Sosial Agama

Virus Corona; Antara Jabariyah, Qodariyah dan Ahli Sunnah

Akhir-akhir ini telah terjadi kejadian luar biasa yang menimpa seluruh negeri, mulai dari ujung barat sampai ujung timur. Hingga masyarakat di berbagai daerah berbondong-bondong mencari cara untuk menyelamatkan diri dari kejadian tersebut. Ada yang melakukan ‘uzlah di rumah hingga tak mau ke mana-mana namun ada juga yang santai-santai saja yang penting bisa ngopi dan ngerumpi. Ada yang ribut mencari masker namun ada juga yang menjual masker dengan harga yang di luar kebiasaan, ada yang berbondong-bondang mencari hand sanitizer namun stok di toko-toko banyak yang sudah habis. Semua itu disebabkan oleh Corona/covid-19. Virus ini kabarnya bisa menular dan menyerang manusia baik pada bayi, anak-anak, remaja, dewasa, apalagi mbah-mbah. Namun kira-kira apakah virus itu bisa menyerang hewan atau tumbuhan? Jawabannya pasti saya nggak tahu, karena itu bukan bidang saya. Nanti dikira saya memfitnah Corona karena fitnah itu lebih kejam dari pada virus itu sendiri. Hehe.

Semenjak virus itu menyebar ke Indonesia, terjadilah perbedaan pendapat di masyarakat. Ada yang mengikuti madzhab Jabariyah, ada juga yang mengikuti madzhab Qodariyah. Namun ada juga yang mengikuti madzhab ahli sunnah. Semua itu tergantung dari pemahaman dan keyakinan mereka. Nah mungkin ini lebih menarik untuk dibahas dari pada membahas Corona itu sendiri.

Kaum penganut madzhab jabariyah memandang bahwa semua kejadian itu berasal dari Tuhan, sehingga hidup dan matinya dipasrahkan kepada-Nya. Kaum ini bisa dikatakan kaum “pasrah bongkoan”, istilah jawanya, yang ketika terkena virus Corona ini, dia menganggap enteng virus itu dan hanya bilang “ora opo-opo, kabeh urep lan mati, wes diatur pengeran.” Tanpa ada usaha pencegahan, dan hanya pasrah, kelihatannya secara zahir kaum ini sangat religius padahal jauh dari kata itu. Kalau ada orang seperti ini jangan lupa disuruh masuk ke sumur ya. Hehe.

Wocoen   Benarkah Nabi Muhammad itu Sesat Sebelum Menjadi Nabi?

Ada juga kaum madzhab Qodariyah kaum ini berbanding terbalik dengan kaum jabariyah, kaum ini berpandangan bahwa semua yang dilakukan adalah dari kehendak dirinya, sehingga mereka berusaha berbagai cara untuk mencegah virus itu dengan ‘uzlah di rumah dan menghindari orang-orang sampai menutup rapat-rapat pintu rumahnya dan tidak keluar sama sekali secara berlebihan. Bahkan sampai ada larangan salat berjamaah dan salat Jumat. Hal ini mungkin bisa dilakukan apabila ada perintah dari ahli bahwa apabila hal itu masih tetap dilakukan, maka akan semakin terjadi madhorot yang lebih besar, kalau tidak ada perintah dari ahlinya ya ‘B” aja.

Dari kedua aliran tersebut muncullah aliran Ahli Sunnah. Aliran ini adalah aliran yang menggabungkan kedua aliran di atas, yakni selain berikhtiyar juga butuh berdoa atau bisa disebut dengan tawasuth (tengah-tengah). Sebab menurut pepatah doa tanpa usaha sama halnya bohong, dan usaha tanpa doa sama halnya sombong. Aliran ini yang mungkin tepat untuk diikuti dalam menangani virus Covid-19 ini. Selain mereka berupaya melakukan pencagahan untuk musibah itu, mereka juga berdoa dan bertawakkal atas apa yang akan terjadi pada dirinya.

Oleh sebab itu, berikhtiyarlah sesuai apa yang telah dikatakan oleh ahli seperti para dokter dan medis, namun jangan lupa untuk bertawakkal dengan membaca dzikir atau doa-doa yang telah diajarkan para kiai-kiai kita. Semoga kita semua sehat selalu dan terhindar dari virus itu.

Tags

Muhammad Tareh Aziz

Muhammad tareh aziz seorang jomblowan yang berstatus santri, lahir di Gresik, 5 september 1995. Alamat : bedanten bungah gresik.

Related Articles

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button
Close