kekerasan seksual, ketika korban meminta pertanggung jawaban. Misalnya ada korban pemerkosaan, justru beberapa masyarakat beranggapan bahwa “perempuan berpakaian terbuka kali ya”, “kurang bisa menjaga diri mungkin”, atau “memang si perempuannya yang menggoda, kok bisa sampai terjadi demikian, laki-laki kalau tidak digoda ya gak mungkin tergoda”.

Miris sekali mendengarnya, ditambah perkataan-perkataan semacam itu biasanya keluar dari mulut perempuan. Padahal tak sedikit pula korban pelecehan seksual yang berpakaian sopan bahkan bercadar. Jika kita mau menelisik mundur ke belakang, sebenarnya adanya victim blaming juga dipengaruhi oleh stereotip terhadap perempuan yang dibentuk oleh masyarakat Indonesia sejak anak lahir di dunia ini lho.

Stereotip atau pelabelan seperti perempuan dianggap lemah, cengeng, dan dapat diperdaya. Laki-laki dianggap kuat dan berkuasa menjadi hal paten dalam pandangan masyarakat. Contoh saja perempuan melintas di jalan dan digoda oleh laki-laki “Assalamualaikum, Neng” “suit suiiit”, tentunya dianggap sangat lumrah, “ah namanya juga laki-laki, wajar”. Padahal dari hal kecil tersebut bisa menjadi dampak yang besar di kemudian hari.

Laki-laki semakin beranggapan bahwa perempuan tidak berdaya dan bisa dikendalikan. Sedangkan perempuan beranggapan sebagai bahwa dirinya adalah kaum lemah dan objek seksualitas saja.

Saya jadi teringat kisah nyata, anggap saja Mbak Fella. Ia adalah mahasiswi baik-baik dan gak pernah neko-neko. Banyak yang mengatakan ia cantik, sampai-sampai beberapa dosen yang beristri dan beranak menyukainya.

Seakan kecantikannya menjadi petaka buatnya. Dosen tersebut seringkali WhatsApp basa-basi yang tidak penting. Tentunya Mbak Fella tidak membalas, karena ia sendiri takut dan risi.

Sampai akhirnya si dosen nekat untuk datang ke kos Mbak Fella. Jelas Mbak Fella menolak untuk menemuinya.

Akhirnya Mbak Fella mencoba memberanikan diri untuk cerita ke beberapa orang yang ia percaya, sayangnya tanggapan mereka sangat mengejutkan. Mereka menganggap bahwa Mbak Fellalah yang mungkin keterlaluan menanggapi si dosen dan mencari perhatian. Kalau Mbak Fella tidak cari perhatian tidak mungkin si dosen bisa bersikap begitu, ungkap mereka.

Kasus di atas hanya 1% dari sekian banyak kasus yang saya dapat mengenai victim blaming. Saya rasa perlu adanya tindakan sederhana yang berdampak besar yang bisa dimulai dari diri sendiri. Seperti memberanikan diri untuk menegur siapa saja yang melakukan pelecehan seksual dalam bentuk apapun, serta tidak pernah menganggap wajar sebuah pelecehan seksual meski sekecil apapun itu.

Bayangkan atau bahkan beberapa memang sudah terjadi terhadap adik, kakak, bahkan ibu kita, apa kita rela victim blaming ini terus dilestarikan? Jawabannya ada dalam nurani kita masing-masing. Semoga tulisan yang terbatas ini mampu membuka pikiran kita, baik laki-laki maupun perempuan untuk lebih bijak dan objektif dalam menilai sebuah perkara. 

Wallahu a’lam bisshowab.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Novia Akromussolihah 1 Article
Lahir dan berdomisili di Bojonegoro. Pernah menempuh pendidikan formal di pascasarjana UIN malang, jurusan pendidikan bahasa Arab sekaligus pendidikan non formal di ponpes Sabilurrosyad Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.