Wayang Bambu: Kesenian Lokal yang Tersembunyi di Kota Bogor

Sumber gambar: republika.co.id

Indonesia memiliki keindahan budaya yang tak terhitung jumlahnya dan tak ternilai harganya. Kekayaan budaya sebagai kearifan lokal Nusantara memiliki keberagaman dalam jenis dan bentuk yang berbeda-beda, ada yang berupa kesenian, keterampilan, dan tradisi. Kultur yang dimiliki tidak hanya dijadikan sebagai aset berharga yang diwariskan leluhur saja, akan tetapi juga budaya berperan sebagai suatu identitas Bangsa Indonesia.

Akan tetapi, banyak dari generasi muda Indonesia saat ini cenderung tidak peduli, bahkan tidak mengenali apa yang seharusnya diketahui oleh seluruh generasi penerus bangsa. Dengan begitu, agar kebudayaan Indonesia tetap terpelihara hingga generasi mendatang, maka hal yang paling utama diperhatikan adalah dengan memperkenalkannya kembali sebagai upaya menumbuhkan kesadaran kaum muda terhadap budayanya sendiri, karena budaya merupakan identitas yang perlu dipelihara agar tetap hidup dan lestari.

Salah satu kesenian sebagai bagian dari keelokan budaya yang tersembunyi dan perlu kiranya diangkat eksistensinya ialah Wayang Bambu. Sangat disayangkan apabila kesenian wayang khas kota Bogor ini hilang dan punah begitu saja, tanpa bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang. Pasalnya, kesenian ini cukup digemari oleh masyarakat setempat khususnya warga Cijahe, hanya saja sebagian besar warga Kota Bogor masih belum familiar dengan kesenian tradisional ini.

Sejarah Wayang Bambu

Wayang Bambu merupakan kesenian yang berasal dari kelurahan Cijahe, kota Bogor provinsi Jawa Barat. Wayang Bambu sudah ada sejak tahun 2000, dibuat oleh Ki Drajat sebagai pencipta sekaligus dalang dari wayang tersebut di setiap pagelarannya. Jika dilihat dari penampilannya, Wayang Bambu hampir menyerupai wayang golek, mulai dari model pakaiannya hingga pernak-pernik yang dikenakan. Bedanya hanyalah bagian wajah wayang bambu polos, tidak berhiaskan mata dan mulut.

Hal yang unik dan membedakannya dari wayang-wayang pada umumnya ialah cerita didalamnya tidak menceritakan tentang Ramayana atau Mahabarata, namun yang termuat dalam pagelaran Wayang Bambu cenderung mengisahkan tentang fenomena sosial dan budaya yang sedang menjadi perbincangan masyarakat setempat. Bahasa yang digunakan dalam pagelaran wayang ini pun menggunakan bahasa Sunda khas Bogor yakni, “Basa Sunda Heuras Genggerong” dengan cengkok yang berbeda. Adapun penokohan dalam Wayang Bambu terdapat jenis tokoh antagonis dan protagonis yang diambil dari nama macam-macam jenis bambu, misalnya, Ksatria Andong, Ksatria Betung, Ksatria Kuning dan ksatria bambu lainnya.

Pembuatan Wayang Bambu

Wayang Bambu dibudidayakan dalam sebuah padepokan kecil yang tidak hanya sebagai wadah pagelaran, tetapi juga sebagai tempat produksi wayang itu sendiri. Wayang bambu dibuat dengan berbahan dasar bambu yang dianyam, kemudian dibentuk menjadi mahkota dan seluruh bagian tubuh wayang. Selanjutnya anyaman bambu yang sudah dibentuk, dipadukan dengan beberapa aksesoris yang biasa ditemukan juga dalam wayang ciri khas Sunda pada umumnya, seperti Wayang Golek yakni terdiri dari kain dan pernak-pernik untuk pakaian serta pelengkap hiasan lainnya.

Musik yang mengiringi di setiap pagelaran Wayang Bambu sangat unik, sebab wayang ini identik dengan bambu, maka alat musik yang mengiringinya pun tidak dengan iringan musik gamelan, tetapi dengan alat musik tradisional Sunda yang terbuat dari bambu. Alat-alat musik tersebut diantaranya, cilempung, dogdog, karinding, gongti, dan dilengkapi dengan gendang serta seruling bambu.

 Proses lahirnya kesenian Wayang bambu membutuhkan waktu yang panjang. Maka, untuk tetap mempertahankan eksistensi kesenian ini, diperlukannya generasi yang meneruskan pelestariannya agar kesenian ini tidak berujung punah. Dengan cara regenerasi dan mempelajari kembali, dari mulai pembuatan wayang, pagelaran, hingga profesi dalang wayang Bambu itu sendiri.

Saat ini, Padepokan Wayang Bambu belum dapat melaksanakan kembali pagelaran seperti biasanya, diakibatkan pandemi Covid-19 yang melanda pada beberapa waktu lalu. Hal ini menjadi salah satu hambatan dalam pagelaran seni dan produksi Wayang Bambu. Namun upaya akan terus dilakukan oleh para penggiat seni Wayang Bambu tersebut seiring memulihnya kondisi pandemi Covid-19. Tentunya pagelaran ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan masyarakat setempat serta perhatian dari pemerintah daerah Kota Bogor beserta dinas pariwisata dan kebudayaan.

Pemerintah Kota Bogor harus memperhatikan kembali perkembangan dan pergerakan para seniman dalam merintis seni budaya lokal, khususnya wayang bambu di Kota Bogor. Demi menjaga keberlangsungan wayang bambu, maka diharapkan lebih aktif dalam memberikan dukungan baik secara materil maupun non materil. Dengan begitu, kesenian wayang bambu ini dapat menjadi manfaat dari nilai-nilai yang dikembangkan, juga sebagai media pembelajaran bagi generasi yang akan datang.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Giza Gasica 1 Article
Lahir di Bogor, 17 Oktober 1999. Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hobi kadang menulis, kadang ngopi.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.