Yang Dipamerkan Itu Bukan Rezeki

Selepas salat Asar tadi, saya diminta teman untuk membacakan beberapa nazam yang ada di kitab Tuhfath al_Murid ‘ala Jauhara at_Tauhid dengan beberapa maknanya. Karena memang mulai hari ini santri-santri ada kegiatan ulangan tengah semester. Ulangan tersebut berbentuk lisan ataupun sorogan (baca kitab di depan guru).

Di dalam kitab tersebut ada satu bait nazam yang mengingatkan memori saya ketika masih mondok di Kudus akan ‘ibaroh yang diungkapkan oleh KH Sya’roni Kudus. ‘Ibarah tersebut sama persis dengan yang ada di kitab ini. Nazam tersebut berkenaan dengan esensi rezeki. Mungkin lewat teman-teman saya, beliau menegur saya yang lupa akan esensi rezeki.

والرزق عند القوم ما به انتفع # وقيل لا بل ما ملك وما اتبع

 “Sebagian golongan (Ahlussunah waljamaah) mengatakan, bahwa rezeki adalah apa saja yang bisa diambil manfaatnya. Sedang golongan yang lain (Mu’tazilah) mengatakan bahwa rezeki adalah apa saja yang dimiliki meski tidak dimanfaatkan“.

Bagi santri sudah jelas, pendapat mana yang diikuti. Rezeki adalah yang bisa diambil manfaatnya, punya harta dibelanjakan untuk makan, beli baju, sedekah, infak dan lain-lain itu yang dinamakan rezeki. Punya harta tapi tidak diapa-apakan, cuma ditabung, disimpan di bank, bahkan sampai triliunan dan tidak diambil manfaatnya maka bukan dinamakan rezeki.

Tidak hanya itu saja, teman bisa juga dikatakan sebagai rezeki selama ia bermanfaat. Sedangkan teman yang tidak bermanfaat itu bukan termasuk rezeki bagi kita. Dengan kata lain, memanfaatkan teman adalah usaha untuk menjadikan pemberian Tuhan yang berupa teman, menjadi sebuah rezeki. Hehehe.

Imam Malik berpendapat bahwa rezeki atau kepemilikan tersebut tidak sempurna. Bahkan Imam Syafi’i juga mengatakan “Tiada kepemilikan bagi seorang hamba“. Karena memang hakekatnya semua ini milik Allah.

Tapi bukan berarti lalu Anda boleh mengghasab dan mengklaim hak milik orang lain. Apalagi mengakuisisi sesuatu kepunyaan orang, lebih-lebih mengakuisisi istri orang lain, walaupun tidak begitu dimanfaatkan. Hehehe.

Maka carilah rezeki untuk dimanfaatkan, bukan disimpan, ditumpuk, dan dipamerkan saja (seperti para affiliator binary option itu). Ingat dimanfaatkan, bukan dipermainkan, dibuang-buang, ataupun dihambur-hamburkan.


-Bantu Rembukan.com agar bisa terus menjadi media yang merangkul penulis-penulis dari desa, dengan cara traktir kami kopi di sini

About Nurul Hana Mustofa 4 Articles
Saya asal Palembang, pernah nyantri di Kudus. Sedang nyantri di Malang dan menyelesaikan studi master di MPBA UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Be the first to comment

Monggo Komentare

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.